"Total aset lancar yang disembunyikan suamimu menyentuh angka dua puluh lima miliar. Dan pria bernama Johan yang memeras uang kateringmu setiap bulan itu ... adalah kakak kandung dari selingkuhan suamimu sendiri."
Suara bariton Surya, pengacara sekaligus teman lamaku, mengudara dari seberang telepon tepat saat matahari pagi baru saja mengintip di balik celah dinding tripleks rumah kontrakan kumuh kami.
Aku tidak menangis. Anehnya, mataku justru terasa sangat kering. Tawa hambar meluncur dari bibirku, menyayat keheningan dapur yang berbau apek.
Dua puluh lima miliar. Dan selama enam bulan ini, aku mati-matian menahan lapar, hanya makan sisa ujung roti, dan bekerja dua puluh jam sehari demi menebus 'utang' fiktif yang ternyata masuk ke kantong selingkuhan suamiku.
"Kirimkan semua berkasnya ke email rahasiaku, Sur. Jangan ada satu sen pun asetnya yang luput dari pantauanmu," balasku dingin, seraya mengiris tempe tipis-tipis di atas talenan.
"Kamu mau aku langsung membekukan rekeningnya sekarang? Bukti videomu semalam sudah sangat cukup kuat untuk gugatan perdata dan pidana penipuan," tawar Surya dengan nada geram.
"Belum," sergahku cepat. "Itu terlalu mudah, Sur. Membunuh ular tidak bisa hanya dengan menginjak ekornya. Biarkan dia merasa menang dan membangun istananya setinggi mungkin. Aku ingin mengulitinya perlahan-lahan dari dalam."
Aku memutus sambungan telepon saat telingaku menangkap suara langkah kaki diseret dari arah kamar tidur.
Buru-buru kuubah raut wajahku. Mataku kubuat sedikit layu, senyum letih yang memprihatinkan kupasang di bibir. Aksi panggung babak kedua dimulai.
Akbar muncul dengan kaus oblong lusuh dan sarung yang melilit pinggangnya. Wajahnya ditekuk, memancarkan aura melarat dan putus asa yang begitu meyakinkan.
"Masih pagi sudah masak banyak, Dek? Maaf ya, Mas belum bisa bantu apa-apa. Hari ini Mas mau coba ngelamar jadi kuli panggul di pasar induk," ucapnya dengan nada parau, lalu pura-pura terbatuk sambil memegangi dadanya.
Dulu, mendengar suara batuk itu saja aku akan langsung menangis panik.
Sekarang? Rasanya aku ingin menjejali mulut bajingannya itu dengan pisau daging yang sedang kupegang.
"Tidak apa-apa, Mas Akbar. Yang penting Mas sehat," kataku selembut sutra, menyodorkan sepiring nasi dengan dua potong tempe goreng sisa kemarin dan sambal terasi.
"Dimakan dulu, Mas. Cuma ada ini. Uang belanja sudah habis kupakai untuk nombokin bahan katering semalam."
Akbar menatap piring itu dengan kilat mata jijik yang berusaha keras ia sembunyikan.
Tentu saja dia mual. Perutnya pasti masih kepenuhan mencerna Wagyu dan kue tart premium dari pesta mewahnya semalam.
"Makasih, istriku yang paling salihah," gumamnya, memaksakan diri mengunyah tempe keras itu dengan wajah seolah sedang menelan duri.
Kamu akan merasakan rasa sakit itu perlahan, Mas!
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar