"Minum susu basi ini biar otakmu jalan! Uang seratus juta saja kamu pelitnya minta ampun untuk adik iparmu sendiri!"
Suara lengkingan keras Ibuku memecah keheningan rumah, disusul bunyi cipratan air yang menghantam lantai dan tubuh seseorang.
Aku yang baru saja melangkah keluar dari gudang di lantai bawah tersentak kaget dan langsung berlari menuju ruang tengah.
Pemandangan di depanku membuat darahku seakan berhenti mengalir. Fira, istriku yang lembut dan penyabar, berdiri mematung di tengah ruangan. Bau busuk yang menyengat langsung menusuk hidungku—bau susu yang sudah kedaluwarsa berhari-hari.
Di depannya, Ibu berdiri memegang teko kosong dengan wajah merah padam, dadanya naik turun menahan amarah yang meledak-ledak.
"Ibu! Apa yang Ibu lakukan?!" teriakku histeris. Aku berlari menerjang genangan susu di lantai, memposisikan diriku di depan Fira, menyembunyikannya di balik tubuhku.
"Ibu sudah gila? Kenapa menyiram Fira seperti itu?!"
"Istrimu ini yang gila, Putra!" balas Ibu tak kalah kencang, menunjuk wajahku dengan jari bergetar.
"Rendy bulan depan mau menikah, dia cuma minta tambahan dana seratus juta untuk sewa gedung VIP. Gaji Fira kan besar, dia manajer! Buat apa dia punya uang banyak kalau tidak mau membantu keluarga suaminya?! Dia menantu tidak tahu diuntung!"
Dari sofa, Rendy, adikku yang baru lulus kuliah dan belum bekerja itu, bersedekap sambil tersenyum sinis.
"Tahu tuh, Mbak Fira perhitungan banget sama keluarga sendiri. Cuma seratus juta aja pelitnya setengah mati. Padahal Mas Putra kan sudah kasih tumpangan hidup di rumah sebesar ini selama lima tahun."
Rahangku mengeras mendengarnya.
"Tutup mulutmu, Rendy! Gaji Fira itu hak pribadinya! Aku sebagai suaminya tidak pernah mempermasalahkan itu, kenapa kalian yang sibuk mengatur uangnya? Kamu yang mau menikah, kenapa jadi Fira yang harus menanggung biayanya?!"
"Kamu berani melawan Ibumu demi perempuan egois ini?!"
Mata Ibu melotot, menatapku seolah aku adalah pengkhianat terbesar.
"Putra, ingat! Kamu itu anak laki-laki tertua! Istrimu harus patuh pada aturan rumah ini! Kalau dia tidak mau menuruti kemauan Ibu, lebih baik kamu ceraikan saja dia!"
Aku bersiap membalas teriakan Ibu, meluapkan seluruh emosi yang kuredam selama ini menghadapi sikap mereka yang semena-mena pada Fira.
Aku sudah bersiap untuk memeluknya, menenangkannya, dan membawanya pergi dari rumah penuh racun ini malam ini juga.
Namun, ketika aku menoleh ke belakang, napasku tercekat.
Aneh. Sangat aneh.
Fira justru ...
***
Bab 2
Istriku sama sekali tidak menangis. Tidak ada air mata yang mengalir di pipinya yang basah oleh susu basi. Bahunya tidak bergetar ketakutan.
Fira justru mengusap sisa cairan kental di wajahnya dengan gerakan yang sangat pelan, sangat terstruktur, dan sangat dingin. Ekspresi wajahnya datar, seolah-olah siraman susu basi itu hanyalah tumpahan air biasa.
"Mas Putra, minggir sebentar," ucap Fira.
Suaranya begitu tenang. Terlalu tenang, hingga membuat bulu kudukku meremang. Ia berjalan melewati bahuku dengan langkah santai, mengabaikan bau busuk yang melekat kuat di tubuhnya.
Tatapan matanya yang biasanya redup dan penurut kini berubah tajam, setajam silet yang menyorot langsung ke mata Ibu dan Rendy secara bergantian.
Bukannya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri atau menangis di kamar, Fira melangkah menuju meja tamu.
Ia mengambil tas kerjanya yang tergeletak di sana, merogoh ke dalam, dan mengeluarkan sebuah map cokelat tebal.
Suasana mendadak hening total. Ibu dan Rendy saling pandang, raut kebingungan mulai muncul di wajah mereka melihat reaksi Fira yang jauh dari perkiraan.
Dengan langkah pelan yang di atas genangan susu dan lantai keramik, Fira kembali menghampiri Ibu. Ia mengulurkan map cokelat itu dengan gerakan elegan, mengabaikan fakta bahwa tangannya juga masih lengket.
"Ibu Mertua yang terhormat." Fira berucap sambil mengukir senyum tipis, sebuah senyum yang entah kenapa terasa sangat membekukan di ruangan yang panas itu.
Ia menatap lekat mata wanita di depannya, lalu melanjutkan dengan nada lembut namun penuh penekanan yang mengerikan.
"Ibu ingin seratus juta untuk pernikahan Rendy, kan? Jangankan seratus juta, aku bisa memberikan lebih dari itu. Tapi sebelumnya, tolong Ibu tanda tangani dulu surat perjanjian ini—surat yang menyatakan bahwa mulai detik ini, rumah yang sedang Ibu tempati, mobil yang Rendy pakai, dan semua aset di keluarga ini resmi berpindah tangan menjadi milik pribadiku sebagai ganti rugi atas susu basi yang sudah Ibu siramkan ke wajahku tadi."
***
Bab 3
"Sinting! Kamu benar-benar sudah gila, Fira! Berani-beraninya kamu mau merampas properti milik anakku sendiri?!"
Teriakan Ibu memekakkan telinga. Dengan kasar, wanita paruh baya itu menepis map cokelat di tangan Fira hingga jatuh ke lantai.
Kertas-kertas di dalamnya berhamburan, tepat di atas genangan susu basi yang perlahan mengering.
"Heh, perempuan gila! Lo pikir lo siapa?!" Rendy yang sejak tadi duduk santai kini melompat dari sofa.
Wajah adikku itu merah padam. Ia melangkah maju dengan tangan terangkat, berniat menuding tepat di depan wajah istriku.
"Mas Putra yang beli rumah ini! Lo cuma numpang—"
Sebelum jari telunjuk Rendy sempat berada di dekat wajah Fira, aku sudah lebih dulu menerjang maju.
Kutepis tangannya dengan keras, lalu kucengkeram kerah kausnya hingga tubuh adikku itu sedikit terangkat.
"Jaga nada bicaramu di depan istriku, Rendy!" bentakku tepat di depan wajahnya. Suaraku menggema, membuat nyali Rendy seketika ciut.
"Sekali lagi kamu berani mengangkat tangan atau menunjuk wajah Fira, aku sendiri yang akan menyeret dan melemparmu keluar dari rumah ini sekarang juga!"
"Putra! Apa-apaan kamu ini?!" Ibu menjerit histeris, berusaha menarik lenganku untuk melepaskan cengkeraman dari kerah Rendy.
"Kamu mau melakukan itu pada adikmu sendiri demi membela perempuan pelit yang mau merampok kita?!"
Aku menghempaskan tubuh Rendy hingga ia terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk di sofa. Napasku memburu.
Kualihkan tatapan tajamku pada Ibu yang kini menatapku dengan sorot tak percaya.
Selama ini aku selalu diam dan mengalah demi menghindari keributan keluarga, tapi perlakuan mereka hari ini sudah melewati batas nalar.
"Fira tidak merampok siapa pun, Bu!" tegasku, suaraku tak kalah keras dari teriakan Ibu sebelumnya.
"Ibu dan Rendy yang selama ini buta! Kalian pikir dari mana aku punya uang untuk melunasi sisa cicilan rumah sebesar ini lima tahun lalu? Dari gajiku yang saat itu hanya staf biasa?!"
Ibu terdiam kaku. Matanya melebar, seolah baru menyadari sesuatu yang selama ini tak pernah ia pikirkan.
"Bukan aku yang melunasi rumah ini, Bu," kataku dengan rahang mengeras, menunjuk ke arah istriku yang masih berdiri tenang.
"Fira! Fira yang melunasi sertifikat rumah ini dengan uang tabungannya sendiri sebelum kita menikah! Dan mobil yang dipakai Rendy pamer setiap hari itu? Itu mobil atas nama Fira! Fira yang membelinya!"
Keheningan seketika menyergap ruang tengah. Rendy yang baru saja hendak membuka mulut kembali mengatupkan rahangnya rapat-rapat.
Wajah Ibu memucat pasi seolah aliran darahnya baru saja terkuras habis.
Di tengah keterkejutan itu, Fira menunduk. Dengan sangat anggun, ia memungut map cokelatnya yang kotor terkena cipratan susu.
Istriku mengusap ujung map itu dengan tenang, lalu melangkah maju melewati tubuhku. Ia kembali berdiri berhadapan dengan Ibu yang kini tubuhnya mulai bergetar.
"Terima kasih sudah menjelaskannya, Mas Putra," ucap Fira lembut, tanpa menoleh ke arahku. Matanya tetap terkunci pada wajah Ibuku.
Fira lalu merogoh saku kemejanya yang basah, mengeluarkan sebuah pulpen mahal berwarna emas. Ia menyodorkan pulpen itu tepat ke depan wajah Ibu.
"Pilihannya sangat mudah, Ibu Mertua," bisik Fira, senyum dingin itu kembali terukir di bibirnya.
"Tanda tangani surat pemindahan hak kuasa ini sekarang. Atau tolak tawaranku, dan malam ini juga, aku pastikan calon istri Rendy tahu bahwa mahar emas berlian yang dipamerkan Rendy kemarin, sebenarnya adalah barang sewaan yang dibayar menggunakan limit kartu kreditku."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar