Selasa, 28 April 2026

(4) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Simpan kebohonganmu itu, Nona! Jangankan melakukan hal sejauh itu, mengenal namamu saja aku tidak pernah!"


Suaraku menggelegar tegas, membelah ketegangan yang seketika menguasai ruang tamu. Nafasku memburu menahan amarah yang nyaris tak terbendung.


Di sebelahku, cengkeraman tangan Fitri terlepas. Istriku melangkah mundur dengan wajah seputih kapas. Matanya menatap nanar pada perut datar wanita asing di depan kami. 


Air mata yang baru saja reda kini kembali menganak sungai di pipi Fitri. Bibirnya bergetar hebat, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun akibat terkejut yang luar biasa.


Melihat Fitri hancur seperti itu, hatiku seakan diiris sembilu. 


Aku langsung menarik pinggang Fitri, merengkuhnya erat ke dalam pelukanku untuk menyalurkan kekuatan. Aku tidak akan membiarkan sandiwara ini meruntuhkan mental istriku.


"Mas, kamu tega sekali!" Wanita bergaun ketat itu tiba-tiba menangis tersedu-sedu, menampilkan raut wajah sedih yang sangat dibuat-buat. 


"Kamu lupa janjimu? Kamu bilang kamu lelah dengan istrimu yang belum bisa memberimu keturunan, lalu kamu berjanji akan bertanggung jawab kalau aku hamil!"


"Hentikan omong kosong ini!" tegasku seraya menatapnya tajam. 


"Aku bahkan tidak kenal siapa dirimu! Enam bulan aku menikah, setiap hari aku pulang tepat waktu dan menghabiskan hari libur hanya bersama istriku. Jangan pernah mencoba merusak rumah tanggaku dengan fitnah ini!"


"Putra! Jaga bicaramu!" Ibu tiba-tiba menyela, melangkah maju dan langsung berdiri melindungi wanita asing itu. 


"Dia sedang mengandung darah dagingmu, cucu Ibu! Laki-laki mana ada yang mau mengaku kalau ketahuan salahnya?! Ibu tidak sudi cucu Ibu terlantar di luar sana hanya karena kamu membela perempuan yang belum bisa memberimu anak ini!"


Ibu menatap tajam ke arah Fitri, sengaja menekan kata-katanya untuk menyudutkan istriku. 


Dan itu berhasil. Fitri terisak di dadaku, tangannya meremas kemejaku dengan kuat.


"Mas, apa benar?" lirih Fitri dengan suara parau yang menyayat hati.


"Demi Allah, Fit. Setitik pun Mas tidak pernah mengkhianatimu. Percaya sama Mas, ini semua murni fitnah dan jebakan," ucapku sungguh-sungguh, menangkup wajah Fitri dan menatap matanya dalam-dalam. 


"Mas adalah milikmu, selamanya."


Mendengar itu, kulihat raut wajah Ibu dan wanita itu menegang sesaat. 


Jelas sekali ini di luar prediksi mereka. Mereka pasti berpikir aku akan langsung panik, goyah, atau termakan tuduhan ini. 


Sayangnya, mereka lupa bahwa aku mendengar dengan jelas percakapan telepon Ibu semalam.


Wanita itu buru-buru membuka tasnya, mengeluarkan sebuah amplop rumah sakit dan dua buah alat tes kehamilan bergaris dua merah.


"Ini buktinya! Hasil pemeriksaan dan tes ini nyata! Kalau kamu tidak mau tanggung jawab, aku tidak akan pergi dari rumah ini!" ancam wanita itu seraya memeluk kopernya.


Ibu langsung memeluk bahu wanita itu dengan raut wajah iba. 


"Astaga, Sayang, jangan menangis! Kasihan anak di perutmu! Kamu tenang saja, mulai hari ini kamu tinggal di sini! Kamar tamu di sebelah kamar Ibu kosong, kamu akan tidur di sana dan Ibu yang akan merawat kandunganmu!"


Ibu lalu menatapku dengan sorot mata menantang. 


"Kalau kamu berani mengusirnya, langkahi dulu Ibumu ini, Putra! Ibu yang berkuasa di rumah ini!"


Aku menatap dua wanita beda generasi di hadapanku ini dengan senyum tipis. 


Skenario yang sangat rapi. Menumpang di rumah ini agar bisa menekan mentalku dan Fitri setiap hari, membuat seolah rumah tangga kami hancur, lalu perlahan menyingkirkan istriku.


"Baik," ucapku tenang, membuat tangisan Fitri semakin keras karena mengira aku menyerah. 


Aku mengusap puncak kepala Fitri untuk menenangkannya, lalu menatap Ibu dengan tatapan tajam tak terbantahkan. 


"Silakan dia tinggal di kamar tamu. Tapi Ibu harus ingat satu hal ..."


Aku sengaja melangkah maju, mendekatkan wajahku tepat ke samping telinga Ibu.


"Silakan nikmati sandiwara kalian di rumah ini, Bu. Tapi bersiaplah," bisikku pelan, memastikan suaraku hanya terdengar oleh wanita yang melahirkanku itu. 


"Karena kamera pengawas kecil yang baru kupasang di sudut dapur kemarin sore, sudah merekam dengan sangat jelas obrolan telepon Ibu semalam tentang rencana tes kehamilan palsu ini."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar