"Bawa koper bututmu ini dan angkat kaki dari rumahku sekarang juga! Aku sudah muak melihat wajahmu, istri benalu!"
Sebuah koper hitam terlempar dengan kasar hingga menghantam kakiku, disusul oleh tawa melengking dari seorang wanita yang kini bergelayut manja di lengan suamiku.
"Mas Galih, kamu tega?" Aku menatap suamiku dengan dada sesak, air mata sudah menggenang di pelupuk.
"Lima tahun aku mendampingimu dari nol, dan sekarang setelah kamu sukses, kamu mengusirku demi selingkuhanmu ini?"
"Jaga mulutmu, Nisa!" bentak Galih keras. "Rina jauh lebih baik daripadamu. Dia wanita berkelas, bukan perempuan kampungan sepertimu. Mulai detik ini, kita cerai! Pergi dari rumah ini sebelum aku menyeretmu keluar!"
Rina, wanita itu, tersenyum mengejek sambil mengelus kerah kemeja Galih.
"Dengar itu, kan? Pintu keluarnya ada di sana, Mbak. Jangan sampai tanganku yang mulus ini kotor karena harus mendorongmu."
Dengan hati hancur lebur dan air mata yang tak sanggup lagi kubendung, aku menarik koperku keluar dari rumah mewah yang dulu kubangun bersama Galih dengan sisa-sisa keringatku.
Langit mendung seolah ikut mengejek nasibku. Di tengah kebingungan tanpa arah tujuan, langkah kakiku justru membawaku ke pinggiran kota, ke sebuah gang sempit kumuh tempat Ibu Mertuaku tinggal.
Galih selalu mengabaikan ibunya. Sejak usahanya sukses, ia menolak membawa ibunya tinggal bersama dengan alasan malu karena sang ibu hanya wanita tua yang sakit-sakitan.
Selama ini, diam-diam akulah yang sering datang menyisihkan uang belanja untuk merawat beliau di rumahnya yang nyaris roboh.
Dinding kayunya sudah banyak yang lapuk dimakan usia, dan atapnya selalu bocor jika hujan turun.
"Nisa? Kenapa kamu menangis bawa koper, Nak?"
Suara serak itu menyambutku. Ibu Mertuaku, Bu Hartini, berdiri di ambang pintu reyotnya dengan raut wajah terkejut.
Melihat wajah keriputnya, pertahananku runtuh. Aku berhambur memeluknya.
"Ibu, Mas Galih mengusirku, Bu. Dia berselingkuh dan memasukkan wanita itu ke rumah kami. Maafkan Nisa, Bu. Nisa bingung harus pergi ke mana."
Kupikir Bu Hartini akan ikut menangis meratapi nasib menantunya. Namun, pelukannya perlahan melonggar. Ia menatapku lekat, tangannya yang keriput menghapus sisa air mata di pipiku.
Tidak ada raut kesedihan di wajahnya, melainkan tatapan tajam yang menyiratkan amarah luar biasa.
"Jadi, anak durhaka itu akhirnya menunjukkan sifat aslinya?" desis Bu Hartini pelan, namun terdengar sangat mengintimidasi.
Beliau menarik lenganku, membawaku masuk ke dalam rumah reyotnya, lalu mengunci pintu rapat-rapat.
Aku menatapnya kebingungan saat wanita tua yang biasanya terlihat rapuh itu berjalan tegap menuju sudut ruangan.
Ia menggeser sebuah lemari kayu lapuk tua dengan tenaga yang tak kuduga, menyingkap papan lantai yang sudah berderit, dan mengeluarkan sebuah peti besi yang tersembunyi di bawahnya.
Mataku terbelalak lebar hingga nyaris tak bisa berkedip.
Di dalam peti besi berdebu itu, tumpukan uang seratus ribuan tersusun rapi hingga ke dasar, berdampingan dengan beberapa batang emas murni dan belasan sertifikat tanah.
"I-ibu, uang siapa ini?" suaraku bergetar, lututku tiba-tiba terasa lemas.
Bu Hartini berbalik, menatapku dengan senyum dingin yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia mengambil sebuah buku tabungan prioritas berwarna hitam legam dan menjejalkannya ke telapak tanganku.
"Air mata tidak akan mengembalikan harga dirimu yang sudah diinjak-injak, Nisa," ucap Ibu Mertuaku dengan nada mutlak yang menggetarkan ruangan sempit itu.
"Persetan dengan Galih! Ibu tak sudi sepeser pun harta keluarga ini jatuh ke tangan anak durhaka itu. Mulai detik ini, kamu adalah pewaris tunggal Ibu. Gunakan seluruh milyaran uang ini, ubah penampilanmu, dan tugas pertamamu adalah buat anak durhaka itu hancur sampai mengemis di telapak kakimu!"
***
"Hapus air matamu, Nisa! Menangis tak akan membuat laki-laki brengsek itu menyesal. Tapi milyaran rupiah di dalam peti ini, akan memastikan dia bersujud mencium telapak kakimu."
Aku tersentak mundur. Buku tabungan bersampul hitam legam dengan logo bank internasional kelas VVIP itu terasa dingin sekaligus membakar telapak tanganku. Kepalaku pening, mencoba mencerna pemandangan gila di depanku.
Rumah reyot, atap bocor, dinding kayu berjamur dan peti besi berisi harta karun yang bahkan tak pernah kubayangkan seumur hidup.
"I-Ibu, Nisa tidak mengerti," cicitku dengan bibir bergetar.
"Kalau Ibu punya uang sebanyak ini, kenapa Ibu membiarkan diri Ibu tinggal di tempat kumuh ini? Kenapa Ibu membiarkan Mas Galih ..."
"Membiarkan Galih menghina dan membuang Ibu?" potong Bu Hartini.
Wanita paruh baya itu berjalan tertatih, lalu duduk di kursi kayunya yang berderit. Namun anehnya, tak ada lagi aura renta nan lemah dari dirinya.
Sorot matanya yang biasanya redup kini setajam elang, penuh wibawa yang mengintimidasi.
"Almarhum Bapak mertuamu meninggalkan aset perkebunan dan properti yang tak akan habis tujuh turunan, Nak. Tapi sebelum Bapakmu meninggal, kami sadar ada yang salah dengan tabiat Galih. Dia gila hormat, serakah, dan memandang manusia hanya dari isi dompetnya," jelas Bu Hartini dengan nada pahit.
"Jadi, Ibu memalsukan kebangkrutan keluarga. Ibu ingin mengujinya. Ibu ingin melihat, apakah anak kandung Ibu sendiri sudi merawat ibunya saat ibunya jatuh miskin."
Bu Hartini tersenyum miris, menatap lurus ke arahku.
"Dan kamu tahu sendiri jawabannya, Nisa. Dia membuang Ibu ke gubuk ini. Dia jijik menyentuh tangan ibunya yang keriput. Selama lima tahun ini, justru kamu, menantu yang selalu dia hina sebagai 'perempuan kampungan' dan tak berpendidikan, yang rela menyisihkan uang belanja dari suami pelit itu untuk membelikan Ibu beras dan menebus obat."
Dadaku bergemuruh mendengarnya.
Jadi selama ini, kesengsaraan Ibu Mertuaku hanyalah sebuah sandiwara cerdik untuk menguji suamiku?
"Ibu sudah selesai mengujinya, Nisa. Dan Galih gagal total. Hati Ibu sudah mati untuknya. Dia bukan lagi anakku!" desis Bu Hartini tajam.
Beliau merogoh peti besi itu lagi, mengeluarkan sebuah kartu pipih berwarna emas tanpa limit dan meletakkannya di telapak tanganku yang masih gemetar.
"Gunakan kartu ini. Ubah penampilanmu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Buang semua baju murahmu. Perawatan ke klinik kecantikan paling mahal di kota ini. Kamu adalah pewaris tunggal harta keluarga ini, Nisa!"
Aku menelan ludah kasar, menatap pantulan diriku yang kuyu di cermin retak di sudut ruangan.
"T-tapi Bu, untuk apa? Nisa hanya ingin pergi jauh dan mencari kerja."
"Mencari kerja untuk bertahan hidup sementara suamimu bersenang-senang di atas penderitaanmu?!" bentak Bu Hartini, membuat bahuku terlonjak.
Beliau mencengkeram bahuku, menyalurkan kemarahan yang membara.
"Jangan jadi wanita lemah yang gampang diinjak! Galih merintis perusahaannya dari nol bersamamu, kamu yang begadang membuat konsep bisnisnya, kamu yang mengurus segalanya saat dia terpuruk! Dan sekarang setelah sukses, dia membuangmu demi wanita gatal itu? Kamu rela?!"
Deg.
Bayangan wajah sombong Rina, tawa meremehkannya, dan tatapan jijik Galih saat menendang koperku kembali berputar di kepala bak kaset rusak.
Seketika, air mataku mengering. Rasa sedih yang sedari tadi mencekik dadaku menguap tanpa sisa, digantikan oleh kobaran api amarah yang teramat panas.
Benar kata Ibu. Aku tidak boleh hancur sendirian sementara mereka tertawa di atas air mataku.
Aku menegakkan bahu, menggenggam kartu emas dan buku tabungan itu erat-erat. Menatap mata Bu Hartini dengan keberanian yang baru lahir.
"Apa langkah pertama kita, Bu?"
Senyum puas mengembang di bibir Bu Hartini. Beliau mengambil sebuah map tebal berlogo eksklusif dari dasar peti besi, lalu menyerahkannya padaku.
"Besok malam, Galih akan menghadiri malam lelang properti di Hotel Diamond untuk memperebutkan lahan proyek impian perusahaannya, bukan? Datanglah ke pesta itu dengan gaun termahal, Nisa," bisik Bu Hartini penuh penekanan, matanya berkilat penuh dendam.
"Beli lahan proyek itu secara tunai tepat di depan hidungnya, dan buat mantan suamimu itu sadar, bahwa wanita yang baru saja dia tendang dari rumah, adalah bos besar yang akan menghancurkan hidupnya malam itu juga!"
***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar