Kamis, 09 April 2026

Cerita Viral! Kutabrakkan Mobilku ke Tenda Pernikahan Istriku dan Selingkuhannya

 


"Cabut semua akses keuangannya detik ini juga. Aku sendiri yang akan mengantarkan kado terindah untuk pesta pernikahan mereka."


Aku mematikan sambungan telepon sepihak, lalu melempar ponsel ke kursi penumpang. 


Di depanku, berjarak kurang dari lima ratus meter, berdiri sebuah tenda pernikahan super mewah dengan dominasi warna putih dan emas. 


Karpet merah tergelar panjang menyambut para tamu VIP, sementara alunan musik romantis terdengar mengalun hingga ke jalan raya.


Di sanalah istri sahku—wanita yang belum resmi kuceraikan di pengadilan—sedang bersanding dengan selingkuhannya.


Tanganku mencengkeram erat kemudi mobil pikap butut yang selama tiga tahun ini selalu dihina olehnya. 


Tanpa ragu sedikit pun, aku menginjak pedal gas dalam-dalam. Mesin tua itu menggeram kasar, melaju kencang menerobos barikade keamanan.


Brakkk!


Suara dentuman keras memecah suasana pesta. Mobilku menghantam pilar utama tenda. 


Jeritan panik seketika bersahutan. Tiang penyangga patah, menjatuhkan lampu kristal imitasi dan menghancurkan dekorasi bunga mawar putih yang berhamburan tak berbentuk di atas karpet merah. 


Semuanya kacau balau dalam hitungan detik, tepat seperti hatiku saat memergoki mereka berdua di hotel bulan lalu.


Aku mematikan mesin, lalu membuka pintu mobil yang sudah penyok di bagian depan.


"Dirga! Apa yang kamu lakukan, gila?!"


Jeritan melengking itu berasal dari Karin, istriku. Dia berlari mendekat sambil mengangkat gaun pengantin mewahnya yang kini kotor terkena debu dan puing dekorasi. Wajah cantiknya memerah padam menahan amarah. 


Di belakangnya, Reno—pria selingkuhannya yang memakai setelan jas mahal—mengikuti dengan wajah tak kalah murka.


"Kamu sudah tidak waras, ya?!" bentak Reno, menunjuk tepat ke depan wajahku. "Hanya karena Karin meninggalkan pria miskin sepertimu, kamu mau mengacaukan hari bahagia kami?!"


Aku bersandar santai di kap mobil pikapku yang berasap, melipat tangan di dada sambil menatap mereka bergantian. Tidak ada sedikit pun raut penyesalan di wajahku.


"Hari bahagia?" Aku tersenyum miring. "Aku hanya datang untuk memberikan ucapan selamat. Lagipula, surat cerai kita saja belum keluar dari pengadilan, Karin. Cepat sekali kamu mencari pengganti penyedia makanmu."


"Tutup mulutmu, pria tidak tahu diri!" Karin maju selangkah, menatapku dengan jijik dari atas sampai bawah. 


"Aku muak hidup menderita dengan pria yang hanya bisa mengendarai mobil rongsokan sepertimu! Kehadiranmu di sini cuma membuktikan betapa menyedihkannya hidupmu yang tidak bisa move on dariku!"


Para tamu undangan mulai berbisik-bisik, membentuk lingkaran menonton drama kami. 


Beberapa petugas keamanan gedung tampak berlari mendekat, bersiap menyeretku keluar. Reno tersenyum meremehkan, merangkul pinggang Karin dengan posesif di hadapanku.


"Bawa pria gembel ini ke kantor polisi sekarang juga!" perintah Reno pongah kepada para petugas keamanan. 


"Biar dia membusuk di penjara karena merusak properti orang lain!"


"Kamu pikir kamu siapa, hah?!" jerit Karin menambahkan, urat lehernya sampai menegang. "Ganti rugi tenda dan dekorasi ini harganya puluhan miliar! Jual seluruh organ tubuhmu pun tidak akan pernah cukup untuk membayarnya, pria miskin!"


Aku terkekeh pelan. Tawa yang awalnya pelan, perlahan berubah menjadi tawa lepas yang membuat dahi Karin dan Reno berkerut bingung. 


Kurapikan kerah kemeja lusuhku perlahan, lalu menatap tajam tepat di manik mata wanita yang berstatus istriku itu.


"Siapa bilang aku harus memikirkan ganti rugi?" ucapku dengan nada suara rendah, namun terdengar jelas oleh semua orang. 


"Kalian sepertinya terlalu sibuk berselingkuh, sampai lupa bertanya pada manajer acara ini, siapa sebenarnya pemilik tunggal dari lahan dan seluruh vendor mewah yang kalian sewa hari ini."


***


Bab 2


"Pemilik tunggal? Otakmu pasti sudah terbentur setir mobil rongsokanmu itu sampai kau berhalusinasi tingkat dewa, Dirga!" tawa Reno meledak, menggema di tengah kekacauan tenda yang baru saja kuhancurkan.


Tawanya menular pada beberapa tamu undangan yang sedari tadi menonton kami. Mereka berbisik-bisik merendahkan, menatapku seolah aku adalah badut yang sedang melakukan pertunjukan komedi di tengah pesta pora.


"Jangan membuatku semakin malu karena pernah menikah denganmu!" Karin melangkah maju, telunjuknya yang berhias kuku palsu berkilau menunjuk tepat ke hidungku. 


"Dengar ya, pria halu! Vendor acara ini dari Mahakarya Jaya, perusahaan konglomerat nomor satu di kota ini. Lahan ini milik elit! Kamu pikir dengan memakai kemeja lusuh begitu ada yang percaya omong kosongmu? Sadar diri!"


Aku sama sekali tidak terpancing. Tanganku dengan tenang menepuk-nepuk debu yang menempel di lenganku, lalu menatap mereka dengan sorot meremehkan.


"Seret dia keluar sekarang juga!" perintah Reno semakin arogan pada empat petugas keamanan berbadan tegap. "Jangan sampai kotoran dari bajunya menodai jas seharga ratusan juta milikku ini!"


Para petugas itu baru saja mengambil langkah mendekat ke arahku, ketika tiba-tiba suara derit rem mobil yang melengking mengalihkan perhatian semua orang.


Tiga mobil SUV hitam mengilap berhenti mendadak tepat di belakang pikap bututku. Pintu terbuka serentak. 


Dari mobil paling depan, turun seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas rapi. Napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi keningnya. 


Dia berlari terburu-buru melewati karpet merah yang sudah koyak, mengabaikan tatapan bingung para tamu.


Mata Reno langsung berbinar mengenalinya. 


"Ah, Pak Hendra! Kebetulan sekali Anda datang selaku General Manager Mahakarya Jaya! Lihat, ada gembel gila yang merusak properti mahal Anda. Tolong segera penjarakan—"


Ucapan Reno terputus di udara.

Alih-alih menyalaminya, Pak Hendra justru mendorong bahu Reno dengan kasar hingga pria itu terhuyung ke belakang. 


Pak Hendra melangkah ke hadapanku, merapikan jasnya sejenak, lalu membungkuk penuh hormat—hampir sembilan puluh derajat.


"Mohon ampun atas kelalaian luar biasa dari tim keamanan kami, Presdir Dirgantara. Apa Anda terluka?" Suara Pak Hendra bergetar hebat, dipenuhi ketakutan yang kentara.


Keheningan total seketika menyergap lokasi itu. Suara musik romantis yang masih mengalun dari pengeras suara terasa sangat kontras dengan suasana tegang yang mencekik.


Rahang Karin seolah lepas dari tempatnya. Matanya membelalak lebar, menatapku dan Pak Hendra silih berganti. 


"P-Presdir? Pak Hendra, Anda pasti salah minum obat! Dia ini Dirga! Pria miskin yang cuma sopir serabutan! Suami yang bahkan tidak mampu membelikanku tas bermerek!"


Pak Hendra menegakkan tubuhnya, menatap Karin dengan sorot mata sedingin es. 


"Jaga kelancangan mulut Anda! Beliau adalah Tuan Dirgantara, pewaris tunggal Mahakarya Group sekaligus pemilik sah lahan ini. Kalianlah yang telah menyewa properti beliau!"


Wajah Karin seketika pucat pasi, nyaris transparan. Tubuhnya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada tiang tenda yang masih berdiri agar tidak ambruk. 


Reno tak kalah hancurnya; kakinya seakan terpaku di tanah, mulutnya membuka-tutup tanpa suara, persis seperti ikan kekurangan air.


Tepat pada detik itu, ponsel di saku jas Reno berdering nyaring. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat panggilan tersebut.


"H-Halo, Papa?" suara Reno terbata-bata. Sedetik kemudian, matanya melotot sempurna. 


"Apa?! Perusahaan kita dibekukan? Semua aset disita dan investor utama memutus kontrak detik ini juga?! T-Tapi kenapa, Pa?!"


Aku melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. 


Kurebut ponsel itu dari tangan Reno yang lemas, lalu mematikan panggilannya. Aku menepuk pelan pipinya yang kini sedingin es, menatap lurus ke dalam matanya yang dipenuhi teror.


"Sudah terima kabar kebangkrutannya?" bisikku tepat di depan wajahnya, sebelum suaraku mengeras dan menggema ke seluruh penjuru.


"Nikmati pesta pora kalian di atas puing-puing ini. Karena mulai detik ini, kalian berdua bahkan tidak akan mampu membeli sebotol air mineral tanpa seizinku!"


***


Bersambung... Next? 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...