"Apa kamu pikir tangan halusku ini diciptakan untuk menyikat lantai kamar mandi yang luasnya hampir sama dengan gubukmu dulu itu, Sari?! Jangan keterlaluan ya, aku ini kakak iparmu!"
Bentakan Mbak Rini bergema di koridor lantai dua, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin. Ia berdiri dengan napas terengah-engah, melempar sikat pembersih ke lantai dengan wajah merah padam.
Seragam abu-abu yang ia kenakan sudah tampak basah oleh keringat dan cipratan air.
Sari, yang sedang berdiri di balkon dalam sambil mengawasi pekerjaannya, hanya menatap Mbak Rini dengan pandangan datar. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya ketenangan yang justru membuat Mbak Rini semakin geram.
"Mbak Rini lupa?" suara Sari terdengar sangat tenang, hampir seperti bisikan namun tajam.
"Dulu, Mbak sering menyiramkan air bekas cucian piring ke wajahku hanya karena aku terlambat sedikit membersihkan dapur di rumahmu. Sekarang, aku hanya memintamu membersihkan kamar mandi tamu dengan benar. Itu pun bagian dari perjanjian pelunasan utangmu."
Mbak Rini terbungkam. Ia melirik ke arah tangga, di mana Galen Alvarendra sedang berdiri tegak sambil memegang tablet, siap mencatat setiap pelanggaran yang dilakukan oleh para pekerja rumah tangga hari ini.
***
Sementara itu, di lantai bawah, Ibuku sedang sibuk mengelap deretan pajangan kristal di ruang tamu dengan tangan gemetar.
Setiap kali ia melihat Arzan berlari riang di atas karpet bulu yang mahal, ia akan menunduk dalam, tak berani menatap mata cucunya sendiri.
"Nenek, kok lapnya pelan-pelan? Nanti debunya nggak hilang loh," celetuk Arzan yang berhenti sejenak dari permainannya, menatap Ibuku dengan polos.
Ibuku hanya bisa memaksakan senyum kecut, air matanya nyaris tumpah.
"I-iya, Tuan Muda Arzan. Ini sedang Nenek bersihkan."
Pemandangan itu aku saksikan dari ruang kerja yang pintunya sedikit terbuka. Aku sengaja membiarkan Sari yang memegang kendali penuh atas manajemen rumah ini.
Aku ingin dia merasakan kembali harga diri yang sempat dirampas habis-habisan oleh mereka.
Tiba-tiba, suara bel pintu depan berbunyi nyaring. Galen segera bergerak membukakan pintu. Tak lama kemudian, ia kembali dengan raut wajah yang sedikit serius.
"Pak Danu, ada tamu di depan," lapor Galen.
"Pak RT dan beberapa warga dari lingkungan rumah lama Anda. Katanya, mereka ingin menanyakan keberadaan sertifikat tanah gubuk itu karena ada pihak pengembang yang ingin membelinya dengan harga sangat tinggi untuk akses jalan tol."
Mendengar kata 'harga sangat tinggi', telinga Mbak Rini dan Ibuku langsung tegak. Sifat serakah mereka seolah bangkit dari kematian.
Mbak Rini bahkan sempat-sempatnya merapikan rambutnya yang berantakan, berharap ada celah untuk mendapatkan keuntungan lagi.
Aku melangkah keluar dari ruang kerja, merangkul bahu Sari, dan berjalan perlahan menuju ruang tamu untuk menemui para warga.
Mbak Rini dan Ibu mengekor di belakang dengan langkah penuh harap, seolah-olah mereka masih punya hak atas tanah itu.
Setelah basa-basi singkat, Pak RT menyerahkan dokumen penawaran dari pihak pengembang. Angkanya memang fantastis, jauh melampaui harga pasar karena lokasinya yang strategis sebagai pintu keluar tol.
"Jadi bagaimana, Danu? Sebagai anak tertua laki-laki, Ibu rasa kamu harus bijak. Uang itu bisa dipakai untuk ... yah, untuk keluarga kita lagi, kan?" bisik Ibuku dengan nada merajuk, mencoba mendekatiku dengan wajah yang dibuat-buat memelas.
Aku menatap dokumen itu, lalu menatap Sari yang berdiri di sampingku. Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Mbak Rini dan Ibu mendadak merasa tidak enak hati.
"Ibu dan Mbak sepertinya lupa ingatan, ya? Tanah gubuk itu sudah resmi kuberikan atas nama Sari sebagai mahar pengganti kesabarannya selama ini, jadi kalau kalian mau uang itu, silakan sujud di kaki Sari dan mohonlah agar dia mau memberikan selembar uang receh untuk kalian."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar