"Kamu pikir dengan menendangku keluar, perusahaan ini akan tetap berdiri kokoh?! Aku yang mencari klien! Aku yang membesarkan nama perusahaan ini! Kalian berdua akan hancur berantakan dan merangkak mengemis padaku dalam hitungan hari!"
Teriakan putus asa Adi menggema keras di tengah lobi. Pria itu terus meronta dengan wajah memerah, berusaha melepaskan diri dari pegangan dua petugas sekuriti yang menahannya erat-erat tanpa kekerasan.
Mendengar bentakan kasar suaminya, Putri tersentak kaget. Wajah menantuku yang tadinya berusaha keras tampil berani, kini memucat. Ia melangkah mundur dengan bibir bergetar, lalu bersembunyi di balik punggungku.
Tangan mungilnya yang dingin meremas ujung blazer yang kukenakan. Menantuku ini memang masih terlalu lembut dan penakut.
Luka batin yang ditorehkan Adi selama setahun tidak bisa sembuh hanya dalam semalam.
Melihat Putri yang kembali gemetar, naluri keibuanku seketika mendidih. Aku melangkah maju, memosisikan diriku sebagai perisai kokoh untuk Putri.
Kutatap anak kandungku yang sombong itu dengan tawa sinis yang mengiris habis sisa-sisa harga dirinya.
"Merangkak mengemis padamu? Adi, Adi ... betapa lucunya isi kepalamu itu," cemoohku, melipat kedua tangan di dada dengan gaya angkuh dan elegan.
"Kamu pikir klien-klien besar itu mau bekerja sama karena kehebatanmu? Mereka menandatangani kontrak karena Ibu yang diam-diam menyuruh mereka dari balik layar! Rajendra Corporation tidak akan goyah sedikit pun tanpa parasit sepertimu. Justru kamulah yang sebentar lagi akan menangis darah karena Ibu sendiri yang akan mengajarimu arti kata miskin yang sesungguhnya!"
Adi tertegun. Matanya membelalak lebar, tak sanggup membalas rentetan kenyataan pahit yang baru saja kulemparkan ke wajahnya.
"Bawa dia keluar dari pelataran gedung ini," titahku tenang namun tegas kepada para sekuriti. "Jangan gunakan kekerasan, pastikan saja pria kotor ini tidak menodai lantai lobi kita lagi."
"Baik, Nyonya Besar!" Kedua petugas itu langsung membimbing Adi keluar menuju pintu kaca.
Pria yang kemarin sore masih menjadi atasan mereka itu kini diseret keluar bak orang gila yang mengigau.
Setelah Adi menghilang dari pandangan, suasana lobi kembali hening. Putri menghela napas panjang, meremas dadanya yang berdegup kencang.
Tiba-tiba, sebuah sapu tangan berwarna abu-abu yang wangi disodorkan tepat di hadapan Putri.
"Tarik napas pelan-pelan, Nyonya Putri. Pemandangan kotor tadi memang sedikit mengganggu pernapasan," ucap Komandan Dirga dengan suara baritonnya yang lembut namun mengayomi.
Pria berseragam militer itu tersenyum tipis, menatap Putri dengan sorot mata teduh yang kontras dengan postur tegapnya.
Putri mendongak. Melihat wajah tampan dan dada bidang Dirga yang begitu dekat, rona merah seketika menjalar di kedua pipi menantuku. Sifat pemalunya langsung mengambil alih.
"T-terima kasih, Komandan," cicit Putri pelan, menerima sapu tangan itu dengan tangan gemetar salah tingkah.
Aku hanya bisa tersenyum simpul melihat interaksi mereka. Sangat menggemaskan.
Inilah pria yang pantas untuk Putri, pengawal yang akan melindungi kelembutannya, bukan si brengsek Adi.
"Ayo, Putri, Komandan Dirga. Kita naik ke ruangan," ajakku.
Sesampainya di ruang direksi yang luas dan mewah, aku langsung duduk di kursi kebesaran, sementara Putri duduk di sofa tamu, masih berusaha menenangkan detak jantungnya.
Aku membuka laci meja kerja yang ditinggalkan Adi. Keningku berkerut saat menemukan sebuah buku tabungan dan setumpuk dokumen tagihan berlogo perusahaan.
Saat kubuka, mataku menyipit membaca rinciannya. Pembelian tas, perhiasan berlian, dan perawatan salon VVIP. Totalnya mencapai ratusan juta rupiah.
"Ibu, itu kertas apa?" tanya Putri, mendekat ke meja kerjaku.
"Ini adalah senjata pertama kita untuk menghancurkannya, Nak," jawabku dengan senyum miring yang mematikan.
"Ternyata selama ini mantan suamimu memakai dana operasional perusahaan untuk membelikan barang-barang mewah pelakor itu. Ini penggelapan dana murni."
Putri menutup mulutnya terkejut.
"Astaga, lalu apa yang akan Ibu lakukan? Melaporkannya ke polisi?"
"Terlalu mudah kalau hanya dipenjara," dengusku elegan. Aku segera mengangkat telepon di atas meja, menyambungkannya langsung ke Kepala Divisi Hukum perusahaanku.
"Halo, siapkan tim pengacara terbaik kita sekarang juga. Bawa surat perintah penyitaan aset ke alamat apartemen Bella. Sita semua tas bermerek, perhiasan, dan barang berharga apa pun yang ada di sana karena itu dibeli menggunakan dana perusahaan yang digelapkan oleh Adi. Jika perempuan itu melawan, ancam dia dengan pasal penadahan barang hasil curian."
Aku meletakkan gagang telepon dan menatap Putri yang menatapku takjub.
"Balas dendam terbaik, Putri, adalah dengan merampas kembali apa yang paling mereka sombongkan, tepat di depan mata mereka secara elegan dan berkelas."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar