"Arini, kumohon. Mas tahu Mas khilaf, tapi tolong jangan bertindak sejauh ini! Mas ini suamimu, ayah dari anak yang sedang kamu kandung! Sebenci itukah kamu sampai tega membuang Mas ke jalanan seperti ini?!"
Aku berteriak menatap layar ponsel di tangan pengacara itu, mengabaikan tatapan tajam para pria berbadan tegap yang mengawasiku.
Air mataku kembali menetes, mempertaruhkan sisa harga diri yang sudah hancur tak bersisa.
Namun, wajah Arini di seberang sana tetap sedingin pualam. Tidak ada lagi gurat kepatuhan atau binar cinta yang selama ini selalu ia tujukan padaku.
"Suami? Ayah?" Arini tersenyum miring, sebuah senyum elegan namun sanggup mengiris kewarasanku.
"Sejak detik kamu menjatuhkan talak dan membanting pintu di saat aku memohon belas kasihan semalam, posisi itu sudah mati untukmu. Selamat menikmati malam panjangmu di jalanan, Dewa. Ini baru pemanasan."
Layar menggelap. Panggilan dimatikan secara sepihak.
"Waktu Anda sudah habis, Pak Dewa. Silakan tinggalkan area properti milik Nona Arini sekarang juga, atau staf keamanan kami yang akan menyingkirkan Anda," ucap pengacara itu dengan nada datar, lantas berbalik masuk ke dalam pekarangan dan mengunci gerbang besi rapat-rapat.
Aku terpaku menatap gerbang rumah yang menjulang tinggi itu.
Rumah berlantai dua yang selama tiga tahun ini kubanggakan kepada semua orang sebagai hasil keringatku sendiri.
Dulu, aku selalu menyombongkan diri karena bisa membayar cicilan bulanannya, menutup mata pada kenyataan bahwa Arini-lah yang membayar uang muka dan melunasi sebagian besar tagihannya secara diam-diam.
Angin malam berembus kencang, menembus kemejaku yang mulai lembap oleh keringat dingin.
Dengan langkah gontai dan dada yang terasa sesak oleh penyesalan, aku menyeret tiga koper besarku menjauh dari rumah itu.
Jalanan perumahan tampak sepi. Kepalaku berdenyut nyeri memikirkan ke mana aku harus pergi malam ini.
Pekerjaan melayang, rumah disita, dan aku sama sekali tidak memegang uang tunai karena seluruh tabunganku telah digunakan Arini atas nama cinta dan pengorbanannya, untuk menyelamatkan nyawa ibuku.
Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepalaku. Mbak Rika!
Ya, kakak perempuanku itu tinggal di sebuah perumahan elite tak jauh dari sini.
Suaminya, Mas Danu, adalah seorang kontraktor sukses yang memiliki banyak proyek besar. Mbak Rika selalu memamerkan kekayaannya di setiap acara keluarga.
Setidaknya, untuk beberapa hari ke depan, aku bisa menumpang di rumah mewahnya sampai aku bisa mencari pekerjaan baru dan memohon ampunan pada Arini.
Dengan sisa uang receh di saku, aku memesan taksi online. S
epanjang perjalanan, aku merangkai kata demi kata di kepalaku, mencoba mencari alasan yang tepat agar Mas Danu mengizinkanku tinggal sementara waktu.
Namun, begitu taksi berhenti di depan gerbang perumahan elite tempat Mbak Rika tinggal, pemandangan di depan mata membuat darahku berdesir hebat.
Di depan rumah mewah bergaya klasik itu, sebuah mobil milik Mbak Rika sedang ditarik oleh mobil derek.
Beberapa pria berjas yang tampak sangat formal sedang mengeluarkan barang-barang bermerek dari dalam rumah, membiarkannya berserakan di garasi.
Dan di sana, di tengah kekacauan itu, Mbak Rika menangis histeris. Ia berusaha menahan koper-kopernya, namun suaminya, Mas Danu, menepisnya dengan kasar hingga wanita yang tadi siang begitu angkuh menghina Arini itu kini jatuh terduduk di lantai garasi.
Aku bergegas turun dari taksi, setengah berlari menyeret koperku mendekati mereka.
"Mbak Rika! Mas Danu! Ada apa ini?!" teriakku panik.
Mbak Rika mendongak. Wajahnya dipenuhi riasan yang luntur oleh air mata. Begitu melihatku, sorot matanya yang penuh ketakutan berubah menjadi kemarahan yang menyala-nyala.
Namun, sebelum Mbak Rika sempat membuka mulutnya, Mas Danu melangkah maju. Wajah pria paruh baya itu memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
Ia menatapku dan Mbak Rika bergantian dengan kilat kebencian yang belum pernah kulihat sebelumnya, lalu melemparkan sebuah map tebal tepat ke wajah kakakku.
"Kalian berdua benar-benar benalu pembawa sial! Gara-gara kalian berani mengusik dan menghina Nona Arini Suryanegara, seluruh proyek perusahaanku dibatalkan sepihak malam ini juga dan aku dituntut ganti rugi puluhan miliar! Bawa koper-kopermu dan pergi dari rumahku sekarang juga, karena mulai detik ini, kamu resmi kuceraikan, Rika!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar