Senin, 18 Mei 2026

(5) Suamiku menangis mengaku perusahaannya bangkrut dan meninggalkan utang miliaran. Aku rela bekerja siang malam hingga jatuh sakit demi membantunya melunasi utang, sementara ia mengurung diri di rumah. Suatu hari, aku mengantarkan pesanan catering ke sebuah restoran bintang lima. Betapa hancurnya aku melihat suamiku sedang memotong kue perayaan anniversary dengan wanita lain, dan ibu mertuaku memberinya kunci mobil mewah. Saat itu aku baru sadar, ternyata kebangkrutan itu hanyalah...

 


"Kalau bulan depan uang tiga puluh juta itu tidak masuk ke rekeningku, aku pastikan rumah kontrakan reot ini akan disegel paksa dan kalian berdua harus angkat kaki hari ini juga! Jangan main-main denganku, Nyonya!"


Sambungan telepon diputus kasar.


Aku membiarkan ponsel murahku tergeletak di atas meja dapur. 


Bukannya gemetar ketakutan seperti yang selama enam bulan ini kulakukan setiap kali penagih utang itu menelepon, aku justru tersenyum miring. 


Jemariku dengan tenang mengetuk layar, menyimpan rekaman percakapan barusan ke dalam folder rahasia.


"Akting yang bagus, Johan," gumamku seraya menyesap teh hangat. "Atau harus kupanggil ... Kakak Ipar palsuku?"


Ponselku kembali bergetar. Kali ini panggilan dari Surya.


"Gimana? Umpannya dimakan?" tanya Surya tanpa basa-basi.


"Dimakan habis sampai ke kailnya," balasku santai. 


"Lalu, bagaimana dengan aset perusahaannya yang bangkrut itu?"


"Suamimu memang licik. PT Mandala Jaya miliknya sengaja dipailitkan secara hukum. Tapi seminggu setelah pengadilan memutus bangkrut, sebuah perusahaan baru bernama PT Cipta Gemilang berdiri dengan suntikan dana tak terbatas. Direktur utamanya? Anita Lestari. Wanita bergaun merah yang kamu rekam semalam."


Aku mendengus geli. Jadi namanya Anita. Sangat klise.


"Biar kutebak, kantor baru mereka ada di gedung mewah kawasan Sudirman, kan? Bukan di ruko sempit yang disita bank itu."


"Tepat. Dan kabar baiknya, besok perusahaan Anita akan mengadakan peresmian divisi baru. Mereka sedang mencari vendor katering dadakan karena vendor sebelumnya membatalkan sepihak, tentu saja setelah aku 'sedikit' campur tangan. Kamu tahu harus apa, kan?" Surya terkekeh pelan di seberang sana.


"Kirimkan kontaknya padaku, Sur. Aku akan memberikan harga 'spesial' untuk istri kedua suamiku," ujarku dengan seringai tertahan.


Setelah menutup telepon dari Surya, aku beranjak untuk memulai pesanan kue lumpur. 


Alur balas dendam ini harus dinikmati perlahan, mengingat perjalanannya masih panjang. Aku tidak boleh gegabah melabrak mereka sekarang. 


Biarkan mereka menari di atas kebohongannya sendiri, sampai musiknya kuhentikan secara paksa.


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ibuku selalu bilang istriku pemalas, padahal yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu istriku. Diam-diam kupasang CCTV, dan kubuat ibuku menyesal karena...

  "Masa hukuman untuk istriku sudah resmi berakhir hari ini, Bu. Dan karena Ibu selalu mengeluh Raisa adalah menantu pemalas yang menyu...