Senin, 27 April 2026

Suamiku Selalu Menghilang Tengah Malam. Saat Dia Pulang, Dia Membawa Uang Gepokan. Beberapa Hari Setelahnya, Anakku Meninggal. Jangan-Jangan Suamiku....

 


"Dua ratus juta. Cukup untuk modal toko baru kita 'kan, Dek? Kenapa kamu malah menangis terus? Relakan saja, toh kita masih bisa punya anak lagi."


Kalimat itu meluncur santai dari bibir Mas Haryo, suamiku, sambil jemarinya lincah menghitung tumpukan uang pecahan seratus ribu yang masih terikat rapi. 


Wangi kertas uang yang khas menguar di udara, bercampur dengan aroma melati dan dupa yang selalu menempel di kemejanya setiap kali dia pulang larut malam.


Aku menatapnya dengan dada bergemuruh hebat. Air mataku rasanya sudah kering, tapi perih di ulu hati ini menganga semakin lebar.


Baru tiga hari yang lalu, putra semata wayang kami yang baru berusia lima tahun, meninggalkan kami untuk selamanya. Anakku menghembuskan napas terakhir dalam pelukanku dengan cara yang sangat janggal. 


Tubuhnya mendadak kaku dan sangat dingin. Dokter bilang itu henti jantung mendadak, tapi naluri keibuanku menjerit. 


Ada yang tidak beres. Anakku sama sekali tidak sakit sebelumnya.


Dan yang paling membuatku gila, Mas Haryo sama sekali tidak menitikkan air mata saat keranda anaknya dibawa pergi. Matanya justru memancarkan kelegaan yang aneh, seolah sebuah beban utang besar baru saja lunas terbayar.


Pikiranku terlempar pada kejadian beberapa minggu terakhir. 


Mas Haryo yang biasanya pusing tujuh keliling dikejar penagih utang, tiba-tiba berubah. Setiap tengah malam, tepat pukul dua belas, dia selalu beralasan pergi ke luar. 


Namun, dia selalu pulang menjelang subuh dengan mata lelah, wajah pucat pasi, dan membawa tas ransel hitam yang kembung.


Pagi harinya, isi tas itu selalu berubah menjadi gepokan uang merah yang disembunyikannya di dalam lemari bajunya yang terkunci rapat.


"Kamu nggak punya hati, Mas?!" suaraku akhirnya pecah, bergetar menahan amarah. 


"Anak kita baru saja pergi, dan kamu malah sibuk menghitung uang? Uang dari mana ini, Mas?! Jawab aku!"


Mas Haryo menghentikan gerakannya. 


Dia menatapku datar, senyum tipis yang mengerikan tersungging di sudut bibirnya. Dia mengikat kembali uang itu dengan karet gelang dan memasukkannya ke dalam laci.


"Sudah kubilang, ini hasil kerja kerasku. Kamu nggak perlu banyak tanya, Arini. Tugasmu cuma menikmati hasilnya," ucapnya dingin. 


Dia lalu melangkah menuju kamar mandi, meninggalkanku yang mematung dengan rasa takut yang mulai merayap naik.


Aku meremas ujung dasterku kuat-kuat. Kecurigaan yang sejak kemarin mengendap di kepalaku kini menuntut jawaban. 


Dengan tangan gemetar, aku melangkah perlahan menuju lemari bajunya. Kunci gemboknya ternyata lupa ia cabut.


Jantungku berdebar tak karuan saat membuka pintu kayu jati itu. Di sela-sela tumpukan kemejanya, aku menemukan sebuah kantong kain berwarna hitam pekat.


Napasku seakan berhenti saat membuka ikatannya. Di dalamnya ada segumpal rambut bayi, rambut sisa cukuran pertama anakku yang dulu kusimpan di kotak perhiasan, yang kini diikat erat dengan benang tiga rupa. Dan di bawahnya, ada sebuah lipatan foto.


Itu adalah foto Ibu Lastri, ibu kandung Mas Haryo sendiri. Wajah perempuan yang telah melahirkannya itu dicoret tebal dengan spidol hitam, dan keseluruhan fotonya dililit benang gelap berkali-kali secara menyilang.


Lututku seketika lemas. Kengerian yang luar biasa meremukkan kewarasanku.


Belum sempat aku mencerna apa arti semua ini, sayup-sayup kudengar suara Mas Haryo dari balik pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat. 


Dia sedang berbicara di telepon dengan nada berbisik, namun terdengar sangat jelas menembus keheningan malam.


"Iya, Mbah. Syarat pertama yang anak sudah beres dan lunas, 'kan? Nah, untuk pencairan dana besar bulan depan, siap-siap saja, Ibuku sendiri yang akan aku kirim ke sana."


***

Bab 2

"Pokoknya Ibu harus menginap di sini mulai malam ini sampai tujuh hari ke depan. Ada 'kejutan' istimewa yang sudah Haryo siapkan khusus untuk hari tua Ibu."


Suara Mas Haryo yang menggema dari balik pintu kamar mandi membuat aliran darahku seakan berhenti mengalir. 


Kalimatnya terdengar begitu manis dan berbakti, tapi mengetahui fakta di baliknya membuat perutku mual.


Tujuh hari. Hitung mundur H-7 telah dimulai.


Dengan tangan gemetar hebat, aku bergegas memasukkan kembali foto Ibu Lastri yang terlilit benang hitam dan sisa rambut almarhum Bintang ke dalam kantong kain pekat itu. 


Kuselipkan jauh di bawah tumpukan kemejanya, lalu menekan gembok lemari secepat kilat tepat ketika kenop pintu kamar mandi diputar.


Mas Haryo keluar dengan handuk melingkar di leher. Wajahnya terlihat segar, sebuah senyum simpul menghiasi bibirnya. 


Senyum yang sama sekali tidak pantas terukir di wajah seorang ayah yang baru saja kehilangan putra semata wayangnya tiga hari lalu.


"Arini, kok masih berdiri di situ?" tegurnya lembut, seolah pertengkaran kami beberapa menit lalu tidak pernah terjadi. 


Dia berjalan mendekat, aroma sabun mandi menguar dari tubuhnya, tapi entah kenapa hidungku tetap menangkap samar bau dupa yang menempel di pori-porinya.


"Ibuku mau datang menginap. Katanya mau menemani kita yang sedang berduka," lanjut Mas Haryo sambil menyisir rambutnya di depan cermin. 


"Kamu bersihkan kamar tamu ya, ganti seprainya dengan yang baru. Masak yang enak. Buat Ibu senyaman mungkin untuk tujuh hari ke depan."


Aku menelan ludah dengan susah payah. Menemani kami berduka? Atau digiring bagai domba ke tempat penjagalan?


"Tumben, Mas," pancingku, berusaha keras menjaga agar suaraku tidak bergetar. 


"Biasanya Ibu paling susah kalau disuruh menginap di sini. Apalagi sampai seminggu."


Mas Haryo menatapku dari pantulan cermin. Matanya yang biasa terlihat hangat kini memancarkan kilap yang sulit diartikan. 


"Ya wajar, Dek. Namanya juga firasat seorang ibu. Mungkin dia tahu kalau ini bakal jadi tujuh hari terakhirnya ... eh, maksudku, tujuh hari liburannya di sini sebelum dia sibuk lagi di kampung."


Dengkulku rasanya mau copot mendengar salah ucapnya yang disengaja itu. 


Dia bahkan sudah tidak repot-repot menyembunyikan rencananya di depanku. Hati kecilku menjerit memanggil nama Bintang. 


Anakku yang tak berdosa telah menjadi korban keserakahan laki-laki yang bergelar ayah ini. 


Kini, dia mengincar ibunya sendiri demi tumpukan uang di dalam lemari.


Aku menunduk, menyembunyikan kilat kebencian dan dendam yang mulai menyala di mataku. 


Tidak. Aku tidak akan membiarkan laki-laki gila ini menang. Aku harus menyelamatkan Ibu Lastri sebelum tenggat waktu tujuh hari itu habis.


***


Menjelang subuh, Mas Haryo akhirnya tertidur pulas akibat kelelahan. Dengkurannya terdengar halus. Kesempatan ini tak kusia-siakan. 


Aku menyelinap ke dapur dengan langkah tanpa suara, mengambil ponselku, dan mencari kontak Ibu Lastri. 


Aku harus mencegahnya datang hari ini. Aku harus menyuruhnya putar balik.


Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya panggilan itu diangkat.


"Halo, Ibu? Bu, tolong dengarkan Arini, putar balik sekarang juga! Jangan pernah injakkan kaki Ibu di rumah ini, Bu! Mas Haryo merencanakan sesuatu yang—"


"Merencanakan apa, Nduk?"


Napas di tenggorokanku seketika tercekat. Ponsel di tanganku nyaris terjatuh. 


Itu sama sekali bukan suara lembut Ibu Lastri. Itu adalah suara serak, parau, dan berat milik seorang pria tua, diiringi kekehan pelan yang membuat bulu kudukku berdiri serempak.


"Ibu mertuamu sedang tertidur sangat pulas di mobil sebelahku," lanjut suara asing itu dengan nada dingin yang menusuk tulang. 


"Siapkan saja kamar tamunya. Kami sedang dalam perjalanan menuju rumahmu, untuk memulai hitung mundur tujuh hari."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suamiku Selalu Menghilang Tengah Malam. Saat Dia Pulang, Dia Membawa Uang Gepokan. Beberapa Hari Setelahnya, Anakku Meninggal. Jangan-Jangan Suamiku....

  "Dua ratus juta. Cukup untuk modal toko baru kita 'kan, Dek? Kenapa kamu malah menangis terus? Relakan saja, toh kita masih bisa ...