Jumat, 10 April 2026

Pura-Pura Miskin Sepulang dari Luar Negeri, Kubuat Istriku Tercengang Saat Dia Mengusirku!


"Ceraikan anakku sekarang juga! Tiga tahun kami menunggumu pulang dari Jerman, dan kau cuma berani menginjakkan kaki di rumah ini dengan koper butut dan baju rombeng?! Dasar suami tidak berguna!"


Suara lengkingan Ibu Mertua menggema ke seluruh penjuru ruang tamu. 


Sedetik kemudian, koper kanvas lusuh milikku dilemparkan dengan kasar ke arahku, hingga isinya yang hanya berupa beberapa kaus pudar berhamburan ke lantai keramik.


Aku menunduk, menatap nanar pakaian-pakaian murah itu sebelum menatap wanita yang berdiri di samping Ibu Mertua. 


Rina, istriku. Wanita yang selama tiga tahun ini selalu kukirimi uang puluhan juta setiap bulannya. Namun malam ini, tatapan matanya penuh dengan kilat kebencian dan rasa jijik yang tak ditutupi.


"Rina," panggilku parau, sengaja memasang wajah memelas. "Aku baru saja mendarat. Tabunganku habis ditipu rekan bisnis di sana. Setidaknya, biarkan aku istirahat malam ini saja. Badanku remuk."


Rina mendecih sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. 


"Istirahat? Di rumahku? Mas, sadar diri dong! Rumah ini kubeli dari hasil jerih payahku sendiri, bukan tempat penampungan gembel! Kupikir kamu pulang bawa miliaran rupiah, ternyata kamu cuma jadi kuli yang dideportasi, kan?!"


Hatiku mencelus, tapi bibirku justru ingin menyeringai. 


Jerih payahnya sendiri? Rumah mewah ini dibeli menggunakan uang transferanku yang selalu ia akui sebagai 'hasil bisnis online'-nya kepada keluarganya.


"Rina benar!" timpal Ibu Mertua, menunjuk wajahku tepat di depan hidung. "Mulai malam ini, jangan pernah sebut Rina sebagai istrimu lagi! Besok surat cerai akan kami kirimkan. Sekarang, angkat kakimu dari sini sebelum aku memanggil satpam perumahan!"


Aku menghela napas panjang. Sandiwara ini sudah cukup. Niat awalku pulang dengan pakaian lusuh yang sengaja kubeli di pasar loak ini murni hanya untuk menguji kesetiaan mereka. 


Dan ternyata, mereka bahkan tidak memberiku waktu lima menit untuk duduk dan minum segelas air.


Tanpa memungut pakaian-pakaian lusuh di lantai, aku meraih gagang koper bututku.


"Baik. Kalau itu mau kalian," ucapku tenang, menatap mata Rina dan Ibu Mertua bergantian. "Aku akan pergi. Dan kuharap, kalian tidak akan pernah menyesali keputusan malam ini."


"Menyesal?!" Rina tertawa sumbang. "Mimpi saja sana, Mas! Aku malah bersyukur akhirnya bisa lepas dari benalu sepertimu!"


Pintu utama dibanting keras tepat di depan wajahku. Bunyi kunci yang diputar dua kali dari dalam menjadi salam perpisahanku.


Aku melangkah menyusuri trotoar perumahan elit itu di bawah rintik hujan yang mulai turun. Udara dingin menusuk tulang, namun darahku mendidih oleh kepuasan yang aneh. 


Mereka tidak tahu, di dalam saku jaket lusuh yang kuciutkan ini, bersemayam sebuah black card tanpa limit. 


Mereka juga tidak tahu, bahwa 'rekan bisnis yang menipuku' itu sebenarnya baru saja kutendang dari kursi direktur di perusahaan multinasional yang kini mutlak menjadi milikku.


***


Saat aku berjalan menuju jalan raya—tempat asisten pribadiku seharusnya menunggu dengan mobil mewah—sebuah suara yang sangat familier tiba-tiba menghentikan langkahku.


"Dirga? Astaga, Dirga, itu kamu?!"


Aku menoleh. Di bawah lampu jalan yang temaram, berdiri seorang wanita berbalut jaket rajut sederhana, memegang sebuah payung transparan. Tangannya yang lain menenteng kantong plastik berisi sayuran sisa pasar.


Itu Laras. Mantan pacarku di masa kuliah dulu. Wanita yang kutinggalkan demi menikahi Rina yang saat itu terlihat jauh lebih 'menjanjikan'.


Mata Laras membulat menatap penampilanku yang basah kuyup dan mengenaskan. Tidak ada sorot jijik di matanya, hanya ada kepanikan dan kepedulian yang murni. 


Tanpa ragu, ia berlari menghampiriku dan memayungiku, membiarkan bahunya sendiri basah terkena rintik hujan.


"Kamu kenapa hujan-hujanan begini dengan wajah pucat, Ga? Istrimu di mana? Ya ampun, ayo mampir ke kontrakanku dulu di ujung jalan sana. Setidaknya kamu harus minum teh hangat, kamu bisa sakit kalau begini."


Aku menatap wajah Laras yang teduh. Penampilannya kusam karena lelah bekerja keras, kontras dengan Rina yang bergelimang perawatan dari uangku. 


Tenggorokanku tiba-tiba tercekat oleh rasa bersalah yang luar biasa dari masa lalu, berpadu dengan rasa haru.


Saat aku di puncak kejayaan dan berpura-pura jatuh miskin, justru wanita yang pernah kuhancurkan hatinya ini yang repot-repot memungutku.


Aku menatap lekat kedua netra Laras, membiarkan rintik hujan menjadi saksi sumpahku malam ini.


"Laras," bisikku, suaraku terdengar berat dan sarat akan janji yang mematikan. "Ikut aku ke Jakarta malam ini. Akan kuubah kau menjadi ratu, dan kubuat orang-orang yang membuangku hari ini, bersujud mengemis di bawah kakimu besok pagi."


"Kamu pasti sedang demam tinggi, Ga. Jangan mengigau soal menjadi ratu dan membuat orang bersujud, sekarang yang kamu butuhkan itu obat masuk angin dan baju kering!"


Laras menyela cepat, menarik lenganku dengan paksa. Wajahnya memancarkan kepanikan yang nyata. 


Bukannya terkesima dengan janjiku, wanita ini malah menempelkan punggung tangannya ke dahiku yang basah kuyup.


Aku tertegun. Dia benar-benar mengira aku sudah gila karena stres diusir istri dan jatuh miskin.


Tanpa memedulikan tatapanku, Laras terus menyeretku menyusuri gang sempit dan becek. 


Hanya butuh beberapa menit hingga kami tiba di depan sebuah petakan kecil berukuran 3x4 meter. Dindingnya lembap, dan atapnya terdengar berderit menahan rintik hujan.


"Masuklah. Maaf berantakan, aku baru pulang kerja dari pabrik garmen," ucap Laras pelan, meletakkan payungnya di luar. Ia bergegas menyalakan kompor minyak tanah yang sudah usang untuk memasak air.


Aku berdiri kaku di ambang pintu. Mataku menyapu sekeliling ruangan sempit ini. Tidak ada kasur, hanya tikar pandan tipis. 


Di sudut ruangan, ada tumpukan mi instan dan beberapa butir telur. Hatiku seperti diremas dengan kuat. 


Selama tiga tahun ini, Rina dan keluarganya tidur di atas kasur impor seharga puluhan juta menggunakan uangku, sementara wanita berhati emas yang dulu kucampakkan ini harus hidup menderita seperti ini?


"Duduklah, Ga. Minum teh hangat ini dulu." Laras menyodorkan gelas plastik ke arahku. "Soal Rina, aku turut prihatin. Tapi kamu laki-laki, kamu pasti bisa bangkit lagi. Jangan putus asa sampai bicara yang tidak-tidak di jalanan tadi."


Aku menerima gelas itu, kehangatannya menjalar ke telapak tanganku. 


"Laras," panggilku lembut, meletakkan gelas itu di lantai tanpa meminumnya. "Aku tidak mengigau, dan aku tidak sedang putus asa."


Laras menghela napas, menatap koper bututku dan pakaian lusuhku dengan tatapan iba. 


"Ga, sudahlah. Tidak usah pura-pura tegar di depanku. Kamu tidak punya apa-apa sekarang, dan malam ini kamu bahkan tidak punya tempat tidur. Menangislah kalau—"


Kalimat Laras terputus saat tanganku merogoh saku dalam jaket rombeng yang kukenakan. 


Dari sana, aku mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru edisi terbatas—ponsel khusus yang bahkan tidak dijual di pasaran bebas. Layarnya menyala elegan, memantulkan cahaya di ruangan remang itu.


Mata Laras membulat sempurna. 


"Ga, i-itu ... dari mana kamu dapat barang semahal itu? Kamu tidak mencuri, kan?!" pekiknya panik, mundur selangkah.


Aku hanya tersenyum tipis, lalu menekan satu tombol panggilan cepat dan menempelkan ponsel itu ke telinga.


"Bawa mobilnya ke titik lokasiku sekarang," perintahku dengan nada dingin dan penuh otoritas, jauh berbeda dengan nada memelas yang kugunakan di depan Rina dan keluarganya tadi. 


"Bawa juga pakaian ganti yang pantas untuk seorang wanita."


Hanya butuh waktu kurang dari tiga menit sejak panggilan itu dimatikan. Suara deru mesin halus yang sangat asing bagi penduduk gang sempit ini mulai terdengar. 


Sorot lampu LED yang menyilaukan menembus celah jendela kontrakan Laras.


Laras berlari kecil ke arah jendela, mengintip keluar. Tubuhnya langsung membeku. 


Di luar sana, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam pekat anti peluru baru saja berhenti tepat di depan kontrakannya yang kumuh, menutupi hampir seluruh lebar jalan gang.


Dua pria bersetelan jas hitam turun, menerjang hujan dengan payung hitam besar, lalu mengetuk pintu kontrakan Laras dengan hormat.


Laras menoleh ke arahku dengan wajah pucat pasi dan bibir bergetar. Aku berjalan santai melewatinya, membuka pintu kayu yang rapuh itu.


Kedua pria berjas itu serentak membungkuk 90 derajat di hadapanku.


"Maafkan keterlambatan kami, Tuan Besar Dirga," ucap salah satu dari mereka, suaranya memecah suara rintik hujan. Pria itu kemudian mengangkat wajahnya dengan ekspresi kaku. 


"Ada laporan darurat. Mantan istri Anda baru saja mencoba menggesek black card sekunder yang Anda tinggalkan di laci kamarnya untuk membeli berlian seharga dua miliar. Instruksi Anda, Tuan Besar?"


Aku menyeringai tipis, melirik Laras yang masih mematung dengan napas tertahan di ambang pintu.


"Blokir kartunya detik ini juga," perintahku tanpa belas kasihan. "Dan pastikan manajer butik menahannya karena tidak bisa membayar. Mari kita lihat, seberapa keras dia menangis saat polisi menyeretnya malam ini."


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...