"Malam ini, biarkan seluruh kota melihat bagaimana wanita yang dulu dihina dan dibuang, kini berdiri di balkon tertinggi sebagai ratu yang menguasai segalanya. Mulai detik ini, tidak akan ada lagi benalu dari keluarga mana pun yang berani menyentuh sehelai pun rambutmu, Sari."
Suaraku mengalun lembut namun penuh penekanan, mengalahkan sayup-sayup alunan musik klasik dari dalam ballroom.
Di balkon VVIP yang sepi dan eksklusif ini, aku merengkuh pinggang Sari dari belakang. Istriku menyandarkan kepalanya di dadaku, memejamkan mata menikmati hembusan angin malam kota yang terasa begitu damai.
Pemandangan kelap-kelip lampu ibu kota terhampar luas di bawah kami, seolah bersujud di bawah kaki Nyonya Besar Wijaya yang baru saja diresmikan malam ini.
Sari memutar tubuhnya perlahan, menatap kedua mataku dengan senyuman yang sangat menawan.
"Semuanya terasa seperti mimpi, Mas. Rasa sakit selama enam tahun hidup di gubuk, hinaan dari Maryam dan Rini, semuanya seolah menguap begitu saja. Terima kasih sudah menjadikanku wanita paling beruntung di dunia."
Aku mengecup pelipisnya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu pantas mendapatkannya, Sayang. Mereka yang dulu menyiksamu kini sudah menuai karmanya. Maryam akan menghabiskan sisa napasnya di balik jeruji besi yang dingin, dan Rini akan terus mengepel lantai rumah kita sambil menyaksikan kebahagiaan kita setiap hari."
Malam perjamuan gala dinner itu pun berakhir dengan sangat sempurna. Kehadiran Sari dan aku telah menjadi buah bibir paling hangat di seluruh penjuru ibu kota.
***
Tiga hari berlalu sejak malam bersejarah itu. Kehidupan kami mulai memasuki ritme yang baru, ritme yang penuh dengan kemenangan dan kedamaian.
Pagi ini adalah hari pertamaku secara resmi mengambil alih kursi Direktur Utama di menara kantor pusat Wijaya Group, sementara Tuan Haris mulai menyerahkan kendali operasional sepenuhnya kepadaku.
Ruang kerjaku kini berada di lantai tertinggi, dikelilingi dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan seluruh penjuru kota.
Di atas meja kerja mahoniku yang luas, tidak hanya terdapat tumpukan dokumen investasi, tapi juga sebuah figura kecil berisi foto Sari dan Bintang yang selalu menjadi sumber kekuatanku.
Tepat saat jam makan siang tiba, pintu ruanganku terbuka. Bukan asisten atau sekretaris yang masuk, melainkan istriku tercinta. Sari melangkah masuk dengan senyum cerah, membawa sebuah kotak bekal mewah berjenjang.
"Selamat siang, Pak Direktur," sapa Sari dengan nada menggoda, meletakkan kotak bekal itu di atas meja tamu di sudut ruangan.
"Aku tahu makanan di restoran bintang lima di bawah sana sangat mahal, tapi aku yakin suamiku ini lebih merindukan masakan rumahan."
Aku langsung bangkit dari kursi kebesaranku, meletakkan dokumenku begitu saja, dan menghampirinya.
Kupeluk tubuh mungilnya erat-erat, menghirup aroma vanila dari rambutnya.
"Kamu tahu persis kelemahanku, Sayang. Tidak ada koki hotel mana pun yang bisa mengalahkan masakan istriku."
Kami menikmati makan siang itu dengan diselingi canda tawa ringan.
Melihat wajah berseri-seri wanita ini, seluruh beban pekerjaanku seakan hilang tanpa sisa.
Aku akan meratukanmu, Sari. Akan kubuat orang-orang yang telah meremahkan dan merendahkanmu menyesal seumur hidup.
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar