Satu jam kemudian, setelah Akbar pamit pergi yang aku yakini bukan ke pasar induk, melainkan kembali ke pelukan wanita bergaun merah itu, aku langsung bersiap menuju pasar.
Namun, baru saja aku membuka pintu depan, sebuah mobil putih mengkilap berhenti tepat di halaman sempit kontrakanku.
Kaca mobil turun perlahan, menampilkan wajah angkuh berbalut riasan tebal dari balik kacamata hitam. Ibu mertuaku.
Ia turun tanpa repot-repot membalas senyum apalagi salamku. Matanya memindai rumah kontrakanku dengan tatapan merendahkan, sebelum tangannya yang penuh perhiasan emas menyodorkan sebuah rantang plastik murahan ke dadaku.
"Ini, ada sisa nasi kotak dari acara arisan Mama kemarin. Sayang kalau dibuang ke tempat sampah, mending buat kamu sama Akbar. Lagian kamu kan harus hemat mati-matian demi bayar utang anakku," ucapnya angkuh.
Mataku tanpa sengaja menangkap kilau cincin berlian biru di jari manisnya, kado anniversary yang kulihat semalam, berlian yang harganya sepadan dengan sepuluh bulan keringat kateringku.
Aku menerima rantang itu dengan tangan sedikit bergetar.
Bukan karena sedih, melainkan menahan luapan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun.
"Oh ya," tambah mertuaku, menepuk pundakku dengan kuku-kukunya yang baru di-manicure rapi.
"Mama dengar bulan depan tagihan katering dari proyek kantormu cair besar, kan? Langsung transfer semuanya ke rekening Pak Johan, ya! Jangan serakah kamu pakai untuk jajan. Kasihan suamimu tiap hari stres mau bunuh diri karena diancam lintah darat," ucapnya dengan raut memelas yang begitu palsu, seraya mengelus berlian di jarinya dengan bangga.
Aku menunduk sejenak, menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat wajahku.
Aku menatap lurus tepat di manik mata mertuaku, menyunggingkan senyum paling manis, paling tulus, dan paling mematikan yang pernah kumiliki.
"Tentu saja, Ma. Mama tenang saja. Bulan depan, jangankan sisa utangnya, 'nyawa' Mas Akbar beserta seluruh isinya pun, akan aku serahkan langsung ke tangan Mama."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar