"Beraninya Anda!" Yasir menunjuk tepat di depan wajah Pak Ridwan. "Anda tidak tahu siapa saya?! Saya ini calon menantu Pak Baskoro, Direktur Utama di cabang ini! Berani Anda memecat saya, saya pastikan Anda yang akan ditendang dari perusahaan ini siang ini juga!"
Kekacauan di lobi itu mulai mengundang perhatian para karyawan lain yang baru datang.
Yasir semakin merasa di atas angin, yakin bahwa nama calon ayah mertuanya akan membuat Pak Ridwan berlutut ketakutan.
Namun, sebelum Pak Ridwan sempat membalas, pintu lift VIP yang berada tak jauh dari mereka terbuka dengan suara dentingan halus.
Keluar belasan orang berseragam eksekutif, berjalan tergesa-gesa dengan raut wajah tegang, mengelilingi seorang wanita muda yang berjalan anggun di tengah-tengah mereka.
Mata Yasir seketika berbinar saat melihat pria paruh baya yang berjalan mengekor di belakang wanita itu. Itu Pak Baskoro!
"Pak Baskoro! Tolong saya, Pak!" teriak Yasir kencang, menerobos penjagaan satpam dan berlari menghampiri rombongan itu.
"Bapak harus pecat Manajer HRD gila ini! Dia berani memecat saya tanpa alasan, padahal dia tahu saya ini calon suami Gisella!"
Langkah rombongan itu terhenti. Pak Baskoro mendongak, wajahnya yang tadinya tegang kini berubah pias seketika. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya saat melihat Yasir.
Wanita muda yang berada di posisi paling depan itu perlahan membalikkan badannya. Ia mengenakan blazer set berwarna merah marun keluaran desainer ternama, dipadukan dengan kacamata hitam elegan yang baru saja ia lepaskan.
Lutut Yasir nyaris lemas. Matanya melebar sempurna, seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.
"F-Fina?" gumam Yasir tak percaya, menatap wanita yang semalam baru saja ia usir dengan pakaian compang-camping, kini berdiri memancarkan aura kekuasaan yang mengintimidasi. Namun, egonya yang terlampau tinggi kembali mengambil alih.
"Fina?! Sedang apa gembel sepertimu di sini?! Oh, kamu mau mengemis pekerjaan padaku?!" teriak Yasir dengan urat leher menonjol, lalu menoleh ke arah Pak Baskoro.
"Pak Baskoro, tolong suruh satpam seret perempuan gila ini keluar! Dia ini mantan istri saya yang benalu, dia pasti mau membuat keributan di sini!"
Alih-alih menuruti perintah Yasir, Pak Baskoro justru maju selangkah dengan tubuh gemetar, lalu—
PLAKK!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Yasir hingga pria itu tersungkur ke lantai lobi yang dingin.
"Tutup mulut kotor dan lancangmu itu, Yasir!" bentak Pak Baskoro dengan suara bergetar ketakutan, lalu menunduk 90 derajat ke arah Fina.
"M-Maafkan kelancangan mantan karyawan saya ini, Nona Fina."
Fina melangkah pelan mendekati Yasir yang masih terkapar memegangi pipinya yang memerah.
Sebuah senyum iblis terukir sempurna di bibir bergincu merahnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata Yasir yang kini memancarkan kebingungan luar biasa.
"Menyeretku keluar dari gedung milikku sendiri?" ucap Fina dengan nada rendah namun menusuk hingga ke tulang.
"Sepertinya surat pemecatan itu belum cukup untuk menyadarkanmu, Yasir. Mari kita lihat, apakah siang ini ibumu masih bisa berteriak angkuh saat surat penyitaan rumah kulemparkan tepat ke wajahnya."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar