Tubuhku luruh ke lantai semen yang dingin. Aku menangis meraung, memukul kepalaku sendiri berkali-kali.
Betapa butanya aku. Aku membiarkan istriku dihina mandul oleh ibuku sendiri, padahal perempuan itu kehilangan masa depannya karena menyelamatkan nyawaku.
***
Malam itu berlalu seperti neraka. Paginya, aku menyeret Mama yang kondisinya semakin melemah. Napasnya pendek-pendek, bibirnya membiru, dan tangannya dingin.
Tanpa ampun, aku membawanya kembali ke gedung megah Larasati Food & Beverage Corp.
Kami diizinkan masuk ke ruangan direktur utama. Hani sudah menunggu. Ia duduk dengan punggung tegak di kursi kebesarannya, diapit oleh Wendi yang berdiri waspada di sisinya.
Melihat sosok Hani, Mama yang sudah tak berdaya langsung melepaskan genggamanku.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, wanita yang selalu angkuh itu menjatuhkan dirinya ke lantai karpet tebal, merangkak tertatih mendekati meja Hani.
"Hani tolong Mama, Nak," isak Mama, suaranya parau dan terputus-putus.
"Mama minta maaf. Mama khilaf, tolong berikan obat itu, Hani. Dada Mama sakit sekali, Mama tidak mau mati."
Aku memalingkan wajah, tak sanggup melihat ibuku sendiri mengemis nyawa seperti cacing tanah di bawah kaki wanita yang nyaris ia hancurkan hidupnya.
Hani tidak mundur. Ia menatap ke bawah, menatap wajah ibuku dengan mata teduhnya yang sedingin es abadi.
Perlahan, Hani merogoh laci mejanya, mengeluarkan botol kaca kecil berisi bubuk cokelat penyambung nyawa itu, dan meletakkannya di sudut meja, tepat di depan wajah Mama.
Mata Mama berbinar penuh harapan. Tangannya yang gemetar terulur perlahan untuk meraih botol itu.
Namun, tepat sebelum jemari keriput Mama menyentuh kaca botol, suara Hani mengalun lembut, menghentikan waktu di ruangan itu.
"Ambil obatmu, Nyonya besar," ucap Hani, senyum miring yang ganjil terbit di bibirnya.
"Silakan telan dan perpanjang napasmu hari ini. Tapi sebelum kau merasa menang karena berhasil selamat, mari kita luruskan satu detail kecil yang sengaja kau sembunyikan dari Yoga malam itu, Bahwa di dalam rahim yang kau paksa dokter untuk dibuang ke tong sampah tiga tahun lalu itu ... sebenarnya sedang berdetak jantung cucu pertamamu."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar