Minggu, 12 April 2026

Aku Jatuh Miskin Setelah Menceraikan Istriku. Ternyata Istriku adalah...

 


"Dulu Ibu yang terus memaksa agar aku menceraikan Maya! Ibu memfitnahnya macam-macam sampai aku tega mengusirnya! Sekarang lihat, setelah Maya pergi, entah kenapa semua usahaku hancur! Perusahaanku tiba-tiba bangkrut total karena terlilit utang dan kita jadi gembel, Bu!"


"Kamu anak durhaka, beraninya menyalahkan Ibu?!" jerit Ibu, suaranya bersaing dengan derasnya hujan malam ini. 


Tangannya yang keriput dan gemetar sibuk mengais tumpukan kantong plastik hitam di belakang restoran. 


"Itu murni karena otakmu saja yang tiba-tiba tumpul berbisnis! Cepat cari makanan, Ibu sudah mau mati kelaparan!"


"Aku ini mantan CEO, Bu! Masa aku harus makan sisa gigitan orang?!"


"Makan gengsimu itu! Kalau mau hidup, korek sampah ini!"


Perdebatan kami mendadak terhenti. Sorot lampu mobil yang menyilaukan menembus kegelapan gang kumuh tempat kami berada. 


Sebuah mobil mewah berkelas dunia membelah genangan air, berhenti dengan mulus tepat di depan kami yang sedang memperebutkan sisa makanan.


Pintu belakang mobil terbuka perlahan. Seorang wanita melangkah turun. Gaunnya sangat elegan, memancarkan aura luar biasa yang tak mungkin bisa dibeli dengan uang murah.


"I-itu ... Maya?" gagap Ibu, menjatuhkan setengah potong roti berjamur dari tangannya.


Iya, itu Maya. Istri yang dulu selalu dihina Ibu sebagai menantu kampungan dan pembantu tak berguna.


Dari balik pintu mobil yang sama, menyusul turun seorang gadis kecil dengan mantel bulu yang hangat dan bersih. Itu Aira, anak kandungku.


"Papa? Oma?" panggil Aira lantang. Jari kecilnya menunjuk lurus ke arah kami yang kotor, basah, dan berbau busuk.


"Aira, ini Papa, Nak," rintihku, mencoba melangkah maju dari tumpukan kardus basah. "Maya, tolong kami. Ibu sedang sakit."


Namun Maya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak tertawa sombong, tidak juga memaki. Ia hanya mematung di bawah payungnya. 


Matanya menatap lurus ke arahku dan Ibu—dingin, kosong, dan tak terbaca. Dia pura-pura tidak mengenal kami, seolah kami hanyalah debu tak kasat mata di pinggir jalan.


"Papa dan Oma kok berebut makanan sisa di sana?" suara polos Aira tiba-tiba mengiris malam, menatap kami tanpa rasa kasihan sedikit pun. 


"Dulu Papa membuang Mama dan Aira seperti sampah, sekarang Papa dan Oma yang jadi sampahnya ya?"


***


Bab 2

"Pastikan jalanan ini dibersihkan dari kotoran sebelum kita lewat. Jangan sampai sepatu putriku menginjak sesuatu yang kotor."


Suara Maya terdengar begitu tenang, jernih, dan membeku seperti es. Matanya menatap lurus ke depan, melewati aku dan Ibu, memberi isyarat kepada pria berjas hitam di sebelahnya.


"Baik, Nyonya Besar," jawab pria bertubuh tegap itu seraya menunduk hormat.


Aku terkesiap. Nyonya Besar? 


Sejak kapan Maya, wanita yang dulu setiap hari kuomeli karena kuah sayur asamnya kurang asin, dipanggil dengan sebutan sehormat itu oleh pengawal setingkat pasukan khusus?


"Maya! Ini Ibu, Nak! Ibu mertuamu!" Ibu tiba-tiba meronta, mencoba merangkak maju mendekati Maya dengan tangan penuh sisa makanan. 


Kesombongan yang selama ini selalu ia pamerkan hancur berkeping-keping di hadapan kemewahan sang mantan menantu. 


"Tolong Ibu. Ibu sakit, Adrian bangkrut! Beri kami sedikit uang dari tas mewahmu itu!"


Dua pengawal bertubuh kekar langsung melangkah maju, memblokir jalan Ibu dengan sigap. 


Salah satu dari mereka menepis tangan Ibu hingga wanita tua itu tersungkur kembali ke genangan air kotor.


"Jangan berani-berani menyentuh Nyonya Besar kami dengan tangan kotormu!" bentak pengawal itu tajam.


Maya bahkan tidak berkedip. Ia hanya menatap jemarinya sendiri yang kini dihiasi cincin berlian biru berkilauan, lalu menunduk menatap Aira. 


"Ayo, Sayang. Di luar udaranya tidak bagus, banyak polusi."


"Tunggu, Maya!" Aku memberanikan diri berteriak, suaraku parau dan bergetar hebat. 


Rasa lapar di perutku mendadak tergantikan oleh rasa penasaran yang mencekik. 


"Apa ... apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kau secepat ini?"


Langkah Maya terhenti. Ia perlahan menoleh. Untuk pertama kalinya malam ini, ia benar-benar menatap mataku. 


Namun, tak ada sisa-sisa cinta atau rasa hormat yang dulu selalu ia berikan padaku. Yang kulihat hanyalah tatapan seorang penguasa yang sedang melihat serangga.


Tiba-tiba, ingatanku terlempar pada kejadian beberapa bulan lalu, tepat di hari aku mengusirnya dari rumah. 


Seminggu setelah Maya pergi, investor terbesarku mendadak menarik dananya tanpa alasan. Bank-bank memblokir pinjamanku. 


Klien-klien raksasaku membatalkan kontrak sepihak. Perusahaanku hancur lebur seperti disapu badai kasat mata, menyisakan tumpukan utang yang membuatku dan Ibu berakhir di jalanan.


Apakah kebangkrutanku yang tidak masuk akal itu bukan sekadar nasib buruk?


Belum sempat aku mencerna pikiran gilaku sendiri, pintu belakang restoran mewah itu terbuka lebar. 


Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi—yang sangat kukenali sebagai manajer dari seluruh jaringan restoran bintang lima ini—berlari tergopoh-gopoh menerobos hujan, menunduk hingga sembilan puluh derajat tepat di hadapan Maya.


"Selamat datang kembali, Nyonya Besar," ucap manajer itu dengan suara bergetar penuh hormat. 


"Semua dokumen sudah siap. Perusahaan rintisan milik pria gembel itu sudah resmi berada di bawah nama Anda per sore ini. Apa instruksi selanjutnya? Menghancurkannya hingga rata dengan tanah, atau membiarkannya membusuk?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...