Selasa, 28 April 2026

(10) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Lima miliar rupiah melayang hanya untuk membeli perhatian dari pria pecundang yang dulu mencampakkan istriku? Luar biasa, Mbak Rini. Seleramu dalam memilih laki-laki ternyata semurah harga dirimu saat ini."


Suaraku memecah keheningan ruang keluarga, menggema memantul di dinding pualam.


Mbak Rini, yang sedang mengepel lantai tak jauh dari tempat kami berdiri, sontak membeku. 


Gagang pel di tangannya terlepas, jatuh menimbulkan bunyi nyaring. Wajahnya yang sudah lelah kini berubah sepucat mayat. Matanya terbelalak ngeri menatap tablet di tangan Galen.


Sari menahan napas di sisiku. Ia menatapku, lalu menatap Galen dengan raut wajah tak percaya. 


"Maksud Mas ... Rendi? Pria yang ditraktir Mbak Rini itu, Rendi mantan tunanganku?"


"Tepat sekali, Nyonya Sari," jawab Galen dengan nada profesional yang tenang. "Data perbankan menunjukkan Nyonya Rini membelikan sebuah unit apartemen mewah di kawasan elit dan satu unit mobil sport atas nama Rendi Pratama. Ironisnya, semua fasilitas itu dibeli menggunakan uang hasil pinjaman yang kini surat utangnya dipegang penuh oleh Tuan Danu."


Aku tertawa sinis, merengkuh pinggang Sari semakin erat. 


"Ternyata selama ini kakakku yang terhormat rela menumpuk utang miliaran dan menelantarkan darah dagingnya sendiri, hanya demi membiayai gaya hidup seorang pria pengangguran."


"T-tutup mulutmu, Danu!" jerit Mbak Rini tiba-tiba. Urat lehernya menonjol, ia menunjuk ke arah Sari dengan jari gemetar. 


"Kamu tidak tahu apa-apa! Rendi itu sangat mencintaiku! Dia bilang perempuan miskin dan menyedihkan seperti istrimu ini tidak pantas untuknya! Aku jauh lebih cantik, lebih kaya, dan lebih segalanya dari Sari!"


Ibuku yang sedang mengelap meja di sudut ruangan hanya bisa menunduk semakin dalam, menutupi wajahnya yang merah padam karena malu melihat kelakuan anak perempuan kebanggaannya.


Sari tidak terpancing emosi. Ia justru menatap Mbak Rini dengan pandangan penuh belas kasihan, senyum tipis terukir di bibirnya. 


"Mbak Rini rela berutang miliaran hanya demi membuktikan bahwa Mbak lebih baik dariku di mata seorang pria yang memujamu karena harta? Mbak, Rendi meninggalkanku saat keluargaku bangkrut dulu. Laki-laki seperti itu tidak mencintai siapa pun selain uang yang ada di dompetmu."


"Bohong! Kamu cuma iri karena dia sekarang memujaku!" racau Mbak Rini histeris, air matanya menetes membasahi seragam asisten rumah tangganya.


Aku menghela napas panjang, merasa muak dengan drama murahan ini. 


Kupeluk Sari dari belakang, menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya sejenak untuk mencari ketenangan, mengabaikan kehadiran dua wanita berstatus pekerja di ruangan itu.


"Sayangku, bidadariku ini terlalu mahal untuk dibandingkan dengan wanita yang bisa diperas hartanya oleh pria pemalas," bisikku lembut, sengaja membiarkan suaraku terdengar oleh Mbak Rini. 


"Galen."


"Siap, Tuan Danu," sahut Galen cepat.


"Karena uang yang dipakai untuk membeli apartemen dan mobil sport itu berasal dari utang yang kini menjadi milikku, itu artinya semua aset tersebut adalah milikku secara hukum. Bekukan apartemennya dan tarik mobil itu hari ini juga. Kosongkan isinya, jangan biarkan pria itu membawa selembar benang pun dari propertiku."


"Jangan, Danu! Kumohon jangan! Rendi pasti akan meninggalkanku kalau asetnya ditarik!" 


Mbak Rini merosot lemas ke lantai, meratap histeris dengan wajah penuh keputusasaan. Tangannya mencoba meraih kakiku, namun aku segera melangkah mundur.


"Itu bukan urusanku. Sekarang kembali selesaikan pekerjaanmu, jangan sampai gajimu bulan ini kupotong lagi untuk mencicil utangmu," ucapku dingin, tak menaruh sedikit pun simpati.


***


Sekitar dua jam kemudian, saat aku dan Sari sedang menemani Bintang mewarnai gambar di taman belakang yang asri, langkah cepat Galen kembali menghampiri kami. Asisten pribadiku itu menyunggingkan senyum penuh arti.


"Ada laporan baru, Galen?" tanyaku santai sambil membelai rambut Bintang.


"Eksekusi berjalan lancar, Tuan. Pihak kami sudah memintanya keluar dari apartemen dan menyita kunci mobilnya di depan lobi, disaksikan banyak orang," lapor Galen rapi.


Lalu, ia melirik sekilas ke arah jendela dapur di mana Mbak Rini sedang mencuci piring sambil terus sesenggukan. Mata Galen kembali menatapku dan Sari secara bergantian.


"Tuan Danu, pria itu kini sedang berteriak-teriak histeris di depan gerbang utama perumahan karena tak terima semua fasilitas mewahnya ditarik. Haruskah saya menyuruh pihak keamanan mengusirnya dengan paksa, atau Nyonya Besar ingin menyapa langsung mantan tunangannya yang kini tak lebih berharga dari debu jalanan itu?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar