Minggu, 26 April 2026

(11) Selingkuhan Suamiku Mempermalukanku di Arisan. Dia Tidak Tahu Saja Kartu Kredit yang Dipakai Suamiku adalah Milikku. Akan Kubuat Mereka Menyesal!

 


"Sikat bagian sudutnya lebih keras, Bu! Kalau lantai marmer Italia ini sampai meninggalkan noda sabun sedikit saja, seluruh gaji Ibu sebagai petugas kebersihan bulan ini akan saya potong habis tak tersisa!"


Suara teguran lantang dari kepala staf housekeeping itu menggema membelah lobi utama Grup Wiryawan. 


Beberapa karyawan yang sedang berlalu lalang menyempatkan diri untuk menghentikan langkah, berbisik, lalu tersenyum sinis melihat pemandangan langka pagi ini.


Di sana, di tengah luasnya lantai marmer yang mengkilap, ibu mertua berlutut dengan seragam cleaning service berwarna biru pudar yang kedodoran di tubuhnya. 


Tangannya yang keriput, yang kemarin masih sibuk memamerkan deretan gelang keroncong emas ke ibu-ibu arisan, kini dibungkus sarung tangan karet kuning yang bau kaporit. 


Wajahnya merah padam, bersimbah peluh, dan napasnya tersengal-sengal menyikat lantai dengan susah payah.


Pintu kaca lobi terbuka otomatis. Aku melangkah masuk, diiringi ketukan stiletto-ku yang berirama tegas. Semua karyawan langsung menunduk hormat menyapaku. Langkahku sengaja kuhentikan tepat di depan wanita tua yang sedang merangkak memeras kain pel tersebut.


Melihat ujung sepatu mahalku, ibu mertua mendongak. Matanya seketika menyalang penuh kebencian dan rasa malu yang luar biasa.


"Puas kamu, Jannah?! Puas kamu melihat orang tua disiksa seperti ini?!" desisnya dengan suara serak, urat lehernya menonjol menahan amarah. Ia mencoba berdiri, tapi pinggang rentanya membuatnya kembali merosot. 


"Dasar perempuan tidak punya hati! Kualat kamu berani menyuruh ibu dari suamimu sendiri menjadi babu di tempat umum seperti ini!"


Aku menunduk sedikit, menatapnya dari balik bulu mataku dengan senyum prihatin yang kubuat-buat.


"Kualat? Ibu sepertinya amnesia. Di atas kertas yang ditandatangani putra kebanggaan Ibu semalam, status kita sudah bukan lagi menantu dan mertua. Status kita sekarang hanyalah kreditur dan debitur pencari suaka."


Aku menggeser ujung sepatuku dengan anggun, menghindari cipratan air kotor dari embernya. 


"Lagi pula, saya tidak menyiksa Ibu. Saya justru berbaik hati memberikan pekerjaan ini agar Ibu tidak perlu tidur di emperan toko setelah rumah Ibu di kampung resmi saya sita. Anggap saja ini cicilan pertama dari hutang lima belas miliar anak Ibu. Teruslah menyikat, Bu. Masih ada delapan puluh lantai lagi di gedung ini yang menunggu untuk Ibu bersihkan sampai mengkilap."


Meninggalkan ibu mertua yang mulai menangis tersedu-sedu meratapi nasib dan harga dirinya yang hancur lebur menjadi tontonan karyawanku, aku melangkah menuju lift eksekutif dengan kepala tegak. 


Dendam untuk wanita tua bermulut berbisa itu sudah terbayar lunas hari ini. 


Sekarang, waktunya beralih pada putranya yang malang.

Siang harinya, aku kembali duduk di kursi kulit di ruang interogasi khusus kepolisian. 


Di seberang meja, Hakim dan Restu duduk bersebelahan dengan tangan terborgol. Mereka baru saja selesai menjalani pemeriksaan silang dengan penyidik.


Keduanya terlihat sangat berantakan, tapi yang paling menarik adalah jarak yang sengaja mereka ciptakan. 


Tidak ada lagi gandengan tangan mesra atau tatapan memuja seperti di malam arisan. 


Restu menatap Hakim dengan tatapan jijik, sementara Hakim menatap Restu dengan raut putus asa dan tidak percaya.


"Jadi, Saudari Restu tetap bersikeras bahwa semua barang mewah itu adalah hadiah, dan Anda sama sekali tidak tahu menahu bahwa uang tersebut berasal dari hasil penggelapan dana perusahaan Grup Wiryawan?" tanya penyidik memastikan.


"Benar, Pak! Saya berani bersumpah mati!" Restu langsung terisak, memainkan peran sebagai wanita lemah yang tertipu dengan sangat meyakinkan.


"Hakim ini pembohong besar! Dia bilang dia CEO muda yang kaya raya, makanya saya mau berpacaran dengannya. Saya murni dimanfaatkan! Tolong jadikan saya saksi korban saja, Pak, saya bersedia mengembalikan semua tas dan perhiasan itu!"


"Restu! Tega-teganya kamu bicara begitu?!" bentak Hakim tak terima, matanya merah menyalang menatap wanita yang semalam masih dipujanya itu. 


"Kamu yang terus merengek minta dibelikan tas Hermes itu! Kamu mengancam akan meninggalkanku kalau aku tidak membelikannya! Pak Polisi, dia yang mendesak saya mencuri uang perusahaan! Dia ikut menikmati semuanya!"


"Bohong! Laki-laki miskin ini saja yang gila hormat dan mau sok kaya di depanku!" balas Restu melengking.


Aku tertawa pelan. Suara tawaku yang dingin memecah perdebatan sengit kedua pengkhianat itu. Aku bangkit dari kursiku, berjalan memutari meja, lalu mencondongkan tubuh menatap Hakim lekat-lekat.


Pria ini benar-benar sudah kehilangan segalanya: pekerjaannya, uangnya, kebebasannya, kesombongan ibunya, dan sekarang, wanita simpanan berkelas yang selama ini ia agung-agungkan di depanku pun meludahinya tanpa ampun.


Namun, itu belum cukup. Aku harus memberikan satu hantaman terakhir yang akan memastikan kewarasan Hakim benar-benar hancur lebur selama ia membusuk di dalam sel.


"Menyedihkan sekali melihatmu mati-matian mencuri miliaran rupiah demi wanita yang bahkan tidak sudi mengakui namamu saat kamu jatuh, Mas," ucapku pelan, namun cukup tajam untuk merobek relungnya.


Aku melirik ke arah Restu yang mendadak memucat pasi dan menahan napas, lalu kembali menatap Hakim dengan senyum kemenangan yang paling kejam.


"Tapi kamu pikir penderitaanmu sudah selesai hanya dengan menanggung hutang belasan miliar sendirian, Mas? Tadi pagi Restu baru saja melakukan tes medis wajib sebagai syarat penahanan. Dia hamil. Tapi sayangnya, dilihat dari usia kandungannya yang sudah memasuki bulan keempat, bayi yang mati-matian ingin kamu nafkahi dengan uang curian itu, bahkan tidak memiliki setetes pun darah keturunanmu."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar