"Mas! Kenapa semua kartu ATM-ku ditolak?! Kamu sengaja mau bikin aku terhina di depan teman-teman arisanku, hah?!"
Suara melengking Alisa menggema di seluruh penjuru ruang tamu, bersamaan dengan bunyi bantingan tas branded seharga ratusan juta ke atas meja kaca. Wajah cantiknya yang dipulas riasan tebal tampak merah padam menahan marah.
Aku yang sedang duduk bersandar di sofa hanya menatapnya dengan tenang.
Kuletakkan cangkir kopi di tanganku secara perlahan, menyembunyikan senyum sinis yang hampir saja mengembang.
"Mungkin ada gangguan sistem dari bank pusat. Atau, limitnya memang sudah habis," jawabku santai.
"Alasan! Bulan ini aku baru pakai lima ratus juta, Mas! Masa suamiku yang seorang direktur utama perusahaaan properti terbesar pelit begini? Pokoknya aku minta kartu yang baru sekarang juga. Aku harus kembali ke butik!" bentak Alisa lagi, mengulurkan tangannya dengan gaya arogan yang selalu memuakkan.
Aku menatap tangan itu lekat-lekat. Tangan yang sama, yang terekam kamera detektif sewaanku sedang mengalungkan pelukan mesra pada leher seorang instruktur gym di sebuah hotel bintang lima tadi siang.
Seketika, rasa jijik mengaduk-aduk perutku. Istri yang selama ini kuratukan, yang kuberi segala kemewahan, ternyata asyik membagi kehangatan di ranjang pria miskin tak tahu diuntung.
"Uang cash di brankas masih ada. Pakai saja itu dulu. Aku masih banyak pekerjaan," sahutku dingin, bangkit dari sofa dan berjalan meninggalkannya.
"Mas Devan! Kamu benar-benar keterlaluan!" jerit Alisa kesal. Tapi ia tak mengejarku. Tentu saja, ia lebih memilih berlari ke arah brankas demi memuaskan gaya hidup mewahnya.
Begitu pintu ruang kerjaku tertutup rapat, ekspresi tenagku langsung lenyap. Berganti dengan tatapan tajam penuh perhitungan.
Kubuka laptopku, memastikan sekali lagi bahwa seluruh akses keuangan utama, kartu kredit, dan aset atas nama Alisa telah resmi kublokir dan kutarik kembali.
Biar saja dia menikmati sisa uang tunai itu untuk bersenang-senang dengan selingkuhannya hari ini. Karena mulai besok, dia akan jatuh miskin tak tersisa.
Mataku beralih pada sebuah map cokelat di atas meja. Di dalamnya terdapat dokumen perceraian yang sudah kutandatangani, serta sebuah foto usang seorang wanita sederhana yang sedang tersenyum tipis.
Kanaya.
Dia adalah kakak tiri Alisa. Wanita malang yang diusir dengan kejam dari rumah warisan ayahnya sendiri oleh Alisa dan Ibu Mertua.
Kanaya dibuang tanpa uang sepeser pun hanya karena dia bukan anak kandung, dipaksa hidup melarat sementara Alisa merebut semua haknya.
Dulu aku diam saja, termakan hasutan licik Alisa. Tapi sekarang, semuanya akan berubah.
Tiba-tiba, dering ponselku memecah kesunyian ruang kerja. Telepon dari Dimas, tangan kanan sekaligus pengacara kepercayaanku.
"Bagaimana, Dimas?" tanyaku begitu panggilan tersambung.
"Gugatan cerai Anda sudah didaftarkan ke pengadilan agama secara rahasia, Pak Devan. Pemindahan seluruh aset atas nama Anda ke perusahaan induk juga sudah selesai tanpa sepengetahuan istri Anda," lapor Dimas tegas.
"Bagus." Aku menyeringai puas. "Lalu, bagaimana dengan Kanaya?"
"Saya sudah menemukan alamat rumah susun tempat kakak tiri istri Anda itu tinggal. Tapi, Pak, ada hal tak terduga yang baru saja saya temukan saat menyelidiki latar belakang Nona Kanaya. Kakak kandungnya yang selama ini disembunyikan ternyata adalah ..."
"Aku tidak peduli siapa keluarganya atau dari mana asalnya," potongku dingin dan penuh penekanan.
"Siapkan cincin berlian paling mahal hari ini juga. Besok, aku akan melamarnya dan memastikan Alisa berlutut mengemis di kaki wanita yang selama ini dia anggap sampah."
***
"Anda salah alamat, Tuan Devan yang terhormat. Tempat sampah ada di ujung lorong, bukan di balik pintu kamar saya. Silakan pergi sebelum saya panggil keamanan."
Kalimat dingin dan menusuk itu menyambutku begitu pintu kayu yang catnya sudah mengelupas di depanku terbuka.
Kanaya berdiri di ambang pintu, menatapku dengan sorot mata penuh permusuhan. Penampilannya sangat sederhana, hanya mengenakan kaus kebesaran dan celana kain yang mulai memudar warnanya, sangat kontras dengan kemewahan yang melekat pada saudari tirinya, Alisa.
Namun, alih-alih mundur, aku justru melangkah maju, menahan daun pintu itu dengan tanganku.
"Aku tidak datang untuk mengais sampah, Kanaya. Aku datang untuk memungut berlian yang dengan bodohnya dibuang ke dalam lumpur oleh keluargamu sendiri," balasku tak kalah tajam.
Kanaya tersenyum sinis, sebuah senyuman yang menyiratkan luka yang sangat dalam.
"Berlian? Menarik sekali mendengarnya dari mulut pria yang membiarkan istrinya mengusirku dari rumah peninggalan ayahku sendiri tanpa membawa sepeser pun. Apa maumu, Devan? Alisa belum puas melihatku tinggal di rusun kumuh ini?"
"Aku sudah memblokir seluruh akses keuangannya hari ini, dan gugatan ceraiku sedang diproses di pengadilan," ucapku lugas, menatap langsung ke dalam manik mata cokelat terangnya.
Untuk sesaat, aku terpaku. Ada getar aneh yang tiba-tiba menyusup ke dadaku saat melihat sorot mata itu.
Sebuah dejavu yang samar, seolah aku pernah menatap sepasang mata yang sama belasan tahun lalu, di tempat yang sangat jauh, di sebuah masa lalu yang nyaris terlupakan.
Tapi ingatan itu terlalu buram, terpotong oleh kenyataan di depanku. Aku segera menepis perasaan konyol itu. Tidak mungkin.
"Kau ... menceraikan Alisa?" Suara Kanaya sedikit bergetar, namun kewaspadaannya sama sekali tidak menurun.
"Lalu apa urusannya denganku? Kau mau minta belas kasihan?"
Aku merogoh saku jas, mengeluarkan kotak beludru kecil berwarna biru tua, lalu membukanya tepat di depan wajahnya. Sebuah cincin berlian murni berkilau memantulkan cahaya temaram dari lampu lorong.
"Menikahlah denganku besok pagi," ucapku penuh penekanan.
"Jadilah Nyonya Devan Pratama yang baru. Kita hancurkan Alisa dan Ibu Mertuamu perlahan-lahan. Aku butuh pion untuk membalas pengkhianatannya, dan kau butuh kekuasaan untuk mengambil kembali hakmu. Kita impas."
Kanaya terdiam cukup lama. Matanya menatap cincin bernilai miliaran rupiah itu, lalu perlahan beralih menatap wajahku.
Hening menguasai lorong sempit itu, sebelum akhirnya dia mengulurkan tangannya yang sedikit kasar karena bekerja keras, dan mengambil cincin itu dari kotaknya.
"Pion, ya?" gumamnya pelan, mengukir senyum misterius yang tak bisa kuartikan. "Baik. Aku terima tawaranmu, Devan."
Langkah kaki Devan terdengar semakin menjauh menuruni tangga rusun.
Begitu sosok pria arogan itu hilang dari pandangan, raut wajah Kanaya yang sedari tadi terlihat rapuh sekaligus defensif, seketika berubah.
Sorot matanya menajam, sangat dingin dan penuh perhitungan.
Ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat, menguncinya, lalu berjalan menuju sudut ruangan. Diambilnya sebuah ponsel lipat usang yang sengaja disembunyikan di balik tumpukan buku tua.
Jari lentiknya dengan cepat menekan nomor kontak yang hanya terdiri dari satu inisial huruf.
Panggilan itu dijawab pada dering kedua.
"Halo, Kak," sapa Kanaya pelan, jemarinya memutar-mutar cincin berlian pemberian Devan dengan santai.
"Bagaimana pertemuannya, Adikku?" Suara berat dan berwibawa dari seberang sana terdengar menggema.
"Semuanya berjalan persis seperti rencanamu," ucap Kanaya, sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis.
"Devan baru saja melamarku. Dan hal yang paling lucu adalah, pria itu masih sebodoh dulu. Dia sama sekali tidak ingat siapa aku di masa lalunya, dan tentu saja, dia tidak punya bayangan sedikit pun, betapa hancur hidupnya nanti saat dia tahu siapa kau yang sebenarnya, Kak."
***
Bersambung....


Tidak ada komentar:
Posting Komentar