"Cepat setrika kemeja sutraku dan gelar karpet tebal di ruang tamu! Hari ini, aku akan membuktikan bahwa Dimas bukanlah gembel yang bisa ditindas, melainkan seorang miliarder muda yang akan membeli harga diri bos sialan itu!"
Teriakan antusias Dimas menyambut pagiku. Kantung matanya sedikit menghitam karena tak bisa tidur semalaman akibat ketakutan, namun kini wajahnya berseri-seri penuh kesombongan.
Ia berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya parlente yang justru terlihat menggelikan di mataku.
Aku mengangguk patuh, segera mengambil setrika dan melicinkan kemeja mahalnya dalam diam.
Di kamar seberang, kulihat sekilas Suster Bella, sang selingkuhan, juga sibuk memoles wajahnya dengan lipstik merah merona, sama sekali tidak mencerminkan riasan seorang perawat.
Ibu mertuaku pun terdengar bersenandung kecil dari balik pintu kamarnya. Mereka semua sedang bersiap menyambut kemewahan hasil rampokan.
Tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam mengkilap berhenti di depan rumah. Dimas nyaris tersandung kakinya sendiri saat berlari membukakan pintu.
Seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang terlihat sangat berwibawa turun dari mobil, diiringi seorang asisten yang menenteng koper kecil.
Pria itu adalah Pak Surya, sang calon pembeli yang tampaknya benar-benar memiliki uang tak berseri.
"Silakan masuk, Pak Surya yang terhormat! Suatu kebanggaan rumah kami dikunjungi oleh Anda," sambut Dimas dengan postur membungkuk yang begitu menjilat.
Aku berdiri di sudut ruang tengah, memperhatikan dari kejauhan sambil menyuguhkan nampan berisi teh dan camilan.
Suster Bella ikut berdiri di dekat kamar Ibu, tersenyum menggoda ke arah Dimas setiap kali Pak Surya tidak melihat.
Setelah berbasa-basi sebentar, Pak Surya langsung masuk ke inti pembicaraan. Asistennya membuka koper, mengeluarkan sebuah cek dan meletakkannya di atas meja bersama salinan surat kuasa palsu yang ujungnya sudah dicap jempol olehku tempo hari.
"Saya ini pebisnis yang tidak suka membuang waktu, Pak Dimas. Ruko peninggalan mertua Anda itu lokasinya sangat strategis," ucap Pak Surya dengan nada tegas. Ia mendorong selembar cek itu ke hadapan suamiku.
"Ini uang muka sebesar lima ratus juta rupiah sebagai tanda jadi."
Mata Dimas membelalak sempurna. Tangannya bergetar hebat saat menyentuh lembaran kertas berharga itu. Ia nyaris lupa cara bernapas.
"L-lalu, sisa pelunasannya yang dua setengah miliar bagaimana, Pak?" tanya Dimas dengan suara serak, berusaha menutupi rasa rakusnya.
Pak Surya tersenyum simpul, menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Tenang saja. Sisanya akan saya transfer sore ini juga, tepat setelah notaris pribadi saya selesai mengecek keabsahan surat kuasa dan mengurus balik nama sertifikat ruko tersebut di BPN. Begitu statusnya bersih, uang langsung masuk ke rekening Anda."
"Oh, tentu saja bersih, Pak! Dijamin 100% aman! Istri saya sudah pasrah dan menandatangani semuanya!" sahut Dimas cepat, terlalu kegirangan hingga tak sadar betapa gegabahnya kalimat itu.
Transaksi singkat itu selesai. Setelah Pak Surya dan mobil mewahnya menghilang di ujung jalan, meledaklah sorak-sorai di ruang tamu kami.
Dimas melompat kegirangan, bahkan ia tak ragu lagi memeluk pinggang Bella di depanku.
"Kita kaya! Kita kaya raya, Bella!" seru Dimas kegirangan, lalu berlari ke kamar ibunya.
"Ibu! Sore ini kita bisa borong emas sekilo, Bu!"
Ibu mertuaku yang lupa sedang pura-pura lumpuh refleks mengangkat tangannya untuk bersorak, sebelum buru-buru menurunkannya lagi saat melihatku berdiri di ambang pintu.
Aku memasang raut wajah bingung dan polos.
"Mas, uang muka untuk apa? Tamu tadi beli apa dari kita kok sampai bawa uang ratusan juta?"
Dimas menoleh padaku. Sorot matanya dipenuhi arogansi dan cibiran tajam. Ia mengibaskan cek itu tepat di depan hidungku.
"Kamu tidak perlu tahu otak bisnis laki-laki! Sekarang, aku mau ke bank untuk mencairkan cek ini. Ratusan juta ini akan kugunakan untuk melempar wajah mantan bosku agar utang ganti rugiku lunas hari ini juga!"
Dimas berjalan ke arah rak sepatu, memakai pantofelnya dengan gaya angkuh. Ia lalu menatapku dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan.
"Dan kamu, Dek," lanjutnya dengan nada dingin yang mengancam, "malam ini masak hidangan paling mewah. Aku akan mengundang keluargaku untuk makan malam, karena aku akan mengumumkan sebuah 'kejutan besar' tentang siapa wanita yang sebenarnya pantas menyandang status nyonya di rumah ini."
Aku tahu persis apa arti kalimat itu. Begitu uang pelunasan miliaran itu masuk sore nanti, ia berniat menceraikan dan mengusirku malam ini juga.
Alih-alih menangis atau memohon, aku justru tersenyum sangat manis. Kutarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke dalam mata pria yang sedang menggali kuburannya sendiri itu.
"Akan kusiapkan hidangan perpisahan yang paling sempurna, Mas," balasku dengan nada selembut sutra, membuat keningnya sedikit berkerut bingung.
"Oh ya, pastikan volume ponselmu menyala paling keras sore ini. Kudengar, kejutan dari kantor Notaris biasanya datang tanpa permisi, dan selalu berhasil membuat orang jantungan mendadak."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar