Sabtu, 16 Mei 2026

(24) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Biarkan dia meratapi kerasnya aspal jalanan malam ini, Fit. Karena besok pagi, saat matahari terbit, neraka yang sebenarnya baru akan membuka pintunya untuk menyambut wanita itu."


Aku melipat kembali kertas bermaterai yang mulai menguning itu dengan gerakan sangat perlahan, seolah benda itu adalah sebuah granat yang siap meledak. 


Senyum dingin yang tak pernah kuketahui kumiliki kini tercetak jelas di bibirku. Udara di ruang tamu terasa mendingin, seiring dengan amarah dan rencana gila yang mulai tersusun rapi di kepalaku.


Fitri menatapku dengan kening berkerut dalam, rasa penasaran tergambar jelas di wajah cantiknya. Ia mencoba melongok, berusaha melihat isi dari kertas yang baru saja kutemukan di dasar kotak kayu Bapak.


"Kertas apa itu, Mas? Bukti kejahatan Ibu yang lain?" tanyanya dengan suara tertahan. 


"Kenapa tidak kita serahkan saja semuanya ke Dimas sekarang agar polisi bisa langsung bertindak?"


Aku menoleh, menangkup sebelah pipi istriku dan mengusapnya lembut untuk meredakan kecemasannya.


"Belum saatnya, Sayang," jawabku tenang. 


Aku memasukkan amplop cokelat itu ke dalam saku kemejaku, menguncinya rapat-rapat dari pandangan siapa pun. 


"Kalau kita serahkan ini ke polisi sekarang, Ibu hanya akan dipenjara. Ia akan diberi makan gratis tiga kali sehari di balik jeruji besi, dan mungkin dalam beberapa tahun ia bisa bebas dengan remisi. Itu terlalu nyaman untuk seseorang yang telah menukar nyawa suaminya sendiri demi gaya hidup."


Aku bangkit berdiri, menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan jalanan kompleks yang mulai menggelap. 


Di luar sana, wanita yang melahirkanku itu pasti sedang luntang-lantung mencari tempat berteduh.


"Lalu, apa rencana Mas?" tanya Fitri, ikut berdiri di sampingku. Ia tak sedikit pun meragukan keputusanku, matanya memancarkan dukungan penuh.


"Kita akan menggunakan titik kelemahan terbesarnya untuk menghancurkannya, Fit. Keserakahannya."


Aku meminta ponsel Fitri dan segera mencari nomor Dimas. Nada sambung hanya berbunyi satu kali sebelum asisten pribadi yang setia itu mengangkatnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Putra?" sapa Dimas dari seberang sana, nadanya sangat profesional dan sigap.


"Dimas, aku butuh sumber dayamu malam ini juga," perintahku tanpa basa-basi, suaraku mengalun tegas layaknya seseorang yang sedang memegang kendali penuh atas sebuah permainan catur. 


"Kerahkan orang-orangmu untuk melacak di mana ibuku menggelandang malam ini. Pastikan dari jauh bahwa dia aman dan tidak mati kelaparan, karena aku butuh dia tetap bernapas untuk pertunjukan besok."


"Baik, Tuan. Apa langkah selanjutnya?"


Aku tersenyum miring, membayangkan skenario yang akan membuat Ibu terbang tinggi ke awan sebelum akhirnya kujatuhkan ke dasar jurang tanpa dasar.


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...