Setibanya aku di depan rumah, rumah ruko dua lantai yang selama ini kubanggakan hasil cicilanku, langkahku terhenti mendadak.
Jantungku seakan berhenti berdetak.
Gerbang besi rumah itu terkunci rapat dari dalam. Dan tepat di luar gerbang, berserakan tiga koper besar milikku beserta kardus-kardus berisi seluruh pakaian dan barang pribadiku.
Persis seperti apa yang kulakukan pada Arini semalam.
Beberapa pria berbadan tegap dan berwajah garang tampak berjaga di balik pagar, menatapku dengan sorot mengancam.
Saat aku masih mematung tak percaya menatap koper-koperku yang tergeletak di pinggir jalan, seorang pria berjas rapi, yang kuyakini sebagai pengacara keluarga Suryanegara, berjalan menghampiriku.
Ia tidak membawa dokumen, melainkan menyodorkan sebuah ponsel pintar yang layarnya sedang menampilkan panggilan video.
Dengan tangan gemetar, kuterima ponsel itu.
Di layar, tampak Arini bersandar di ranjang rumah sakit VVIP.
Ia tidak lagi mengenakan daster pudar. Rambutnya disisir rapi, dan meski wajahnya masih sedikit pucat, sorot matanya tak lagi memancarkan kelembutan seorang istri yang selalu mengalah.
Matanya menatapku tajam, penuh dengan dominasi dan keangkuhan seorang pewaris yang sesungguhnya.
"Bagaimana rasanya, Mas? Udara malam di luar gerbang jauh lebih menusuk tulang daripada di teras rumah, bukan? Nikmati pemandangan koper-kopermu yang berserakan itu. Jangan terburu-buru menangis, karena perceraian kita besok pagi, barulah permulaan dari kehancuranmu yang sesungguhnya."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar