"Kalian mau menyita seluruh asetku?! Kalian pikir aku akan menyerahkan hasil kerja kerasku selama belasan tahun kepada bocah kemarin sore ini begitu saja?!"
Suara Paman Darmawan menggelegar, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak.
Ia menepis kasar tangan dua pria berjas rapi, tim auditor khusus dan pengacara dari perusahaan pusat, yang baru saja menyodorkan dokumen penyitaan aset secara paksa kepadanya.
Pria paruh baya itu terengah-engah, menolak menerima kenyataan bahwa istananya telah runtuh dalam sekejap mata.
Mas Deon melangkah pelan menaiki panggung, berdiri menjulang di hadapan pamannya dengan aura penguasa yang tak terbantahkan.
"Hasil kerja keras?" Mas Deon mengulang kalimat itu dengan nada rendah yang mengiris tajam bak sembilu.
"Menarik sekali kau berani menyebut hasil pencurian dana perusahaan ibuku selama lima belas tahun sebagai sebuah kerja keras, Paman."
"Itu fitnah! Aku membangun tempat ini dari nol!" bantah Paman Darmawan, keringat dingin semakin deras membasahi pelipisnya. Ia menoleh panik ke arah kerumunan tamu undangan yang mulai berbisik-bisik.
"Kalian semua saksinya! Bantu aku panggil petugas keamanan luar untuk mengusir mereka! Jika kalian membantuku, aku akan memberikan potongan harga fantastis untuk semua kerja sama bisnis kita!"
Hening. Ratusan tamu elit itu saling pandang, namun tak satu pun yang beranjak dari tempatnya untuk membantu.
Alih-alih membela, mereka justru melangkah mundur, menjauhi Paman Darmawan seolah pria itu menularkan nasib buruk.
Seorang pengusaha besar yang tadinya tertawa paling keras menyanjung Paman Darmawan kini berdeham pelan, membetulkan letak dasinya.
"Maaf, Darmawan. Berbisnis dengan seseorang yang baru saja kehilangan seluruh hartanya dan terbukti menggelapkan dana bukanlah investasi yang menguntungkan. Terlebih lagi ..."
Pengusaha itu menundukkan kepalanya, menatap Mas Deon penuh hormat.
"Tuan Muda Deon adalah pemegang kendali utama yang sesungguhnya sekarang. Kami tentu memilih setia pada pemilik takhta yang sah."
Dada Paman Darmawan naik turun dengan cepat.
Pengkhianatan dari rekan-rekan bisnis yang selama ini ia traktir dan ia sanjung menjadi pukulan telak yang meruntuhkan sisa-sisa kewarasannya. Bibirnya bergetar tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
"Serahkan jas, jam tangan, dan kunci mobil yang Anda pakai saat ini, Tuan Darmawan," ucap salah satu pengacara dengan nada datar dan tegas.
"Sesuai putusan pengadilan niaga yang telah disahkan, seluruh aset yang menempel di tubuh Anda saat ini dibeli menggunakan uang perusahaan, dan harus dikembalikan detik ini juga."
"Tidak! Kalian tidak bisa melakukan ini padaku!" Paman Darmawan meronta.
Namun, tanpa perlu Mas Deon turun tangan, dua pengawal berbadan tegap langsung maju dan melucuti jas mahal serta perhiasan emas dari tubuh pria paruh baya itu di hadapan para tamu.
Tanpa perlawanan berarti, pria yang lima menit lalu merasa menjadi raja dunia itu kini hanya berdiri gemetar dengan kemeja putih kusut dan keringat bercucuran. Ia dipermalukan di depan mata ratusan rekan bisnisnya sendiri.
"Turunlah ke lobi, Paman. Mulailah pekerjaan barumu mengepel lantai dari sana, atau pintu keluar sudah terbuka lebar untuk menyambutmu kembali ke jalanan," perintah Mas Deon sedingin es.
Mas Deon membalikkan badannya, berjalan turun dari panggung dan kembali meraih tanganku dengan lembut. Ia menuntunku berbalik, berniat meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi aura kekalahan Paman Darmawan.
Kukira semuanya akan berakhir dengan kemenangan telak dan elegan ini. Paman Darmawan tampak berjalan gontai menuruni panggung dengan tatapan kosong, hancur lebur tanpa sisa kehormatan.
Namun, baru tiga langkah pria itu berjalan menjauh, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Paman Darmawan membalikkan badannya, menatap punggung suamiku lekat-lekat.
Tawanya tiba-tiba meledak. Tawa yang sangat sumbang, menggema di seluruh penjuru ballroom, sarat akan keputusasaan dan kelicikan yang belum sepenuhnya padam.
"Rampas saja semua hartaku malam ini, Deon! Nikmati kemenangan sementaramu!" teriak Paman Darmawan dengan suara serak, membuat langkah kami berdua terhenti seketika.
"Tapi ketahuilah satu rahasia ini, Ibumu tidak pernah menderita penyakit jantung! Seseorang telah sengaja menukar obatnya dengan racun selama bertahun-tahun, dan pelaku yang sesungguhnya, masih berkeliaran bebas dan sedang menatapmu dari dekat!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar