"Rumah ini milikmu? Otakmu benar-benar sudah rusak, Kinan! Ini rumah warisan keluargaku, bukan gubuk reyot yang bisa kau beli dengan sisa uang belanjamu!"
Baskara berteriak sekuat tenaga, urat-urat di lehernya bermunculan. Ia tertawa sumbang, berusaha menutupi rasa takut yang mulai menjalar dingin di tengkuknya.
Namun, dari seberang telepon hanya terdengar nada panggil yang terputus sepihak. Tut. Tut. Tut.
"Sialan!" umpat Baskara sambil membanting ponselnya ke sofa.
"Mas Bas! Di luar ... di luar ada banyak mobil hitam!" Ziva, adiknya, berlari dari arah jendela ruang tamu. Wajah gadis itu tak lagi sekadar pucat, melainkan nyaris membiru karena panik.
Baskara menelan ludah. Ia melirik sekilas ke arah kamar ibunya yang masih dipenuhi ratapan histeris meratapi brankas kosong, lalu memutar tubuhnya dengan kasar menuju pintu utama.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menarik gagang pintu dan membukanya lebar-lebar.
Angin pagi langsung menerpa wajahnya, namun bukan itu yang membuat napas Baskara seolah direnggut paksa.
Di halaman depan rumahnya yang berumput hijau, terparkir rapi tiga mobil mewah berwarna hitam mengkilap. Dan tepat di teras rumah, berdiri tiga pria berjas hitam dengan postur tegap dan mengintimidasi.
Pria yang berdiri paling depan melangkah maju. Berbeda dengan dua pengawal di belakangnya, pria ini tampak sangat menonjol.
Tubuhnya tinggi menjulang dengan bahu tegap, wajahnya luar biasa tampan dengan rahang tegas, namun sorot matanya menatap Baskara sedingin es.
Aura aristokrat dan dominasi yang menguar darinya sangat pekat, jelas menunjukkan bahwa pria ini terbiasa memegang kendali.
"Siapa kalian?! Berani-beraninya masuk ke pekarangan rumahku tanpa izin!" bentak Baskara, berusaha mengangkat dagunya untuk mempertahankan sisa-sisa wibawanya di depan rumahnya sendiri.
Pria tampan itu tersenyum tipis. Sebuah senyuman merendahkan yang membuat harga diri Baskara mendidih. Ia memberikan isyarat kecil lewat pandangan mata, dan salah satu pria di belakangnya segera menyodorkan sebuah map tebal berwarna merah marun.
"Perkenalkan, saya Reyhan. Kuasa hukum pribadi Nyonya Kinanti Larasati," ucap pria itu. Suara baritonnya mengalun tenang, namun memiliki ketegasan yang mutlak.
"Dan kami datang bukan untuk bertamu, Tuan Baskara. Kami datang untuk mengambil alih aset klien kami."
"Aset klienmu? Omong kosong apa yang kau bicarakan?!"
Baskara menepis map itu dengan kasar, tapi salah satu pengawal dengan sigap menahannya.
"Kinan itu cuma wanita miskin yang aku nikahi karena ibuku kasihan! Rumah ini milikku! Sertifikat aslinya ada di—"
"Di lemari ibumu yang sekarang kosong?" sela Reyhan cepat, memotong ucapan Baskara dengan nada tajam.
Baskara terbungkam. Matanya melebar sempurna.
"Sertifikat di lemari itu palsu, Tuan Baskara," lanjut Reyhan sambil menatap lurus tepat di manik mata Baskara.
"Sama palsunya dengan gaya hidup mewah keluarga Anda yang selama ini, ternyata, dibiayai penuh oleh klien saya secara diam-diam."
Baskara terhuyung mundur selangkah. Kakinya tiba-tiba terasa seperti jeli.
"T-tidak mungkin. Kinan tidak punya uang sepeser pun! Dia cuma yatim piatu."
"Klien kami adalah pewaris tunggal dari Larasati Group. Perusahaan tambang yang sahamnya baru saja Anda pinjam uangnya bulan lalu," ucap Reyhan dengan nada seringai tipis.
"Rumah ini, hutang-hutang perusahaan Anda yang menumpuk, bahkan mobil mewah yang Anda pakai untuk menjemput selingkuhan Anda semalam, semuanya dibeli dengan uang Nyonya Kinanti."
Hening. Dunia Baskara seolah runtuh menimpanya bertubi-tubi. Ia baru saja melempar batu, mengurung, dan membuang wanita yang selama ini menjadi pilar penyangga kehidupannya yang palsu.
Napas Baskara tersengal, tak mampu mengeluarkan satu kata pun saat menyadari betapa bodoh dirinya.
Reyhan merapikan kancing jasnya yang sama sekali tidak kusut, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap Baskara dengan tatapan paling meremehkan yang pernah pria itu terima seumur hidupnya.
"Ah, satu lagi pesan dari Nyonya Kinanti untuk Anda, Tuan Baskara. Beliau bilang, selamat menikmati kehidupan gembel yang sesungguhnya. Waktu kalian berkemas hanya sepuluh menit dari sekarang, atau kami yang akan menyeret kalian keluar bersama tumpukan sampah."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar