Sabtu, 25 April 2026

(TAMAT) Suamiku Koma dan Aku Diusir Mertua, Aset Kami Dirampas. Mereka Mentertawakanku yang Harus Makan Nasi Garam. Tapi Mereka Tak Tahu di Dalam Mesin Usang itu Terdapat Rahasia...

 


"Bukan ibu kandungmu?! Lalu siapa sebenarnya wanita berhati iblis yang selama ini berani menginjak-injakku dan tega memotong rem mobil darah dagingnya sendiri?!"


Suaraku bergetar hebat, menuntut kebenaran dari seberang telepon. 


Di Singapura sana, embusan napas Mas Ari terdengar berat dan penuh luka.


"Dia adalah selingkuhan almarhum Bapak yang dulu menjebaknya, Ci." Suara suamiku terdengar parau. 


"Ibu kandungku meninggal karena diracun secara perlahan oleh wanita itu saat aku masih kecil. Bapak baru mengetahui kebenarannya tepat sebelum beliau wafat. Itu sebabnya Bapak memindahkan semua aset utama atas namamu dan menyembunyikannya di dalam mesin jahit tua itu. Bapak tahu, suatu saat wanita itu dan Viona, anaknya dari pria lain, pasti akan menyingkirkanku demi menguasai segalanya."


Fakta itu menghantamku bagai godam besi. Kebencianku yang semula sudah mendidih, kini meledak tanpa sisa.


Pantas saja wanita itu sama sekali tidak memiliki insting keibuan. Pantas saja ia dengan mudahnya menendangku dan membiarkan 'anaknya' meregang nyawa demi selembar kertas asuransi.


"Aku mengerti, Mas. Fokuslah pada kesembuhanmu di sana," ucapku dengan nada yang kini berubah sangat dingin dan mematikan. 


"Biar istrimu ini yang mengirim mereka berdua ke tempat yang paling pantas."


Malam itu juga, jaring kehancuran yang kusiapkan tertutup rapat tanpa celah. 


Berbekal bukti rekaman CCTV garasi, salinan polis asuransi, dan dokumen peretasan dari Gala, puluhan polisi langsung menggerebek ruang ICU rumah sakit. 


Wanita tua yang masih meronta histeris memukuli pintu kaca dari dalam ruangan itu akhirnya diseret keluar dengan borgol perak dingin mengunci pergelangan tangannya. 


Tak ada lagi pakaian mahal, hanya tatapan liar dan jeritan keputusasaan saat polisi membacakan tuduhan percobaan pembunuhan berencana.


Di saat yang sama, pelarian Viona berakhir tragis. 


Tepat saat ia hendak melewati pemeriksaan paspor di bandara internasional, pihak imigrasi dan kepolisian langsung menyergapnya. Koper mewahnya yang berisi miliaran uang hasil pencucian dana perusahaan disita negara di tempat. 


Jeritan arogannya sama sekali tak berguna saat ia digiring masuk ke dalam mobil tahanan.


***


Enam Bulan Kemudian ... 


Matahari bersinar cerah menembus kaca patri jendela rumah mewah yang kini telah kembali sepenuhnya ke tanganku. 


Aku berdiri di ruang keluarga, membersihkan debu dari mesin jahit kayu tua dengan sentuhan lembut. Benda yang dulu menjadi alat pengusiranku ini, kini mendapat tempat paling terhormat di tengah ruangan.


Tiba-tiba, sepasang lengan melingkar hangat di pinggangku. Aroma parfum maskulin yang sangat kurindukan menyapu indra penciumanku.


"Terima kasih sudah menjaga semuanya, Nyonya Direktur. Terutama, karena sudah membalaskan dendam ibuku dan Bapak," bisik Mas Ari lembut di telingaku. 


Berkat pengobatan terbaik, suamiku telah pulih seratus persen. Ia mengecup puncak kepalaku dengan penuh rasa syukur.


Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku di dadanya. Sore ini, kami baru saja kembali dari kunjungan pertama, dan terakhir, ke Lembaga Pemasyarakatan Wanita berkeamanan tingkat tinggi.


Di balik dinding penjara yang pengap itu, keadaan dua wanita yang dulu menyombongkan diri kini lebih buruk dari gelandangan. 


Viona divonis lima belas tahun penjara, sementara wanita tua itu mendapat vonis penjara seumur hidup. 


Kudengar dari sipir, mereka ditempatkan di blok yang sama namun setiap hari saling mencakar dan menyalahkan satu sama lain layaknya anjing dan kucing yang kelaparan. Tidak ada lagi arisan sosialita, tidak ada lagi kasur empuk.


Ingatanku kembali pada detik-detik sebelum aku berbalik meninggalkan sel tahanan mereka tadi siang. 


Saat itu, wanita tua tersebut merangkak ke arah jeruji, mengulurkan tangannya yang kurus kering dan gemetar memohon sepeser belas kasihan padaku dan Mas Ari.


Namun, aku hanya menatapnya dengan senyum paling angkuh yang pernah kumiliki.


"Kau salah besar sejak awal, Nyonya," desisku di depan wajahnya yang pias, menatap lurus ke dalam matanya yang kini dipenuhi ketakutan dan penyesalan. 


"Bukan mesin jahit peninggalan Bapak yang rongsokan, tapi hatimu. Nikmatilah sisa hidupmu dengan menu nasi garam di neraka dunia ini, selamanya."


***


TAMAT.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...

  "Harta gono-gini! Setengah dari rumah ini dan segala isinya adalah hakku kalau kita bercerai, Refi! Jadi, jangan mimpi bisa mengusirk...