"Angkat kakimu dari rumah ini sekarang juga, pria benalu! Dan ingat, jangan berani-beraninya membawa sepeser pun dari sini, karena semua yang ada di dalam rumah ini adalah hasil keringatku!"
Suara melengking Kirana, wanita yang telah kunikahi selama tiga tahun terakhir, membelah keheningan malam.
Bersamaan dengan teriakannya, sebuah koper usang dilemparkan ke arahku, mendarat dengan suara debuk kasar di teras.
Beberapa potong pakaian murahku berserakan keluar, mempertegas betapa hinanya diriku di matanya.
Aku menatap koper itu dalam diam, lalu beralih menatap wajah cantik yang kini hanya memancarkan kebencian dan kesombongan.
Di belakang Kirana, ibu mertuaku berdiri sambil melipat tangan di dada, tersenyum sinis dengan sorot mata merendahkan.
"Tunggu apa lagi, Arya? Masih mau mengemis minta dikasihani?" ejek ibu mertuaku dengan tawa mengejek.
"Anakku sudah menemukan pria yang jauh lebih mapan darimu. Pria yang bisa membelikannya perhiasan dan tas bermerek, bukan suami pecundang yang gajinya bahkan tidak cukup untuk membayar tagihan listrik rumah sebesar ini!"
Aku menghela napas panjang, menekan segala emosi yang bergolak di dada. Bukannya marah, sudut bibirku justru terangkat membentuk senyum tipis yang membuat dahi Kirana berkerut heran.
"Kenapa kamu tersenyum, hah? Sudah gila karena jatuh miskin?" dengus Kirana. Ia menunjuk ke arah gerbang dengan jari telunjuknya yang lentik.
"Pergi! Pergi dan bawa pakaian rongsokanmu itu. Mulai detik ini, kita bercerai!"
Aku membungkuk, memungut beberapa potong kemeja lusuhku dan memasukkannya kembali ke dalam koper tanpa tergesa-gesa. Aku tidak memohon.
"Baik," jawabku dengan nada yang kelewat tenang. "Aku akan pergi, Kirana. Semoga kamu tidak pernah menyesali keputusanmu malam ini."
"Menyesal? Cih! Membuang sampah sepertimu adalah keputusan terbaik dalam hidupku!" balasnya pongah, lalu membanting pintu utama dengan keras hingga debu-debu di kusennya berjatuhan.
Aku berdiri sendirian di bawah temaram lampu jalan. Udara malam yang dingin menusuk kulit, tapi hatiku jauh lebih dingin.
Aku menoleh ke belakang, menatap bangunan megah berlantai dua yang selalu dibanggakan Kirana kepada teman-teman sosialitanya.
Aku diusir istriku tanpa membawa apapun. Dia kira kekayaanku hanyalah rumah itu? Dia salah besar!
Selama ini aku sudah mempersiapkan semuanya. Tiga tahun aku hidup di bawah caci maki dan hinaan hanya untuk menguji kesetiaannya, sekaligus menyembunyikan identitas asliku demi menghindari konflik keluarga besarku.
Kini, ujian itu sudah berakhir. Kirana gagal dengan sangat memalukan.
Rumah itu? Perusahaan kecil yang selalu ia banggakan itu? Semua itu hanyalah remah-remah roti yang sengaja kulempar untuknya.
Ia tidak tahu bahwa tanah tempat rumah itu berdiri, bahkan seluruh proyek yang menopang perusahaannya, berada di bawah kendali satu tanda tanganku.
Akan kurebut kembali apa yang menjadi hakku, dan aku akan memastikan dia kehilangan segalanya.
Aku menyeret koperku menjauh dari pekarangan rumah. Tepat di ujung blok yang sepi, sebuah mobil hitam mengkilap telah terparkir menungguku.
Seorang pria paruh baya berjas rapi segera keluar dan membukakan pintu penumpang bagian belakang sambil membungkuk hormat.
"Anda sudah selesai bermain-main dengan keluarga itu, Tuan Muda?" tanyanya dengan nada penuh hormat.
Aku masuk ke dalam kursi kulit yang nyaman, menatap lurus ke arah jendela mobil saat mesin dihidupkan tanpa suara.
"Ya. Hubungi direksi malam ini juga. Cabut semua suntikan dana di perusahaan Kirana dan bekukan semua kartu kredit yang menggunakan namaku," kataku dingin, mata memancarkan kilat permusuhan yang sudah lama tertidur.
"Mari kita lihat, apakah dia masih bisa meneriakiku besok pagi saat menyadari dirinya sudah menjadi gembel."
***
Bab 2
"Gesek saja kartu VIP ini, dan tolong bawakan semua belanjaan ini ke mobilku. Hari ini aku sedang merayakan kebebasanku dari pria melarat tak berguna itu!"
Tawa pongah Kirana menggema di seluruh penjuru butik mewah itu. Di sampingnya, ibu mertuaku ikut tersenyum lebar sambil menenteng dua tas branded yang baru saja mereka pilih.
Wajah mereka berdua memancarkan kelegaan seolah baru saja membuang penyakit menular dari hidup mereka.
Namun, senyum arogan itu hanya bertahan selama beberapa detik.
"Maaf, Bu Kirana," ucap kasir butik itu dengan nada canggung, mengembalikan kartu berwarna keemasan itu ke atas meja kasir.
"Kartu Anda ditolak. Sistem kami menyatakan bahwa kartu ini telah diblokir secara permanen dari bank pusat."
"Apa?! Jangan sembarangan kamu!" bentak ibu mertuaku, matanya melotot tajam. "Anakku ini direktur utama! Mesinmu yang rusak, coba gesek lagi!"
Kirana merampas kartu itu dengan wajah memerah menahan malu, apalagi beberapa pengunjung butik mulai menatap ke arah mereka.
Ia mencoba memberikan dua kartu kredit lainnya, tetapi hasilnya tetap sama. Ditolak.
Di saat yang sama, ponsel Kirana berdering hebat. Panggilan dari sekretaris perusahaannya. Saat ia mengangkatnya, wajah cantik itu seketika pucat pasi seperti mayat.
***
Di tempat lain, dari balik kaca jendela lantai lima puluh gedung Dharmawangsa Group, aku menatap hiruk-pikuk kota Jakarta yang terlihat seperti miniatur.
Pakaian lusuhku telah berganti dengan setelan jas. Tidak ada lagi Arya si suami penurut yang rela mengepel lantai dan memasak demi mendapat senyum dari istrinya.
Yang berdiri di sini adalah Arya Dharmawangsa, pewaris tunggal konglomerat terbesar di negeri ini.
"Tuan Muda," suara Hendra, asisten pribadiku, memecah keheningan ruangan. Ia meletakkan sebuah tablet di atas meja kerjaku.
"Semua instruksi Anda sudah dijalankan. Suntikan dana ke perusahaan Nyonya Kirana telah ditarik sepenuhnya. Pihak bank juga sudah membekukan seluruh aset yang mengatasnamakan Anda."
Aku tersenyum dingin. Tiga tahun lalu, kakekku memberiku syarat untuk menyembunyikan identitas asliku sebelum menyerahkan tahta perusahaan ini.
Aku memilih Kirana, berharap kutemukan ketulusan di balik kesederhanaan.
Nyatanya, yang kutemukan hanyalah lintah yang menguras darahku, didukung oleh ibu mertua yang rakus akan harta.
Rumah mewah, mobil, bahkan modal awal perusahaan Kirana, semua itu berasal dari uang pribadiku yang diam-diam kutransfer melalui 'investor fiktif'. Dan kini, sang investor telah mencabut nyawanya.
"Bagaimana reaksi mereka?" tanyaku santai sambil menyesap kopi hitamku.
"Kekacauan total, Tuan. Perusahaan Nyonya Kirana saat ini sedang diserbu oleh para kreditor. Dan yang lebih menarik."
Hendra menyodorkan sebuah map merah ke arahku.
"Kami sudah menyelidiki latar belakang pria mapan yang menjadi selingkuhan mantan istri Anda semalam. Pria yang membelikannya tas dan perhiasan itu."
Aku membuka map tersebut, menatap foto seorang pria necis yang tersenyum sombong. Mataku menyipit membaca jabatannya. S
ebuah tawa sinis tanpa sadar lolos dari bibirku. Dunia ini benar-benar sempit.
"Jadi, pria mapan yang sangat dibanggakan oleh Kirana dan ibunya itu hanyalah manajer cabang tingkat tiga di salah satu anak perusahaan kita?"
"Benar, Tuan Muda. Apa yang harus kami lakukan padanya?"
Aku menutup map itu dan melemparkannya ke atas meja dengan tatapan sedingin es.
"Hancurkan karirnya, pecat dia dengan tidak hormat, dan pastikan tidak ada satu pun perusahaan di kota ini yang mau mempekerjakannya lagi. Aku ingin melihat, apakah Kirana masih mau memujanya saat tahu 'pangeran penyelamatnya' baru saja menjadi gembel karena ulah mantan suami yang ia usir!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar