"Mustahil! Kau pasti hanya menggertak! Perusahaanku bernilai ratusan miliar, tidak mungkin ada orang waras yang bisa mengakuisisi seluruh sahamnya dalam waktu dua menit!"
Tawa meremehkan Dafa menggema, namun tawa itu tak bertahan lama. Detik berikutnya, ponsel di saku jas mahalnya bergetar hebat.
Dafa mengangkat panggilan itu dengan raut wajah jengkel, namun perlahan, warna di wajahnya memudar menjadi seputih kertas. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.
"B-bagaimana bisa? Siapa yang menjual saham mayoritas kita? A-Corp?!"
Dafa tergagap, lututnya lemas hingga ponsel itu merosot jatuh dari genggamannya, menghantam lantai marmer dengan suara nyaring.
Pria arogan yang semenit lalu berniat mengusir kami itu, kini jatuh berlutut dengan tubuh gemetar hebat. Ia menatapku dengan sorot mata penuh horor, seolah baru saja melihat malaikat pencabut nyawa.
"Mas Dafa? Kamu kenapa, Mas? Orang ini ngomong apa?!" Nisa panik, ikut berjongkok dan mengguncang bahu suaminya.
Dafa tak menjawab istrinya. Ia justru merangkak ke arahku, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga nyaris menyentuh ujung sepatuku.
"Tuan Aji, s-saya mohon ampun. Saya benar-benar tidak tahu kalau Tuan adalah pemilik A-Corp. Tolong, kembalikan perusahaan saya, Tuan. Itu hasil jerih payah saya bertahun-tahun."
Aku menatapnya dingin.
"Jerih payah hasil memeras rakyat kecil dan memalsukan sertifikat tanah? Kau seharusnya bersyukur aku hanya mengambil alih perusahaanmu, bukan mengambil nyawamu, Dafa."
Nisa terhenyak. Matanya membulat tak percaya melihat suaminya yang sangat ditakuti di dunia bawah, kini tak ubahnya seperti cacing tanah di hadapanku.
Aku mengalihkan pandanganku pada Nisa.
"Reno, tunjukkan padanya kebenaran yang selama ini disembunyikan ibuku," titahku.
Reno segera melangkah maju dan menyodorkan sebuah tablet ke hadapan Nisa.
Di layar itu, terputar rekaman CCTV lama yang berhasil dipulihkan tim IT kami.
Terlihat jelas bagaimana Ibuku menampar Nisa dengan kejam, melemparkan koper butut ke arahnya, dan mengusirnya dari rumah ini, sementara Yuni sedang terbaring pingsan di kamarnya akibat kelelahan bekerja.
Diikuti dengan rekaman suara Bagas di mobil polisi tadi sore yang membenarkan seluruh kekejaman Ibuku.
Tablet di tangan Nisa perlahan diturunkan. Dadanya naik turun dengan napas tersengal. Air mata penyesalan seketika jebol dari pelupuk matanya yang tertutup kacamata hitam sedari tadi.
"K-Kak Yuni, Kakak beneran nggak tahu? Ibu mertua Kakak, dia yang waktu itu bilang kalau Kakak malu punya adik gembel sepertiku," isak Nisa, suaranya pecah berkeping-keping.
Yuni tak butuh waktu lama untuk merengkuh adiknya. Ia memeluk Nisa sangat erat, menangis tersedu-sedu melepaskan rindu dan duka yang selama ini menganga.
"Kakak nggak pernah malu sama kamu, Dek. Kakak setiap malam nangis cariin kamu. Maafin Kakak yang lemah, maafin Kakak yang nggak bisa ngelindungin kamu waktu itu ..."
Pertahanan Nisa hancur sepenuhnya. Ia membalas pelukan Yuni tak kalah erat, meraung meminta maaf atas semua kesalahpahaman dan kata-kata kasarnya tadi.
Kebencian yang sempat membutakan hatinya kini luruh oleh air mata persaudaraan.
Aku membiarkan dua saudari itu menuntaskan kerinduan mereka. Setelah tangis mereka reda, aku menatap Dafa yang masih berlutut pasrah.
"Dengar baik-baik, Dafa," suaraku memecah keharuan.
"Aku akan mengembalikan posisimu sebagai Direktur di perusahaan itu. Tapi ingat, seluruh saham mayoritas tetap milik A-Corp. Satu saja kau berani menyakiti Nisa, atau mencoba bermain kotor lagi dalam berbisnis, aku akan menghapus namamu dari dunia ini. Mengerti?"
"M-mengerti, Tuan! Terima kasih banyak, Tuan! Saya berjanji akan membahagiakan Nisa dan menjaga perusahaan dengan jujur!" isak Dafa, bersujud berkali-kali di depanku.
Sore itu menjadi penutup dari segala badai penderitaan. Dafa dan Nisa pulang dengan pemahaman baru dan janji hidup yang lebih baik.
Sementara itu, Ibu dan Bagas harus mendekam di penjara yang dingin, meratapi keserakahan mereka sendiri tanpa ada satu pun orang yang peduli.
Uang hasil penjualan rumah ilegal itu disita oleh negara, meninggalkan mereka benar-benar miskin, hancur, dan menanggung malu seumur hidup.
Malam harinya, rumah megah ini akhirnya terasa damai.
Aku berdiri di balkon kamar utama, memeluk Yuni dari belakang sambil menatap hamparan bintang di langit malam.
Angin malam berhembus lembut, meniupkan ketenangan yang selama ini direnggut dari hidup kami.
Wajah istriku kini merona bahagia, tak ada lagi raut kelelahan dan ketakutan.
Yuni menyandarkan kepalanya di dadaku, mengelus lenganku yang melingkar di pinggangnya.
"Terima kasih, Mas. Kalau Mas nggak pulang dan pura-pura gila kemarin, Yuni nggak tahu nasib Yuni dan Nisa bakal sehancur apa."
Aku tersenyum tipis, mengecup puncak kepalanya dengan penuh damba. Kuhirup aroma wangi rambutnya lekat-lekat, lalu berbisik pelan tepat di telinganya dengan suara yang membuatnya merinding halus.
"Mereka pikir membuangku ke jalanan adalah akhir dari segalanya, tapi mereka lupa, aku bersedia merangkak dari dasar neraka dan menghancurkan dunia mana pun, hanya untuk memastikan kamulah satu-satunya permaisuri yang bertahta di istanaku."
***
TAMAT.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar