"Besok subuh, kirimkan seseorang yang menyamar sebagai notaris kelas atas ke tempat ibuku berada. Buat dia percaya bahwa almarhum Bapak diam-diam memiliki aset tanah senilai puluhan miliar di luar kota, dan Ibu adalah pewaris tunggalnya."
Kulihat Fitri menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena terkejut mendengar rencanaku, namun ia tak menyela sedikit pun.
"Pastikan notaris palsu itu bersikap sangat meyakinkan, Dimas," lanjutku dengan nada yang semakin memberat.
"Katakan pada ibuku bahwa aset itu bisa langsung dicairkan besok pagi pukul sepuluh, asalkan ia datang sendiri ke sebuah alamat gedung yang akan kuberikan padamu nanti. Jangan biarkan dia curiga sedikit pun."
Terdengar helaan napas kagum dari seberang telepon.
"Sebuah umpan yang sangat brilian, Tuan Putra. Keserakahan wanita itu pasti akan membuatnya datang berlari ke alamat tersebut tanpa berpikir dua kali. Saya akan siapkan segalanya."
"Satu hal lagi, Dimas," potongku sebelum ia mematikan sambungan.
"Pastikan gedung itu benar-benar kedap suara. Aku tidak ingin ada tetangga yang terganggu saat nyalinya hancur berkeping-keping besok."
"Siap laksanakan, Tuan."
Sambungan diputus. Aku menatap layar ponsel yang meredup, lalu beralih menatap Fitri yang kini memeluk lenganku dengan erat.
Tidak ada ketakutan di matanya, yang ada hanyalah keyakinan bahwa suaminya akan menyelesaikan masa lalu ini dengan tuntas.
"Mas, kamu yakin rencana ini akan berhasil? Bagaimana kalau Ibu curiga?" bisik Fitri pelan.
"Dia tidak akan curiga, Fit. Orang yang sedang berada di titik paling hancur dan putus asa, akan memakan umpan apa pun yang terlihat seperti jalan keluar emas, apalagi jika itu menyangkut uang miliaran."
Aku menarik napas panjang, menatap pantulan diriku dan Fitri di kaca jendela yang gelap.
Malam ini adalah malam terakhir bayang-bayang kelam masa lalu itu menguasai hidupku.
"Biarkan Ibu tidur dengan nyenyak di jalanan malam ini, bermimpi bahwa besok ia akan kembali menjadi nyonya besar yang bergelimang harta warisan," bisikku dengan sorot mata tajam yang siap mengoyak takdir.
"Karena tepat saat dia membuka pintu gedung itu dengan senyum kemenangannya besok pagi, dia tidak akan menemukan sepeser pun uang warisan, melainkan sosok masa lalu yang bangkit dari kematian untuk menagih hutang nyawanya dengan cara yang paling kejam."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar