"Cepat kemasi baju-baju kusammu ke dalam kardus bekas di gudang! Malam ini, begitu Mas Dimas resmi mengusirmu di depan seluruh keluarga besar, aku tidak mau ada satu pun kuman kemiskinanmu yang tertinggal di calon kamarku!"
Suara lengkingan Bella bergema di ruang tengah, tepat setelah mobil yang ditumpangi Dimas menghilang di ujung jalan.
Suster gadungan itu tak lagi repot-repot menyembunyikan wujud aslinya. Ia bersedekap dada, memandangiku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh kemenangan.
Aku yang sedang mengelap meja makan hanya menghentikan gerakanku sejenak.
Aku menatapnya lurus-lurus, lalu membalasnya dengan anggukan kecil dan senyum paling patuh yang bisa kuciptakan.
"Baik, Suster Bella. Akan saya siapkan ruangannya agar nanti malam Anda bisa langsung 'menikmati' kejutan dari Mas Dimas," balasku lembut, menekan nada suaraku agar terdengar pasrah.
Melihat reaksiku yang tak melawan sedikit pun, Bella mencibir puas. Ia berbalik dan melenggang masuk ke kamar Ibu mertuaku.
Tak lama kemudian, sayup-sayup kudengar suara tawa dua wanita ular itu bersahut-sahutan.
Mereka merayakan kemenangan finansial yang mereka pikir sudah berada di depan mata.
Aku kembali ke dapur, melanjutkan tugas yang diberikan Dimas: menyiapkan hidangan paling mewah untuk makan malam keluarga besar.
Tanganku dengan lincah membumbui ayam panggang dan menumis udang saus tiram.
Namun, di balik celemek yang kukenakan, otakku bekerja merangkai jebakan mematikan untuk malam ini.
Sambil menunggu panggangan matang, aku menyelinap ke ruang keluarga. Aku mengambil remote Smart TV layar datar yang bertengger di dinding, lalu menyambungkannya dengan sistem nirakabel (screen mirroring) ke ponselku.
Setelah memastikan koneksinya tersembunyi namun stabil, aku mengatur agar semua video rekaman, mulai dari Ibu mertuaku yang lincah memakan sate kambing hingga kemesraan menjijikkan Bella dan Dimas, siap diputar hanya dengan satu ketukan jariku.
Ponsel di sakuku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Pak Broto, sang notaris kepercayaan almarhum Bapakku.
[Sertifikat ruko sudah resmi beralih status menjadi milik Yayasan Panti Asuhan pagi ini, Nak. Notaris pihak pembeli baru saja memasukkan berkas surat kuasa palsu suamimu ke loket BPN untuk pengecekan. Sebentar lagi, bomnya akan meledak. Bersiaplah.]
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar