"Cerai?! Mas Danu, kamu jangan gila! Aku ini istrimu! Kenapa kamu ikut-ikutan membuangku hanya karena Dewa yang salah memilih lawan?!"
Jeritan Mbak Rika memecah keheningan malam di perumahan elite itu.
Ia meronta, berusaha memeluk kaki suaminya, menolak kenyataan bahwa kemewahan yang selama ini ia agungkan hancur lebur dalam hitungan jam.
Mas Danu menepis pelukan itu dengan kasar, wajahnya merah padam menyimpan murka yang tak tertahankan.
"Kau pikir Keluarga Suryanegara menghancurkan perusahaanku murni karena Dewa?!" bentak Mas Danu seraya menunjuk tepat di depan wajah Mbak Rika.
"Asisten Tuan Bara baru saja meneleponku! Dia bilang semua ini terjadi karena mulut berbisamu yang berani menghina Nona Arini di lorong rumah sakit siang tadi! Kau menuduhnya pencuri, kau menghina bayinya, dan sekarang, aku yang harus menanggung kebodohanmu, Rika!"
"Mas, aku tidak tahu kalau dia ... aku sungguh tidak tahu!" Mbak Rika terisak keras, air matanya melunturkan riasan mahalnya.
"Alasanmu sudah terlambat! Bawa koper-kopermu dan menyingkir dari rumahku!" Mas Danu berbalik, masuk ke dalam rumah mewahnya dan membanting pintu utama dengan suara berdebum yang memekakkan telinga.
Tinggallah aku dan Mbak Rika, dua kakak beradik yang kini resmi menjadi gelandangan, berdiri mematung di pinggir jalan yang sepi.
Angin malam berembus semakin dingin, menusuk hingga ke tulang.
Aku menatap nanar koper-koper kami yang berserakan. Baru kemarin aku membanggakan jabatanku di depan teman-temanku, dan Mbak Rika memamerkan tas branded terbarunya di arisan keluarga.
Kini, kami tak lebih dari pesakitan yang tak punya tujuan.
Tiba-tiba, Mbak Rika bangkit. Ia berjalan cepat ke arahku, dan tanpa aba-aba ...
PLAAAKKK!!
Sebuah tamparan keras, yang jauh lebih kuat dari tamparanku siang tadi, mendarat telak di pipiku.
"Ini semua gara-gara kamu, Dewa!" jerit Mbak Rika histeris, memukul-mukul dadaku dengan kedua tangannya.
"Kalau saja kamu tidak menikahi perempuan yang menyembunyikan identitasnya itu, atau setidaknya kalau kamu tidak mengusirnya semalam, aku tidak akan berakhir seperti ini! Kembalikan suamiku! Kembalikan hartaku, Dewa!"
Aku hanya bisa diam, membiarkan Mbak Rika melampiaskan amarahnya hingga ia terduduk lemas di aspal. Hatiku terlalu hancur untuk sekadar membalas.
Bayangan wajah Arini yang menatapku dingin dari layar ponsel tadi terus berputar di kepalaku layaknya kaset rusak.
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar