"Pastikan airnya hangat, Dinar. Istriku tercinta ini memang kondisinya sedang sangat lemah, tak bisa melihat atau berjalan. Tapi bagiku, dia tetaplah ratu di rumah ini. Aku tidak mau kulitnya sampai tergores sedikit pun."
Suara berat dan lembut milik Pak Damar menggema. Laki-laki berwajah tampan itu mengusap lembut puncak kepala istrinya, Larasita, yang duduk diam di atas kursi roda khusus.
Siapa pun yang melihat adegan itu pasti akan terharu, mengagumi betapa tulusnya cinta seorang suami kepada istrinya.
Siapa pun, kecuali aku.
Aku menunduk sambil mengangguk pelan.
"Baik, Pak. Akan saya mandikan Ibu Larasita dengan sangat hati-hati."
"Terima kasih, Dinar. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu," ucapnya lembut, menatap istrinya sejenak dengan sorot mata sedih, lalu membalikkan badan dan keluar dari kamar mandi.
Begitu pintu tertutup, aku menghela napas panjang dan menatap pantulan diriku di cermin.
Rasanya aku ingin muntah. Hanya satu jam yang lalu, di ruang laundry, aku tanpa sengaja mendengar pria yang "penuh kasih sayang" itu menelepon selingkuhannya sambil tertawa lepas.
“Sabar ya, Sayang. Istriku yang malang itu tidak tahu apa-apa soal hubungan kita. Begitu urusan pengalihan asetnya selesai bulan depan, aku akan mengirimnya ke panti jompo terpencil dan kita bisa bebas liburan ke Eropa. Semuanya akan jadi milik kita.”
Mengingat kalimat itu membuat hatiku berdesir nyeri saat menatap Bu Larasita. Wanita baik hati ini dulunya adalah seorang pengusaha sukses yang luar biasa.
Namun kecelakaan tragis setahun lalu merenggut penglihatan dan kemampuannya berjalan.
Kini, pandangannya selalu kosong. Tubuhnya kurus dan pasrah saat aku perlahan memapahnya masuk ke dalam bathtub yang sudah kuisi dengan air hangat dan sabun beraroma mawar.
"Airnya tidak terlalu panas kan, Bu?" tanyaku lembut sambil mulai membasuh bahunya dengan spons. "Bapak tadi pesan agar airnya pas."
Tidak ada jawaban. Seperti biasa. Hanya deru napasnya yang teratur.
"Hari ini di luar cerah sekali, Bu. Mungkin nanti sore kita bisa minta tolong satpam untuk bawa Ibu duduk di taman belakang," ujarku lagi, berusaha memecah keheningan yang menyesakkan dadaku.
Aku terus menggosok punggungnya, lengannya, lalu berbalik sebentar ke arah rak kayu di belakangku untuk mengambil botol sampo.
Terdengar suara air bergemericik cukup keras dari arah bathtub, seolah seseorang baru saja bergerak dengan cepat.
"Ibu Larasita, pelan-pelan Bu, nanti Ibu bisa terpeleset," kataku cemas sambil memutar tubuh kembali ke arahnya.
Kalimatku terputus. Botol sampo di tanganku meluncur jatuh, menghantam lantai marmer dengan suara bantingan yang menggema.
Napasku tercekat di tenggorokan. Kakiku seolah terpaku ke lantai.
Wanita itu tidak lagi duduk pasrah di dalam air.
Bu Larasita berdiri dengan tegap di dalam bathtub. Kedua kakinya menopang tubuhnya dengan sempurna. Namun, bukan itu yang membuat jantungku nyaris melompat dari dada.
Mata yang selama ini selalu kosong dan tak bernyawa itu, kini menatap lurus tepat ke arah manik mataku. Sorot matanya begitu jernih, tajam, namun memancarkan sebuah permohonan yang mendalam.
Ternyata wanita yang selama ini kuanggap tak berdaya itu menyembunyikan rahasia besar di balik diamnya.
Aku melangkah mundur dengan bibir gemetar, nyaris tak bisa mengeluarkan suara.
"I-ibu ... mata Ibu ... kaki Ibu ..."
Air mata tiba-tiba menetes dari sudut mata Larasita, melintasi pipinya, tapi wajahnya menunjukkan ketegaran yang luar biasa. Dia melangkah selangkah mendekatiku.
"Kunci pintunya sekarang, Dinar," bisiknya dengan suara yang begitu tegas, sama sekali berbeda dengan sosoknya yang selama ini rapuh.
"Suamiku mengira dia berhasil mengelabui istri yang tak berdaya. Padahal, aku memalsukan kondisiku untuk mengumpulkan bukti kejahatannya dan aku butuh bantuanmu, karena aku mendengar percakapannya semalam, orang berikutnya yang berencana dia singkirkan dari rumah ini adalah dirimu."
***
Bab 2
"Kunci pintunya, Dinar. Sebelum suamiku yang bermulut manis itu masuk dan sandiwara yang kubangun dengan air mata selama setahun ini hancur berantakan."
Tanganku bergetar hebat saat memutar gerendel pintu. Bunyi kecil itu terasa mengiris kesunyian.
Aku berbalik, punggungku bersandar pada daun pintu kayu, menatap Bu Larasita yang kini meraih handuk dan menutupi tubuhnya yang basah. Tatapan matanya sangat jernih, memancarkan kepedihan dan ketegaran yang selama ini ia pendam sendirian.
"I-ibu, bagaimana bisa? Lalu kenapa Ibu membiarkan Pak Damar memperlakukan Ibu seperti ... seperti orang yang sama sekali tidak berdaya?" suaraku nyaris berupa bisikan parau.
Bu Larasita tersenyum getir. Ia melangkah perlahan ke arah wastafel, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
"Kecelakaan rem blong setahun lalu itu bukan musibah, Dinar. Itu adalah rencana rapi yang disusun oleh suamiku. Dia sengaja merusak mobilku agar bisa menguasai seluruh perusahaan dan aset yang kubangun dari nol."
Aku menutup mulut dengan kedua tangan. Mataku memanas.
Ya Tuhan, pria yang selama ini terlihat seperti malaikat pelindung itu ternyata memiliki hati sekelam iblis?
"Aku sadar dari koma lebih cepat dari perkiraan dokter, dan saat itulah aku mendengar rencananya dengan wanita itu," lanjut Bu Larasita, suaranya sedikit bergetar menahan emosi.
"Jika aku menunjukkan bahwa aku sudah sembuh total, dia pasti akan mencari cara lain untuk menyingkirkanku. Jadi, aku memilih berpura-pura kehilangan segalanya. Duduk diam di kursi roda, menatap kosong, demi mengumpulkan bukti-bukti penggelapan dana dan perselingkuhannya tanpa dia sadari."
Bu Larasita lalu menoleh menatapku lekat.
"Dan sekarang, dia merasa kau terlalu telaten merawatku dan terlalu banyak tahu tentang rutinitasku. Dia berencana mengusirmu malam ini juga agar bisa membawa wanita itu masuk ke rumah ini dengan bebas."
Tiba-tiba, suara ketukan keras dari luar membuat jantungku nyaris melompat.
"Dinar? Ada apa di dalam? Kenapa pintunya dikunci? Larasita baik-baik saja, kan?" Suara cemas Pak Damar terdengar menggelegar dari balik pintu.
Dalam hitungan detik, ketegaran di wajah Bu Larasita menghilang. Dia segera menjatuhkan handuknya, melangkah cepat masuk kembali ke dalam bathtub, dan duduk dengan posisi bahu melengkung. Matanya kembali kosong dan tak bernyawa.
Perubahan yang luar biasa cepat itu membuatku takjub sekaligus merinding.
"Buka pintunya, Dinar. Bilang saja kau tak sengaja menguncinya saat mengambil sabun yang jatuh," bisik Bu Larasita dengan suara sangat pelan.
Aku buru-buru menarik napas panjang, menetralkan ekspresiku sedemikian rupa, lalu membuka pintu.
Pak Damar langsung menerobos masuk, matanya menyapu seluruh penjuru kamar mandi dengan tatapan penuh selidik sebelum akhirnya melembut saat menatap istrinya.
"Kenapa dikunci?" tanyanya dengan nada dingin yang ditujukan padaku.
"M-maaf, Pak," jawabku menunduk, sengaja meremas ujung seragamku agar terlihat gugup. "Tadi botol samponya jatuh, dan saat saya menunduk untuk mengambilnya, bahu saya tak sengaja menyenggol tombol kunci pintu."
Pak Damar mendengus pelan, rahangnya sempat mengeras sesaat. Dia kemudian mendekati Bu Larasita, mengusap lembut pipi istrinya yang basah.
"Sayang, kau tidak apa-apa kan? Dinar tidak menyakitimu, kan?" tanyanya dengan suara selembut sutra.
Bu Larasita hanya diam, menatap kosong ke arah ubin. Aktingnya sungguh tanpa celah.
Merasa tak ada yang aneh, Pak Damar kembali berdiri tegak dan menatapku dengan sorot mata mengintimidasi.
"Mandikan istriku sampai bersih. Setelah selesai, temui aku di ruang kerjaku di lantai dua. Ada hal penting yang harus kita bicarakan secara pribadi."
Pria itu memutar tubuh dan berjalan keluar.
Namun, saat suara langkah kakinya sudah menjauh di lorong, Bu Larasita perlahan menoleh ke arahku.
Sorot matanya kembali tajam, menyiratkan peringatan yang membuat napasku tertahan.
"Temui dia di ruangannya, Dinar. Dia akan menyodorkan segepok uang pesangon dan tiket kereta agar kau pergi dari rumah ini selamanya. Tapi sebelum kau mengambil uang itu, tatap baik-baik foto wanita yang menyembul dari balik map biru di atas mejanya, karena kau akan sangat terkejut saat menyadari bahwa selingkuhannya itu adalah seseorang yang mengalirkan darah yang sama di nadimu."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar