Jumat, 10 April 2026

Istriku Ditemukan Gila di Jalanan setelah 2 Tahun Menghilang. Ternyata ada Hubungannya dengan Ibuku!


 "Lepaskan aku! Jangan paksa aku menelan pil itu lagi! Aku mohon, aku bukan orang gila!"


Teriakan histeris itu membelah keramaian di trotoar pinggir jalan raya, membuat langkahku terhenti seketika. 


Jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat sosok wanita berpakaian lusuh yang tengah meronta-ronta diusir oleh pemilik ruko. Rambutnya kusut masai, wajahnya cemong oleh debu jalanan, dan tubuhnya sangat kurus.


Namun, aku mengenali suara itu. Aku mengenali tatapan ketakutan di balik mata cekungnya.


Itu Kania. Istriku yang menghilang tanpa jejak dua tahun lalu.


"Kania?!" Aku berlari menerobos kerumunan orang, langsung mendekap tubuh gemetarnya yang berbau tak sedap.


"Pergi! Jangan pukul aku lagi! Ampun, Bu. Ampun!" Kania memukulku, sama sekali tidak mengenaliku. Sorot matanya kosong dan liar, dipenuhi trauma yang begitu mendalam.


Air mataku tumpah tak tertahankan. 


Dua tahun aku mencarinya hingga hampir gila sendiri, menyewa detektif, melapor ke polisi, menyebar brosur di setiap sudut kota, dan dia berakhir di jalanan dengan kondisi seperti ini? 


Siapa yang tega melakukan hal sekeji ini pada istriku yang dulu begitu anggun dan lembut?


"Ini aku, Kania. Ini Mas Adrian, suamimu. Kamu aman sekarang, Sayang. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi," bisikku parau, menahan isak tangis sambil memeluknya erat, tak peduli pada tatapan aneh orang-orang di sekitar kami.


Mendengar namaku, tubuh Kania tiba-tiba menegang. Dia berhenti memberontak. 


Perlahan, tangan kurusnya yang bergetar membalas pelukanku dengan cengkeraman yang sangat kuat di kemejaku.


Sepanjang perjalanan di dalam mobil menuju rumah, Kania tidak bicara lagi. Dia hanya meringkuk di kursi penumpang, menggigit bibir bawahnya ketakutan setiap kali melihat bangunan besar atau mobil mewah yang melintas.


Sesampainya di rumah, aku langsung menuntunnya masuk. Istriku terus menunduk, meremas ujung bajunya yang lusuh. 


Namun, saat kami melewati ruang keluarga, langkah Kania mendadak terhenti kaku. Tubuhnya bergetar jauh lebih hebat dari sebelumnya. 


Matanya yang memerah menatap lekat pada sebuah bingkai foto besar yang terpajang di dinding.


Itu adalah foto Ibu. Ibu kandungku.


"Kania? Kamu kenapa, Sayang?" tanyaku lembut, mencoba menenangkan.


Bukannya tenang, Kania malah mundur dengan napas memburu. Ia menunjuk foto Ibu dengan jari gemetar, wajah piasnya memancarkan kengerian yang luar biasa. 


Ingatanku tiba-tiba terlempar pada kejadian dua tahun lalu—betapa Ibu sangat membenci Kania. 


Betapa Ibu selalu mendesakku menceraikannya dengan alasan Kania hanya yatim piatu yang miskin, dan betapa cepatnya Ibu menyuruhku menikah lagi hanya sebulan setelah Kania menghilang.


Semua kejanggalan itu tiba-tiba menyusun sebuah benang merah di kepalaku.


Kania menoleh menatapku. Air matanya menetes, namun kali ini tatapannya tak lagi kosong. 


Kesadarannya seakan ditarik paksa kembali hanya untuk menyampaikan sebuah kenyataan pahit yang mengoyak duniaku.


"Mas." Suara Kania serak dan bergetar, mencengkeram kerah kemejaku hingga buku-buku jarinya memutih. 


"Ibumu ... ibumu yang mengurungku di ruangan gelap itu selama dua tahun."


***


"Jangan biarkan wanita itu masuk, Mas! Dia bukan manusia, dia iblis yang mencuri kehidupanku!"


Jeritan histeris Kania menggema di seluruh penjuru ruangan, diiringi suara pecahan vas bunga yang ia lempar ke arah pintu kamar.


Tubuh kurusnya meringkuk di sudut ruangan, gemetar hebat dengan kedua tangan menutupi telinga. 


Matanya yang indah namun menyiratkan trauma mendalam itu menatap liar ke arah luar, seolah bayangan ibuku adalah monster yang paling menakutkan di dunia.


Dadaku sesak melihatnya. Istriku yang dulu sangat lembut, yang tidak pernah meninggikan suaranya pada siapa pun, kini hancur berkeping-keping. 


Kania memang tidak menyakiti siapa pun, namun kewarasannya seolah timbul tenggelam. 


Kadang ia menangis memanggil namaku dengan sangat jernih, namun di detik berikutnya ia bisa bersembunyi di kolong tempat tidur karena ketakutan setengah mati pada suara langkah kaki.


Aku perlahan mendekatinya, tidak peduli pada pecahan keramik di lantai. 


"Kania, Sayang. Ini aku. Tidak ada siapa-siapa di sini. Kamu aman," bisikku sambil merengkuh tubuhnya yang sedingin es.


Kania meremas kemejaku, napasnya memburu. 


"Dia mengambilnya, Mas. Ibu mertua mengambil semuanya dariku malam itu. Ruangan gelap, dingin," racaunya dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya kesadarannya kembali meredup dan ia jatuh tertidur karena kelelahan menangis di pelukanku.


Malam itu juga, aku memindahkan Kania ke rumah pribadiku yang lain, menyembunyikannya rapat-rapat dari jangkauan siapa pun, terutama ibuku. 


Firasatku mengatakan racauan Kania bukanlah sekadar halusinasi orang gila. 


Ada sesuatu yang sangat besar dan mengerikan yang disembunyikan oleh ibu kandungku sendiri. 


Mengapa ibu harus repot-repot memalsukan kematian Kania dan mengurungnya di tempat yang tidak diketahui siapa pun? Apa untungnya?


Aku tahu aku tidak bisa menghadapi Ibu tanpa bukti. Beliau terlalu licik. 


Oleh karena itu, aku diam-diam menyewa Surya, seorang penyelidik swasta terbaik yang bekerja di bawah radar, untuk membongkar semua jejak keuangan dan aktivitas ibuku tepat di hari Kania menghilang dua tahun lalu.


Tiga hari berlalu dalam kecemasan yang menyiksa. Kania perlahan mulai mau makan dari suapanku, meski ia masih menolak menatap cahaya lampu yang terlalu terang. 


Setiap kali melihat senyum tipisnya yang penuh luka, tekadku semakin bulat. Aku akan menghancurkan siapa pun yang merusak istriku, tak peduli meski itu darah dagingku sendiri.


Hingga akhirnya, malam itu Surya datang menemuiku di ruang kerja dengan wajah tegang dan membawa sebuah koper penuh dokumen.


"Saya sudah menelusuri semuanya, Pak Adrian. Dan temuan ini jauh lebih gila dari yang kita bayangkan," ucap Surya, meletakkan setumpuk dokumen berstempel resmi di atas mejaku.


Aku menatap dokumen itu dengan dahi berkerut. 


"Apa ini? Mengapa ada dokumen perpindahan aset dan pengajuan perwalian medis di sini? Untuk apa ibuku mengurus surat keterangan cacat mental atas nama Kania?"


"Itulah kunci utamanya, Pak Adrian. Ibu Anda mengurung istri Anda di ruangan gelap selama dua tahun bukan untuk membunuhnya, tapi untuk menyiksanya perlahan agar Nyonya Kania benar-benar kehilangan akal sehatnya."


"Tapi kenapa, Surya?! Apa untungnya ibuku membuat menantunya sendiri gila?!" bentakku, emosiku mulai meledak tak tertahankan.


Surya menatapku lurus, sorot matanya menyiratkan ketegangan yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak.


"Karena dalam hukum, orang yang tidak waras tidak memiliki hak untuk mengklaim atau mengelola asetnya sendiri, Pak. Dan jika Anda tahu siapa orang tua kandung Nyonya Kania yang sebenarnya ..."


Surya mengambil satu dokumen terakhir yang memiliki segel lambang perusahaan multinasional raksasa, lalu menyodorkannya tepat di depan dadaku. 


"Anda akan menyadari bahwa selama ini, istri Anda adalah ...."


***





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...