Senin, 18 Mei 2026

(26) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Jangan sentuh amplop itu, Fitri. Di dalam lipatan kertas menguning ini, tersembunyi sebuah nama yang akan membuat ibuku berharap dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini."


Suaraku terdengar begitu pelan, namun gema ketegasannya mampu membekukan udara di dalam ruang tamu. 


Aku menarik amplop cokelat itu dari jangkauan Fitri, lalu melipatnya hati-hati dan memasukkannya ke dalam saku kemeja bagian dalam, tepat di depan dadaku.

Fitri menatapku dengan mata membulat, napasnya tertahan. 


Rasa ingin tahu tergambar jelas di wajah cantiknya, namun ia memilih untuk memercayaiku sepenuhnya. 


Istriku itu hanya mengangguk pelan, membiarkan rahasia kelam peninggalan almarhum Bapak tetap terkunci rapat di kepalaku malam ini.


"Aku mengerti, Mas. Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Aku akan selalu mendukungmu," bisik Fitri seraya menyandarkan kepalanya di bahuku.


Aku mengusap rambutnya dengan sayang. Sembari memeluk istriku, otakku bekerja kilat menyusun setiap detail rencana. 


Aku tidak akan membongkar isi kertas itu sekarang, bahkan kepada Fitri sekalipun. Aku butuh reaksi yang murni, sebuah kejutan mutlak yang tidak terprediksi oleh siapa pun saat panggung sandiwara buatanku dibuka esok hari.


Malam itu, setelah Fitri terlelap karena kelelahan, aku menyelinap ke balkon kamar. Aku kembali menghubungi Dimas, memberikan instruksi tambahan yang sangat spesifik.


"Selain notaris palsu dan gedung kosong, aku butuh kau menjemput seseorang malam ini juga, Dimas," bisikku ke arah ponsel, memastikan suaraku tak membangunkan Fitri. 


"Aku akan mengirimkan sebuah alamat panti jompo di pinggiran kota. Cari pria tua bernama Pak Cokro. Bawa dia ke gedung itu besok pagi sebelum ibuku tiba. Pastikan kesehatannya stabil, dan pakaikan dia setelan jas yang paling rapi."


"Pak Cokro? Baik, Tuan Putra. Apakah beliau saksi kunci dari masa lalu ini?" tanya Dimas dengan nada penuh hormat.


"Lebih dari sekadar saksi, Dimas," aku tersenyum miring, menatap pekatnya langit malam. "Dia adalah kunci dari brankas dosa ibuku yang selama ini terkunci rapat."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ibuku selalu bilang istriku pemalas, padahal yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu istriku. Diam-diam kupasang CCTV, dan kubuat ibuku menyesal karena...

  "Masa hukuman untuk istriku sudah resmi berakhir hari ini, Bu. Dan karena Ibu selalu mengeluh Raisa adalah menantu pemalas yang menyu...