Sabtu, 11 April 2026

(4) Kujual Mobil Istriku untuk Membiayai Pernikahanku dan Selingkuhan, tapi Betapa Kagetnya Aku Ketika Tahu Siapa Sebenarnya Istriku!

 


"Pembohong! Kau pasti gila karena syok kutinggalkan sampai berani mengaku-ngaku sebagai ahli waris Mahendra Jaya Group, Kirana!" jerit Dimas memecah keheningan, suaranya melengking sarat akan keputusasaan dan penolakan mentah-mentah.


Pria berjas yang merupakan asisten utusan keluarga Mahendra itu menatap Dimas dengan dingin. Tanpa banyak bicara, ia merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang.


Benda itu dilemparkan tepat ke lantai, tepat di depan ujung sepatu Dimas. Sebuah kartu identitas VVIP berlapis emas murni dengan ukiran lambang burung rajawali—logo kebesaran Mahendra Jaya Group. 


Di tengah kartu itu, tercetak jelas nama Kirana Mahendra dengan jabatan Dewan Komisaris Utama.


Mata Dimas nyaris copot melihatnya. Seluruh persendiannya melemas seolah tulang-tulangnya baru saja diloloskan dari tubuh.


"I-ini tidak mungkin," gumam Dimas bergetar, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. 


"Istriku ... istriku yang selalu kubentak dan kusuruh mencuci baju setiap hari adalah seorang triliuner?"


"Kirana, Sayang! Oh, menantuku yang paling cantik dan baik hati!"


Sebuah suara ratapan tiba-tiba menyela. Ibu Mertua yang detik lalu nyaris pingsan, kini mendadak merangkak maju. 


Wanita tua itu tanpa malu memeluk erat sebelah kaki Kirana, menangis tersedu-sedu sambil mengusapkan wajahnya ke sepatu hak tinggi menantunya.


"Ibu tahu! Ibu tahu sejak awal kamu itu bukan wanita sembarangan, Nak! Ibu selalu menyayangimu melebihi nyawa Ibu sendiri!" raung Ibu Mertua dengan air mata buaya yang mengalir deras. 


"Tolong suruh polisi-polisi ini melepaskan suamimu, Nak! Dimas itu sangat mencintaimu! Rina-lah yang menggodanya pakai guna-guna! Ayo kita pulang ke rumah kita yang damai, ya?"


Para tamu undangan yang masih mematung di tempat mereka kini mulai berbisik jijik melihat kelakuan tak tahu malu wanita tua itu.


Kirana mendengus pelan. Ia menunduk, menatap wajah Ibu Mertua dengan senyum miring yang membekukan.


"Rumah kita yang damai?" ulang Kirana dengan nada mengejek. 


"Maksud Ibu Mertua, rumah sempit cicilan menunggak di mana Ibu selalu mengunci pintu kulkas setiap kali aku pulang kerja karena takut aku memakan lauk jatah anak kesayanganmu?"


Ibu Mertua gelagapan, wajahnya memucat seketika. 


"I-itu ... itu karena Ibu—"


"Lepaskan kakiku sebelum aku menyuruh pengawalku menendangmu keluar," potong Kirana dingin.


Tanpa menunggu bantahan, Kirana mengentakkan kakinya kuat-kuat, membuat Ibu Mertua terjengkang ke belakang dan menabrak pot bunga hias hingga pecah berantakan.


"Bawa dia, Pak," perintah Kirana tegas kepada para petugas kepolisian.


"Siap, Nona Mahendra!" Petugas langsung menyeret Dimas yang kini sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawan. 


Di sudut lain, Pak Herman juga tampak menyeret Rina keluar dengan kasar, mengabaikan jeritan ampun dari wanita yang telah menipunya itu.


Kirana merapikan gaunnya, membalikkan badan, dan melangkah anggun keluar dari gedung yang tiba-tiba terasa pengap itu. 


Para tamu undangan secara otomatis membelah jalan, menundukkan kepala dengan hormat saat sang pewaris tunggal kerajaan bisnis terbesar itu lewat di hadapan mereka.


Di luar gedung, sebuah Maybach hitam mengkilap sudah menunggu dengan pintu terbuka. Asisten pribadinya, Adrian, menunduk hormat saat Kirana masuk dan duduk di kursi belakang yang mewah.


Mobil itu pun melaju membelah jalanan malam, meninggalkan kehancuran Dimas dan keluarganya.


Kirana menyandarkan tubuhnya yang lelah ke jok kulit empuk, memejamkan mata sejenak. 


Akhirnya, penyamarannya selama tiga tahun untuk mencari cinta tulus seorang pria telah berakhir dengan pembuktian yang paling menyakitkan sekaligus memuaskan.


"Kerja yang sangat rapi, Nona Kirana. Tuan Besar sangat menantikan kepulangan Anda di mansion utama," ucap Adrian dari kursi depan, memecah keheningan di dalam mobil. 


"Semua aset atas nama Dimas sudah kami bekukan, dan sel khusus di tahanan sudah disiapkan untuknya."


"Bagus," jawab Kirana dengan mata masih terpejam. "Pastikan dia tidak mendapat perlakuan khusus apa pun di dalam sana."


"Tentu, Nona. Namun ..." Adrian tiba-tiba menjeda kalimatnya. Nada suaranya yang tenang kini berubah menjadi sedikit tegang.

Kirana membuka matanya pelan, menatap asistennya dari kaca spion tengah. 


"Ada apa, Adrian?"


Adrian menghela napas berat, lalu menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan rekaman CCTV resolusi tinggi dari dealer mobil bekas.


"Ini rekaman satu jam sebelum Dimas menandatangani nota penjualan mobil Anda, Nona. Dia tidak datang sendirian ke sana."


Kening Kirana berkerut. Ia menerima tablet itu dan memperbesar layarnya. 


Di sana terlihat Dimas sedang membuka bagasi mobil mewahnya, lalu mengeluarkan sebuah koper besi berukuran kecil yang sangat familiar bagi Kirana.


"Sebelum menjual mobil tersebut, Dimas terlihat mengeluarkan brankas portabel dari bagasi. Brankas yang berisi dokumen asli pembagian harta warisan kakek Anda," ucap Adrian dengan suara berat dan pelan. 


"Dan dari rekaman CCTV di sudut lain, Dimas terlihat menyerahkan koper itu langsung ke tangan ..."


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...