Senin, 27 April 2026

(5) Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...

 


"Tarik kembali tangan kotormu dari kerah bajuku, Galen! Kau pikir kau masih manajer di sini? Kau itu cuma gelandangan yang bahkan tak sanggup membelikan sebungkus nasi untuk ibumu sendiri!"


Bentakan keras itu diiringi hempasan kasar yang membuat tubuh lemasku terhuyung ke belakang. 


Aku menatap tak percaya pada Rendi, bawahan yang selama bertahun-tahun selalu menunduk hormat di kantor ini. 


Kini, pria itu memandangku dengan dagu terangkat tinggi, penuh senyum ejekan di lobi utama perusahaan.


Pagi ini, dengan perut keroncongan dan sisa tenaga yang ada, aku nekat datang ke kantor Pak Wijaya. 


Ibu dan Sinta terus menangis kelaparan di emperan toko, dan aku berharap bisa mencairkan sisa gaji terakhirku atau sekadar mengambil barang-barang berharga di meja kerjaku.


Namun, jangankan masuk ke ruangan, kartu aksesku sudah diblokir dan barang-barangku rupanya sudah dibuang ke tempat sampah sejak semalam.


"Kurang ajar kau, Rendi! Aku ini atasanmu!" geramku, mencoba maju meski kakiku gemetar menahan lapar dan dinginnya angin pagi.


"Mantan atasan," ralat Rendi sambil tertawa meremehkan. 


Dua petugas keamanan langsung melangkah maju, memegang kedua lenganku dengan erat bak menahan seorang kriminal. 


"Asal kau tahu, perusahaan ini sudah resmi diakuisisi oleh Adhitama Group sejak tadi malam. Dan tebak siapa yang sekarang duduk di kursi direktur utama menggantikan Pak Wijaya yang jatuh miskin sepertimu?"


Belum sempat aku mencerna ucapan Rendi, deru mesin dari iring-iringan mobil mewah memecah keributan di lobi. Sebuah mobil mewah hitam mengkilap berhenti tepat di depan pintu masuk utama. 


Seluruh karyawan di lobi, termasuk Rendi dan satpam yang menahanku, sontak berdiri tegak dan menunduk hormat 45 derajat.


Pintu mobil terbuka. Sepatu kulit mahal menginjak aspal lebih dulu, disusul kemunculan seorang pria jangkung berjas abu-abu yang auranya begitu mengintimidasi. Arkan.


Namun, bukan pria itu yang membuat napasku tercekat. Arkan berbalik, mengulurkan tangannya dengan begitu sopan dan penuh kelembutan ke dalam mobil. 


Sedetik kemudian, Zea melangkah keluar.


Zea, wanita yang selama ini hanya mengenakan daster pudar dan celemek di dapurku, kini menjelma menjadi ratu bisnis yang tak tersentuh. 


Ia mengenakan setelan blazer hitam yang memancarkan kekuasaan absolut. 


"Zea!" panggilku putus asa. Aku meronta dari pegangan satpam, mengabaikan sisa harga diriku yang sudah hancur lebur. 


"Zea, tolong Mas! Ibu sakit perut karena belum makan dari semalam. Tolong beri Mas sedikit saja uang pesangon, Mas janji akan pergi dari hadapanmu!"


Langkah Zea terhenti. Ia menoleh perlahan. Sorot matanya yang tajam menyapu penampilanku yang acak-acakan, kemeja yang kini kotor berbalut debu, dan wajahku yang memelas. Tidak ada setitik pun rasa iba di wajah cantiknya.


Arkan melangkah maju, memposisikan tubuh tegapnya sebagai perisai di depan Zea. Matanya menatapku seolah aku adalah bakteri yang mengotori lantai gedungnya.


"Usir dia dari sini," perintah Arkan dengan suara bariton yang dingin pada petugas keamanan. "Jangan biarkan kotoran ini merusak pemandangan Nona Muda."


Satpam itu mengangguk cepat dan mulai menyeretku keluar. Aku meronta hebat, air mata kehinaan akhirnya jatuh. 


Aku, Galen Alvarendra, pria yang kemarin hampir menikahi putri direktur, kini dibuang layaknya sampah di depan mata mantan istriku sendiri dan pria barunya.


"Tunggu, Arkan."


Suara lembut namun sarat akan kekuasaan itu menghentikan gerakan semua orang. 


Zea melangkah anggun melewati Arkan, mendekatiku hingga aroma parfum mewahnya yang elegan menyerbak di udara. Ia tersenyum, sebuah senyum manis yang membuat bulu kudukku berdiri.


"Jangan diusir, Arkan. Bukankah dia kemari untuk mencari pekerjaan?" ucap Zea dengan nada seringan kapas, matanya menatap lurus ke dalam mataku yang dipenuhi ketakutan. 


"Berikan Mas Galen seragam cleaning service dan sebuah sikat. Bukankah sangat romantis melihat mantan suamiku yang gila hormat ini menggosok lantai toilet karyawan setiap hari, seumur hidupnya, demi menyicil utang dua ratus miliarnya?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suamiku Selalu Menghilang Tengah Malam. Saat Dia Pulang, Dia Membawa Uang Gepokan. Beberapa Hari Setelahnya, Anakku Meninggal. Jangan-Jangan Suamiku....

  "Dua ratus juta. Cukup untuk modal toko baru kita 'kan, Dek? Kenapa kamu malah menangis terus? Relakan saja, toh kita masih bisa ...