"Air comberan ini bahkan masih terlalu suci untuk membilas mulut berbisamu, Mas!"
Suara cipratan keras itu sukses menghentikan alunan musik yang sedari tadi mengalun.
Hening seketika mencekik udara. Aroma melati dan hidangan mewah yang tersaji di meja prasmanan langsung tergantikan oleh bau busuk menyengat yang menguar dari kubangan lumpur hitam.
Mas Dion, suamiku—ah, ralat, pria yang mulai detik ini akan jadi mantan suamiku—berdiri mematung.
Jas Armani kebanggaannya kini basah kuyup, meneteskan air selokan pekat lengkap dengan sisa dedaunan busuk yang menempel di kerah kemejanya.
Hanya beberapa detik yang lalu, pria itu berdiri di sana memegang gelas minumannya, tertawa angkuh sambil menunjuk wajahku di hadapan seluruh paman, bibi, dan sepupunya.
Dia dengan lantang bercerita tentang betapa beruntungnya 'benalu' sepertiku dipungut olehnya, dan bagaimana dia harus terus-terusan memberiku makan dari keringatnya.
Dia lupa, bahwa kesabaranku bukanlah sumur tanpa dasar. Dan ember berisi air got yang kebetulan sedang dibersihkan tukang kebun di sudut halaman tadi adalah saksi bisu kemarahanku.
"Dasar perempuan tidak tahu diuntung!" Jeritan melengking Ibu mertuaku memecah keheningan. Wanita paruh baya itu hampir pingsan melihat putra kesayangannya tampak seperti monster rawa.
"Berani-beraninya kamu merusak acara keluarga kami!"
Dion akhirnya tersadar dari syoknya. Dia mengusap wajahnya yang belepotan lumpur, matanya merah menyala menatapku penuh kebencian. Urat di lehernya menonjol menahan amarah yang meledak.
"Kamu pikir kamu siapa berani mempermalukanku di rumahku sendiri?!" bentak Dion dengan suara menggelegar, telunjuknya gemetar ke arahku.
"Mulai detik ini juga, AKU TALAK KAMU, ALANA! Pergi dari sini, perempuan miskin! Bawa baju rombengmu dan menyingkirlah dari kehidupanku! Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan hidup. Besok pagi, kamu pasti sudah mengemis di pinggir jalan!"
Alih-alih menangis dan bersimpuh memohon ampun seperti yang dia dan seluruh keluarganya harapkan, aku justru tersenyum miring.
"Terima kasih atas talaknya, Mas," ucapku tenang, melepaskan celemek kotor yang sedari tadi dipaksa dipakaikan Ibu mertuaku untuk mencuci piring kotor keluarga mereka. Aku melempar kain itu tepat ke kaki Dion.
"Itu adalah hadiah terbaik yang pernah kamu berikan padaku selama pernikahan konyol ini."
Tanpa menoleh lagi, aku membalikkan badan dan melangkah keluar menuju gerbang utama. Terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru di belakangku.
Dion, Ibu mertuaku, dan beberapa kerabatnya sengaja mengikutiku sampai ke depan gerbang.
Mereka berdiri melipat tangan, memasang wajah merendahkan, siap menonton adegan tragis di mana aku berjalan kaki meratapi nasib di bawah terik matahari.
"Lihat saja, sebentar lagi si Alana pasti sujud menangis minta balikan!" kudengar samar suara sepupu Dion mencemooh.
Namun, baru lima langkah aku melewati pagar besi tempa raksasa itu, sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam—mobil yang harganya bisa untuk membeli seluruh aset keluarga Adiningrat—meluncur mulus dan berhenti tepat di depanku.
Keluarga Dion yang tadinya sibuk tertawa mengejek, mendadak terdiam. Mata mereka membelalak, melongo melihat pemandangan di depan mereka.
Seorang pria tegap bersetelan jas rapi dan sarung tangan putih segera turun dari kursi kemudi. Ia setengah berlari membukakan pintu penumpang bagian belakang untukku, lalu membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat.
"Maaf kami sedikit terlambat menjemput, Nona Besar. Tuan Besar sudah sangat merindukan Anda di mansion," ucap sopir itu dengan suara bariton yang cukup keras untuk menampar pendengaran Dion dan keluarganya.
Aku berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk.
Aku melirik ke arah Dion yang kini berwajah pucat pasi, mulutnya terbuka tapi tak ada satu pun kata yang bisa keluar. Tangannya yang masih berlumuran air comberan tampak bergetar.
Aku menoleh kembali pada sopirku, lalu tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa, Johan. Oh ya, tolong hubungi pengacaraku sekarang juga. Tarik semua suntikan dana rahasia kita dari perusahaan pria berbau comberan itu malam ini juga tanpa sisa. Kita lihat saja, siapa yang besok pagi akan benar-benar mengemis di jalanan."
***
"Satu triliun rupiah ditarik paksa malam ini juga?! Kalian ini jajaran direksi atau sekumpulan pajangan?! Lakukan sesuatu, tahan dana itu agar tidak keluar dari perusahaan!"
Bantingan ponsel yang menghantam dinding marmer hingga hancur berkeping-keping itu membuat seluruh penghuni ruang keluarga Adiningrat terlonjak kaget.
Dion berdiri dengan napas memburu, dadanya naik turun. Jas Armani basah berbau comberan yang masih melekat di tubuhnya kini menjadi pelengkap sempurna untuk wajahnya yang sepucat mayat.
Hanya butuh waktu kurang dari dua jam sejak Alana berjalan keluar dari gerbang rumahnya.
Dua jam yang lalu, Dion merasa seperti raja yang baru saja membuang wanita tak berharganya.
Namun sekarang? Kekaisaran bisnis yang ia bangun dan agung-agungkan di depan semua orang sedang runtuh bagai istana pasir yang dihantam badai.
"Dion, ada apa, Nak? Kenapa kamu sampai pucat begitu?" Mantan Ibu mertuaku mendekat dengan ragu, memegang hidungnya yang tak tahan dengan bau sang putra.
"Siapa yang menarik dana? Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan omong kosong si perempuan miskin tadi, kan?"
Dion menatap ibunya dengan pandangan kosong. Kata-kata terakhir mantan istrinya kembali terngiang, berputar-putar di kepalanya.
Tarik semua suntikan dana rahasia kita dari perusahaan pria berbau comberan itu ...
"Tidak mungkin," gumam Dion, kakinya tiba-tiba terasa seperti jeli hingga ia terhuyung ke belakang dan menabrak sofa.
"Investor bayangan rahasia yang selama ini menyokong perusahaan kita, tidak mungkin Alana. Dia cuma yatim piatu miskin dari panti asuhan, Bu!"
Di sisi lain kota, jauh dari kepanikan dan bau got yang menyelimuti kediaman Adiningrat, Rolls-Royce Phantom hitam itu meluncur membelah gerbang besi raksasa berukir emas.
Melewati taman luas dengan air mancur bergaya Eropa, mobil itu berhenti tepat di undakan pualam sebuah mansion megah.
Deretan pelayan berseragam rapi sudah berbaris menunduk hormat menyambut kedatanganku.
Tiga tahun lamanya aku menyembunyikan identitas asliku, bermain peran sebagai istri penurut yang rela dicaci maki Ibu Mertua demi sebuah janji pada mendiang nenek untuk mencari ketulusan cinta tanpa memandang harta.
Dan betapa bodohnya aku menyangka Dion adalah pria itu.
"Selamat datang kembali di rumah, Nona Alana," sambut Kepala Pelayan seraya mengambil mantelku.
Aku hanya mengangguk, melangkah mantap di atas karpet merah tebal yang menutupi lantai pualam.
Sepatu hak tinggiku berdetak teratur memecah keheningan lorong menuju ruang kerja utama. Pintunya yang terbuat dari kayu jati berukir berat terbuka perlahan, menampilkan sosok pria paruh baya yang masih tampak gagah di balik meja kerja mahoninya.
Itu Kakek. Pemilik sah dari konglomerasi terbesar di Asia Tenggara.
"Sudah selesai main rumah-rumahannya, Tuan Putri?" sindir Kakek dengan senyum penuh arti, melepaskan kacamata bacanya.
"Aku sudah menerima talaknya dengan senang hati, Kek," balasku santai, menjatuhkan diri di sofa kulit yang empuk.
"Malam ini juga, Dion Adiningrat akan tahu rasanya kembali menjadi debu. Aku pastikan besok pagi, keluarga sombong itu yang ganti mengemis di pinggir jalan."
Namun, alih-alih tertawa puas melihat cucu semata wayangnya membalas dendam, ekspresi Kakek justru mengeras.
Atmosfer ruangan mendadak berubah berat. Ia mengambil sebuah map cokelat dari laci rahasianya, lalu melemparkannya ke atas meja hingga meluncur dan berhenti tepat di depanku.
Ada stempel merah bertuliskan SANGAT RAHASIA di sudut map tersebut.
"Kamu pikir pengkhianatan terbesarnya hanyalah menghinamu di depan keluarganya sore ini?" Suara serak Kakek memecah keheningan, jemarinya yang keriput mengetuk pelan permukaan meja mahoni.
"Buka map itu, Alana. Pria comberanmu itu tidak hanya bersiap untuk membuangmu, dia dan keluarganya diam-diam sudah memalsukan identitasmu untuk dijadikan jaminan utang gelap bernilai ratusan miliar. Besok pagi, bukan dia yang hancur, tapi surat penahanan kepolisian yang akan datang menjemputmu."
***
Bersambung...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar