Sabtu, 11 April 2026

(3) Kujual Mobil Istriku untuk Membiayai Pernikahanku dan Selingkuhan, tapi Betapa Kagetnya Aku Ketika Tahu Siapa Sebenarnya Istriku!


"... suami sah dari bidadari tanpa cela yang baru saja kau nikahi ini, Mas!"


Suara Kirana menggema, memecah sisa-sisa napas para tamu yang tertahan.


Pria paruh baya itu melangkah lebar membelah kerumunan. Wajahnya mengeras, rahangnya terkatup rapat menahan murka. 


Tanpa aba-aba, ia melemparkan sebuah amplop cokelat tebal tepat ke wajah Rina. Berlembar-lembar foto dan buku nikah bersampul hijau berhamburan jatuh ke atas karpet pelaminan.


"Pak Herman." Rina memekik tertahan, tubuhnya luruh ke lantai. "Ini ... ini tidak seperti yang Bapak lihat. Saya bisa jelaskan!"


"Jelaskan apa, perempuan murahan?!" bentak Pak Herman dengan suara menggelegar yang membuat seisi gedung beringsut mundur. 


"Kau menguras uang di rekening perusahaanku, beralasan ibumu sedang kritis di rumah sakit, tapi ternyata kau gunakan uang itu untuk menyewa desainer gaun pengantin demi menikahi brondong miskin ini?!"


Mata Dimas mendelik sempurna. Ia menatap buku nikah yang tergeletak di dekat ujung sepatunya. Tertera jelas wajah Rina dan pria tua itu di sana.


"Rina, k-kau sudah bersuami?" Suara Dimas pecah, menatap wanita yang baru saja diikrarkannya sebagai istri beberapa jam lalu dengan tatapan jijik bercampur tak percaya. 


"Kau bilang kau gadis dari keluarga terpandang! Kau bilang kau pengusaha butik!"


"Dan kau bilang kau manajer sukses yang punya banyak aset, Mas!" Rina tiba-tiba balas menjerit, air matanya merusak riasan mahalnya. 


"Ternyata kau cuma pengangguran modal dengkul yang menjual mobil istrimu sendiri! Kalian berdua sama-sama penipu!"


"Cukup!" Kirana menepuk tangannya pelan, sengaja menciptakan suara gema yang memancing atensi semua orang. Ia tersenyum sangat manis, menikmati tontonan kehancuran di depan matanya.


"Drama rumah tangga kalian sangat menghibur, sungguh. Sayangnya, aku tidak punya banyak waktu."


Kirana menoleh ke arah petugas kepolisian yang sejak tadi berdiri siaga. 


"Pak Polisi, silakan jalankan tugas Anda. Bawa pria ini atas tuduhan penggelapan aset VVIP perusahaan."


Dua petugas langsung bergerak maju, meraih kedua lengan Dimas dengan kasar dan mengeluarkan borgol besi. 


Bunyi dari logam yang mengunci pergelangan tangannya membuat Dimas seakan baru terbangun dari mimpi buruk.


"Tunggu! Tidak! Tolong jangan bawa anakku!"


Ibu Mertua yang sedari tadi syok berat, tiba-tiba berlari tertatih-tatih dan menubruk kaki Kirana. Tangisnya pecah seketika, tak peduli lagi pada puluhan pasang mata kolega yang menatapnya iba.


"Kirana, menantuku yang baik! Ibu mohon, cabut laporannya!" ratap Ibu Mertua, meremas ujung gaun marun Kirana dengan tangan gemetar. 


"Dimas itu suamimu! Kalau dia dipenjara, siapa yang akan menafkahi kita? Kamu cuma karyawan biasa, gajimu tidak akan cukup! Ibu janji, Ibu akan suruh Dimas menceraikan perempuan gila ini, asalkan kamu membebaskannya!"


Kirana menunduk, menatap Ibu Mertua dengan pandangan datar yang membekukan darah. Perlahan, ia menarik ujung gaunnya dari cengkeraman wanita tua itu.


"Menantu yang baik? Seingatku, sepuluh menit yang lalu Ibu Mertua baru saja memanggilku perempuan gembel," desis Kirana tajam. 


"Dan soal nafkah, jangan bercanda. Selama tiga tahun pernikahan ini, beras yang Ibu Mertua makan itu kubeli dengan keringatku sendiri, sementara anak kesayanganmu ini sibuk mencari mangsa untuk diambil hartanya."


Dimas yang kini sudah diborgol, memberontak putus asa. 


"Kirana, aku mohon! Aku khilaf! Aku akan kembalikan semua uangnya, tapi tolong bicaralah pada direksi Mahendra Jaya Group! Berlututlah pada mereka kalau perlu, agar mereka mau mencabut laporannya! Kau kan bekerja di sana, pasti kau bisa memohon pada mereka!"


Tiba-tiba, seorang pria muda dengan setelan jas eksklusif dan earpiece di telinganya melangkah masuk dengan tergesa, mengabaikan kekacauan yang ada. 


Ia berjalan lurus melewati Dimas dan Ibu Mertua, lalu menunduk hormat dengan sudut sembilan puluh derajat tepat di hadapan Kirana.


"Maaf mengganggu, Nona," ucap pria itu dengan suara formal yang menggema di keheningan gedung. 


"Tuan Besar Mahendra sudah menunggu Anda di mobil. Beliau bertanya, apakah Anda ingin mengurus sampah-sampah ini sendiri, atau membiarkan tim kuasa hukum perusahaan yang melenyapkan mereka ke penjara dengan hukuman maksimal?"


Napas Dimas seolah berhenti berembus. Matanya menatap pria berjas itu, lalu beralih menatap istrinya dengan horor. Ibu Mertua bahkan sudah berhenti menangis, mulutnya terbuka rapat tak bisa berkata-kata.


"T-Tuan Besar Mahendra? Nona?" Dimas terbata, tubuhnya mulai gemetar hebat. 


"K-Kirana, siapa kamu sebenarnya? Bukankah kau cuma staf administrasi biasa?!"


Kirana merapikan lipatan gaunnya dengan elegan, lalu melangkah mendekati Dimas. Ia membisikkan sebuah kalimat yang dipastikan akan menjadi mimpi terburuk suaminya seumur hidup.


"Ah, aku lupa memberitahumu satu hal kecil, Mas Dimas. Kirana gembel udik yang selalu kau hina ini, nama lengkap aslinya adalah Kirana Mahendra."


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...