Senin, 27 April 2026

(3) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


Keesokan paginya, suasana rumah terasa lebih mencekam dari biasanya.


Aku bangun lebih awal, sengaja diam-diam menyelinap ke dapur dan membuang seluruh kuah kaldu sapi yang sudah diracuni Ibu dengan setengah toples garam, lalu menggantinya dengan kuah baru yang kubuat asal-asalan menggunakan bumbu instan. 


Aku hanya ingin menyelamatkan Fitri dari omelan Ibu pagi ini.


Pukul enam pagi, Fitri sudah menata mangkuk-mangkuk soto di atas meja makan dengan senyum tipis yang dipaksakan. Matanya masih sedikit sembab.


Ibu keluar dari kamarnya dengan wajah angkuh, menarik kursi dengan kasar, dan langsung menatap mangkuk soto di depannya dengan tatapan jijik.


"Soto apa ini? Warnanya saja pucat basi begini!" sungut Ibu sebagai kalimat pembuka, persis seperti dugaanku.


"Maaf, Bu. Fitri sudah berusaha masak sesuai selera Ibu. Dicicipi dulu ya, Bu," ucap Fitri lembut, menyodorkan sendok dengan tangan yang sedikit gemetar.


Ibu tersenyum sinis. Beliau mengambil sendok, menyendok kuah soto itu dengan gerakan angkuh, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Aku menatap Ibu lekat-lekat, menunggu reaksinya.


Satu detik. Dua detik.


Kulihat kening Ibu berkerut samar. Tentu saja Ibu kebingungan. 


Alih-alih rasa asin yang menyengat lidah akibat ulahnya semalam, kuah soto itu terasa gurih dan normal. Beliau menatap panci kaldu dan mangkuknya bergantian dengan raut wajah pias yang gagal disembunyikan.


Namun, akting tetaplah akting. Alih-alih mengakui bahwa makanannya enak, Ibu justru membanting sendoknya hingga berdentang keras. Beliau sengaja menyenggol mangkuk sotonya hingga terjatuh dari meja.


PRANG!


Kuah soto panas tumpah membasahi lantai, sementara pecahan mangkuk berserakan di mana-mana.


"Ibu tidak sudi makan masakan beracun ini! Kamu sengaja menaruh apa agar Ibu cepat mati kan, Fitri?!" jerit Ibu histeris, menunjuk tepat ke depan hidung istriku.


"Astagfirullah, Ibu. Tidak, Bu! Fitri tidak mungkin melakukan itu," isak Fitri seketika, langsung bersimpuh di lantai untuk membersihkan pecahan beling dengan air mata yang kembali berderai.


Aku baru saja akan bangkit dari kursi untuk membungkam sandiwara konyol Ibu, ketika tiba-tiba bel rumah berbunyi nyaring.


Tangisan Fitri terhenti. Ibu langsung mengusap wajahnya yang pura-pura marah, lalu tersenyum penuh arti, senyum licik yang membuat bulu kudukku meremang.


"Biar Ibu yang buka. Sepertinya tamu spesial kita sudah datang," ucap Ibu dengan nada riang yang dibuat-buat, setengah berlari menuju pintu utama.


Aku segera menarik lengan Fitri agar berdiri, menuntun istriku yang masih terisak bingung untuk menyusul Ibu ke ruang tamu. 


Firasatku mengatakan, ini adalah bagian dari skenario keji yang kudengar semalam.


Pintu utama terbuka lebar. Di sana, berdiri seorang wanita cantik berambut panjang dengan riasan wajah mencolok, mengenakan gaun ketat bermerek, dan menarik sebuah koper besar di tangan kanannya.


Wanita itu tersenyum manis ke arah Ibu, melangkah masuk tanpa permisi, dan dengan sengaja menabrak bahu Fitri hingga istriku nyaris terhuyung jika aku tidak sigap menahannya.


Lalu, wanita itu menatapku dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca, tangan kirinya bergerak mengelus perutnya yang masih rata dengan lembut.


"Mas Putra," rengek wanita itu dengan suara manja yang menggema di seluruh ruang tamu. 


"Aku hamil anak kita, Mas. Sesuai janjimu, kapan kamu akan menceraikan perempuan mandul ini?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suamiku Selalu Menghilang Tengah Malam. Saat Dia Pulang, Dia Membawa Uang Gepokan. Beberapa Hari Setelahnya, Anakku Meninggal. Jangan-Jangan Suamiku....

  "Dua ratus juta. Cukup untuk modal toko baru kita 'kan, Dek? Kenapa kamu malah menangis terus? Relakan saja, toh kita masih bisa ...