"Harta gono-gini! Setengah dari rumah ini dan segala isinya adalah hakku kalau kita bercerai, Refi! Jadi, jangan mimpi bisa mengusirku keluar dari sini hanya dengan pakaian dalam!" teriak Mas Retno.
Senyum culasnya perlahan terbit kembali, merasa sukses memojokkanku dan berada di atas angin.
Laki-laki pengeretan itu membusungkan dadanya, mengusap kasar sisa air bunga yang menetes di jas putihnya.
Bukannya merasa bersalah karena ketahuan menikah lagi, ia justru menatapku dengan sorot menantang.
"Benar kata suamimu!" timpal Ibu mertuaku, melangkah maju hingga berdiri tepat di samping Mas Retno sebagai tameng pembela.
"Kamu beli rumah ini setelah kalian resmi menikah, kan? Secara hukum agama dan negara, ada hak anakku di bangunan ini! Enak saja mau main usir. Kamu pikir kamu siapa, hah? Ratu di rumah ini?!"
Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Udara di ruang tamuku yang biasanya terasa hangat, kini terasa begitu menyesakkan, dipenuhi bau melati murahan dan aroma pengkhianatan yang busuk.
Istri baru Mas Retno, perempuan muda berkebaya basah itu, kini mulai berani mengangkat wajah. Dengan senyum meremehkan yang sengaja dibuat-buat, ia merangkul lengan suamiku erat-erat.
"Mbak Refi mending terima nasib aja deh. Dimadu itu pahalanya besar, lho. Lagipula, ini semua salah Mbak sendiri. Suami itu butuh dilayani di rumah, bukannya malah ditinggal-tinggal kerja jauh," ucapnya dengan nada manja yang membuat perutku mual.
"Udah, Mbak. Transfer aja 300 jutanya, atau Mbak bakal kehilangan setengah dari rumah ini kalau Mas Retno bawa urusan ini ke pengadilan."
Aku tertawa. Bukan tawa histeris, melainkan tawa dingin yang menggema di seluruh sudut ruangan.
Tawa yang membuat ujung bibir Ibu mertuaku sedikit berkedut dan nyali istri baru itu menciut hingga otomatis bersembunyi di balik punggung Mas Retno.
"Pengadilan? Harta gono-gini?"
Aku melangkah santai menuju laci nakas di sudut ruang tamu.
Kutarik gagangnya dan kukeluarkan sebuah map tebal berwarna cokelat dari sana.
Kulemparkan map itu tepat ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi deburan yang cukup keras.
"Apa ini?!" Mas Retno tersentak, menatap map itu dengan curiga.
"Itu tiketmu menuju kemiskinan yang sesungguhnya, Mas," desisku tajam.
Aku bersedekap dada, menatap tiga manusia parasit di depanku dengan tatapan paling merendahkan yang bisa kuberikan.
"Kamu pikir aku sudi banting tulang di kota orang tanpa perlindungan apa-apa? Buka map itu! Di dalamnya ada mutasi rekening lengkap selama tiga tahun yang membuktikan tak ada satu sen pun uangmu yang masuk untuk membeli rumah ini!"
Wajah Mas Retno mulai menegang. Tangan gemetarnya meraih map itu dan membuka lembar demi lembarnya.
"Dan bukan cuma itu," lanjutku, suaraku mengiris keheningan.
"Lihat dokumen paling belakang dengan cap notaris. Itu adalah Perjanjian Pemisahan Harta yang kau tanda tangani tepat tiga hari sebelum kita menikah. Dokumen yang kau cap jempol tanpa repot-repot membacanya, demi merengek memohon padaku untuk melunasi tumpukan hutang pinjolmu hari itu juga!"
Mata Mas Retno terbelalak sempurna. Kertas di tangannya bergetar hebat. Mulut Ibu mertuaku menganga lebar tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Mereka baru sadar, selama ini mereka menumpang di atas tanah yang tak bisa mereka sentuh secara hukum.
"Jadi silakan seret aku ke pengadilan agama sekarang juga, Mas. Tapi pastikan pengacaramu cukup pintar untuk membatalkan dokumen kebal hukum itu, karena detik ini juga, kalian bertiga resmi menjadi gembel yang menumpang di rumahku!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar