Senin, 18 Mei 2026

(18) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

 


"Kirimkan seragam pelayan bekas yang kemarin dipakai Putri ke alamat kos-kosan kumuh yang baru saja disewa Adi siang ini. Oh, jangan lupa sertakan sebotol karbol lantai murahan dengan catatan: Selamat menempuh hidup baru. Pastikan selingkuhanmu sudi memakainya untuk membersihkan kamar berdebumu."


Aku tersenyum penuh kemenangan setelah memberikan instruksi tersebut melalui telepon kepada asisten pribadiku. 


Kutaruh kembali ponselku ke atas meja kaca di ruang direksi, lalu menatap dua orang yang sedari tadi mendengarkan rencanaku.


Putri yang duduk di sofa seberangku menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir meledak, namun matanya memancarkan rasa takjub yang luar biasa. 


Sementara itu, Komandan Dirga yang berdiri tegap di sudut ruangan, ikut melengkungkan senyum tipis di bibir tegasnya.


"Saya rasa mantan suami Nyonya Putri lebih membutuhkan salep luka bakar dan obat penenang daripada karbol lantai, Nyonya Besar. Tapi harus saya akui, taktik serangan psikologis Anda sungguh tanpa cacat," komentar Komandan Dirga dengan suara baritonnya yang tenang.


Aku tertawa pelan, menyilangkan kaki dengan anggun. 


"Luka di kakinya akan sembuh dalam seminggu, Komandan. Tapi luka di harga dirinya? Ibu pastikan itu akan bernanah seumur hidupnya."


Aku beralih menatap Putri. Menantuku itu sudah terlihat jauh lebih segar hari ini. Setelan blazer navy itu benar-benar menonjolkan aura kecantikannya yang selama setahun ini sengaja dikubur oleh Adi.


"Putri, mulai besok, Ibu akan memanggil guru privat dan konsultan bisnis terbaik untuk mengajarimu segala hal tentang manajemen Rajendra Corporation," ucapku serius. 


"Kamu akan menempati kursi direktur utama, menggantikan posisi Ibu secara perlahan."


Putri terkesiap. Kepanikan kembali tergambar jelas di wajah lembutnya. 


"D-direktur Utama?! Ibu ... Putri gak mungkin bisa! Putri cuma lulusan SMA, Putri gak ngerti cara memimpin ribuan karyawan. Nanti kalau perusahaan Ibu hancur gara-gara Putri bagaimana?"


Kepala Putri menunduk dalam, jari-jarinya kembali saling meremas dengan gelisah. 


Bayang-bayang hinaan Adi yang selalu menyebutnya 'perempuan bodoh' seolah kembali menghantuinya.

Namun, sebelum aku sempat menenangkan Putri, Komandan Dirga melangkah maju. Sepatu boots militernya berketuk pelan di atas karpet tebal, lalu ia berhenti tepat di samping sofa Putri. Pria gagah berseragam itu sedikit membungkuk, menyodorkan segelas air mineral yang entah sejak kapan sudah ia siapkan.


"Seorang jenderal yang hebat tidak lahir dari sekolah militer yang mahal, Nyonya Putri. Mereka lahir dari keberanian di medan perang," ucap Dirga lembut, menatap tepat ke manik mata Putri yang berkaca-kaca. 


"Anda sudah berhasil melewati medan perang paling kejam di rumah mantan suami Anda. Memimpin sebuah perusahaan hanyalah soal strategi kertas. Dan selama saya berdiri di belakang Anda, tidak akan ada satu pun dokumen atau manusia yang berani menyakiti Anda."


Mata Putri membesar. Rona merah seketika menjalar cepat dari leher hingga ke kedua pipinya. Tangannya yang gemetar saat menerima gelas itu tak sengaja bersentuhan dengan punggung tangan Dirga yang kasar dan hangat. 


Putri buru-buru menunduk, meminum airnya dengan salah tingkah.


"S-siap, Komandan ... eh, maksud saya, terima kasih," cicit Putri gugup.


Aku menyembunyikan tawaku di balik cangkir teh. Sungguh pemandangan yang menyegarkan di tengah panasnya aksi balas dendam ini.


***


Di sudut lain ibu kota yang berdebu dan bising, Adi duduk memeluk lutut di atas kasur tipis tanpa dipan. 


Kipas angin kecil di sudut ruangan kos-kosan berukuran 3x3 meter itu berputar mengeluarkan suara berderit, sama sekali tidak mengusir hawa panas yang memanggang tubuhnya.


Pria yang kemarin masih tidur di ranjang king size berpendingin sentral itu, kini harus menelan ludah menginap di kos murah pinggiran kota. 


Ia berhasil menyewanya dengan sisa uang hasil menggadaikan ikat pinggang kulit hermes miliknya ke seorang teman. 


Kakinya yang melepuh hanya diolesi pasta gigi karena ia tak sanggup membeli salep di apotek.


"Sialan ... Sialan kalian semua!" rutuk Adi mengacak-acak rambutnya frustrasi.


Bella, selingkuhan yang ia bangga-banggakan itu, benar-benar memblokir nomornya setelah memaki-makinya tadi siang. 


Tak ada lagi mobil mewah, tak ada lagi apartemen, tak ada lagi jabatan mentereng.


"Ah, kenapa hidupku jadi hancur seperti ini? Kenapa hidupku dihancurkan ibuku sendiri?"


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...