"Tidaaaak! Kumohon hentikan mesin gila itu! Di dalam sana masih ada ratusan tas keluaran terbaru dan koleksi berlian-berlianku!"
Jeritan melengking Siska mengalahkan deru mesin diesel siang itu. Ia menubruk kaki Mas Deon, bersimpuh di atas rumput dengan riasan wajah yang sudah luntur oleh air mata dan keringat.
Kesombongan yang semalam ia pamerkan lewat telepon kini tak bersisa sedikit pun, berganti dengan keputusasaan yang begitu menyedihkan.
Namun, Mas Deon tak bergeming. Ia hanya menatap sepupunya itu dengan sorot mata sedingin bongkahan es.
BRAAAAK!
Suara hantaman keras menyusul perintah Albert. Lengan besi excavator itu mengayun tanpa ampun, meremukkan pilar-pilar utama ruang tamu bak menghancurkan tumpukan biskuit rapuh. Kaca-kaca jendela pecah berhamburan.
Atap berukir mewah yang semalam dibanggakan Tante Hilda runtuh seketika, mengubur seluruh perabotan mahal dan hidangan pesta di bawah berton-ton puing beton.
Debu mengepul tebal ke udara, menutupi langit siang yang tadinya cerah.
"Rumahku, istanaku ..." Tante Hilda meratap histeris, memukul-mukul dadanya sendiri hingga nyaris pingsan.
Ia menatap nanar puing-puing rumah yang baru sehari ia klaim secara paksa sebagai miliknya.
Teman-teman sosialita Tante Hilda yang tadinya ketakutan, kini mulai saling berbisik sambil menutup hidung mereka dengan sapu tangan mahal.
Beberapa dari mereka bahkan merekam kejadian itu dengan ponsel, menyiarkan kejatuhan wanita itu secara langsung.
"Benar-benar memalukan. Ternyata selama ini Hilda cuma pamer pakai harta keponakannya," cibir seorang wanita bergaun merah terang.
"Pantas saja gayanya selangit, rupanya cuma tukang tipu perampas harta anak yatim. Ayo kita pergi dari sini, hawanya jadi tidak level lagi dengan kita!"
Satu per satu, mobil-mobil mewah milik para tamu undangan itu melaju pergi tanpa rasa simpati sedikit pun, meninggalkan Tante Hilda dan Siska yang kini tak ubahnya seperti gembel di tengah puing-puing berdebu.
"Kenapa kau sejahat ini, Deon?!" Tante Hilda mendongak, menatap suamiku dengan raut wajah penuh kebencian bercampur ketakutan. "Ibumu berutang padaku! Rumah ini bayarannya!"
"Utang?" Mas Deon tertawa sinis, tawa yang membuat bulu kudukku meremang. Ia menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan Tante Hilda.
"Ibu tidak pernah berutang sepeser pun padamu. Justru kau yang selama ini menggelapkan dana perusahaan Ibu yang dititipkan padamu. Kau pikir aku buta? Semua kemewahan, tas mahal, berlian, dan mobil SUV mengilapmu itu, semuanya dibeli menggunakan uang ibuku."
Tante Hilda pucat pasi. Bibirnya bergetar, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Mas Deon lalu menegakkan tubuhnya, memberi isyarat tangan kepada Albert.
"Albert, sita kunci mobil SUV mereka sekarang. Lepaskan juga paksa kalung, gelang, dan cincin yang mereka pakai siang ini. Jangan biarkan satu gram pun harta ibuku menempel di tubuh mereka!"
"Baik, Tuan Muda," sahut Albert tegas. Para pengawal berbaju hitam langsung bergerak cepat.
Tanpa memedulikan teriakan histeris Tante Hilda, mereka merampas kunci mobil dan melucuti semua perhiasan mewah dari tubuh ibu dan anak itu.
"Jangan sentuh aku, pelayan rendahan!" teriak Siska meronta-ronta, matanya memerah penuh amarah menatapku dan Mas Deon.
"Kalian pikir kalian sudah menang, hah?! Asal kalian tahu, aku sudah bertunangan dengan Mas Reno, pewaris tunggal Grup Mahendra! Dia akan membelikan kami rumah yang seratus kali lipat lebih mewah dari ini dan menghancurkan kalian berdua!"
Dengan tangan gemetar, Siska merogoh ponsel dari sakunya, langsung menekan nomor tunangan kaya rayanya itu dan menyalakan loudspeaker dengan senyum penuh kemenangan, berniat mempermalukan kami.
Panggilan tersambung.
"Mas Reno! Sayang, tolong aku! Orang miskin ini merobohkan rumahku! Kamu harus kirim orang-orangmu ke sini untuk menghancurkan si gembel Deon ini—"
"Siska, wanita pembawa sial!" Suara bentakan keras dan parau dari seberang telepon membuat senyum di bibir Siska luntur seketika.
"Gara-gara kau menyinggung Tuan Muda dari keluarga utama hari ini, seluruh perusahaanku dicabut izin operasinya dan keluargaku jatuh bangkrut dalam hitungan jam! Perjodohan kita batal! Jangan pernah hubungi aku lagi, wanita gila!"
Ponsel di tangan Siska terjatuh ke atas rumput. Wajahnya pias seperti mayat, matanya membelalak tak percaya menatap Mas Deon yang masih berdiri dengan tenang merangkul pinggangku.
Tante Hilda yang mendengar itu benar-benar jatuh pingsan karena tak kuat menahan syok bertubi-tubi.
Mas Deon menatap Siska yang kini gemetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu menyunggingkan senyum seringai yang sangat mematikan.
"Sepertinya calon suami kebanggaanmu juga butuh kardus bekas malam ini, Siska. Nikmatilah kemiskinan kalian, karena neraka yang kusiapkan untuk kalian berdua, baru saja kubuka pintu gerbangnya."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar