Senin, 27 April 2026

(8) Mertua Miskinku Mewariskan Ruko Kecil yang Sudah Mau Roboh. Kami Kira Ruko itu Tak Ada Isinya. Saat Mau Pindah, Isinya Ternyata adalah...

 


"Mari kita saksikan puncak kejayaan keluarga ini! Malam ini adalah bukti nyata, bahwa mereka yang tidak punya apa-apa akan selamanya berada di bawah telapak kaki kita, meratapi nasib di bangunan reyot pinggiran kota, sementara kita menikmati kemewahan dunia tanpa batas!"


Suara angkuh Paman Darmawan menggelegar dari atas panggung ballroom hotel bintang lima miliknya, diiringi riuh tepuk tangan ratusan tamu undangan. 


Pria paruh baya itu berdiri dengan dada membusung, memamerkan setelan jas mahalnya di bawah kilauan lampu kristal raksasa. 


Para pengusaha dan sosialita yang hadir tampak mengangguk setuju, menikmati hidangan kelas atas dan alunan musik orkestra yang sengaja disewa khusus untuk merayakan apa yang Paman Darmawan sebut sebagai 'kemenangan mutlak'.


Sementara itu, tepat di balik pintu ganda ballroom berbahan kayu jati tersebut, aku dan Mas Deon berdiri dalam diam.


Mas Deon memutar tubuhnya menghadapku. Sorot matanya yang tadinya dingin sedingin es, seketika melembut bagai tatapan lautan teduh saat menatap wajahku. 


Dengan gerakan perlahan yang penuh kasih sayang, ia merapikan anak rambut yang jatuh di pelipisku, lalu mengecup keningku cukup lama.


Perlakuan manisnya ini selalu sukses membuat jantungku berdebar tak karuan.


"Gugup, Nyonya Besar?" godanya lembut, mencubit pelan ujung hidungku.


Aku menggeleng pelan sambil tersenyum, menyandarkan pipiku di telapak tangannya yang hangat. 


"Selama aku menggenggam tangan Mas, aku nggak akan pernah takut."


"Gadis pintar," puji Mas Deon dengan senyum menawan yang meluluhkan hati. Ia lalu menautkan jemari kami, menggenggamnya erat, seolah memberikan seluruh kekuatan yang ia miliki padaku.


Tepat pada detik itu, Albert melangkah mendekat. Di tangannya terdapat sebuah tablet tipis.


"Tuan Muda," Albert menunduk hormat. "Semua persiapan sudah selesai. Lima menit yang lalu, seluruh aset dan hak kepemilikan bangunan ini sudah resmi dibayar tunai tanpa sisa. Nama tempat ini sudah berganti menjadi 'Grand Vina Hotel'. Anda dan Nyonya Vina adalah pemilik tunggal malam ini."


Aku menahan napas. Mataku membelalak menatap Mas Deon. Ia baru saja membeli gedung semegah ini dan menamainya dengan namaku?


"Kerja bagus, Albert," sahut Mas Deon tenang. Seringai tipis yang mendominasi kembali tercetak di sudut bibirnya. 


"Sekarang, buka pintunya. Mari kita beri kejutan pada pamanku yang sedang berbahagia itu."


Dua daun pintu raksasa itu terbuka lebar. Kehadiran kami yang begitu tiba-tiba langsung menyita perhatian seluruh penjuru ruangan. Alunan musik orkestra berhenti mendadak, digantikan oleh keheningan total.


Langkah Mas Deon begitu tegap dan penuh wibawa saat menuntunku berjalan di atas karpet merah.


Penampilan kami yang dibalut pakaian desainer kelas dunia dan perhiasan berlian murni menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya. 


Kami sama sekali tidak terlihat seperti orang susah. Aura kekuasaan yang menguar dari Mas Deon membuat para tamu otomatis menyingkir, memberi jalan bagi kami berdua.


Di atas panggung, senyum Paman Darmawan memudar. Matanya menyipit, lalu sedetik kemudian tawanya meledak, memecah keheningan.


"Astaga! Lihat siapa yang datang! Keponakanku tersayang, Deon, dan istrinya!" seru Paman Darmawan dari mikrofon, sengaja menarik perhatian semua orang. 


"Hebat sekali kalian. Uang dari mana yang kalian pakai untuk menyewa baju-baju mewah itu, hah? Apa kalian sengaja datang kemari untuk mengemis sisa makanan dari dapur hotelku?"


Para tamu mulai berbisik-bisik. Beberapa bahkan ikut tertawa merendahkan, termakan oleh provokasi Paman Darmawan.


Mas Deon tidak membalas. Ia terus melangkah dengan tenang hingga kami berdiri tepat di depan panggung. Ketenangan Mas Deon justru membuat Paman Darmawan semakin ingin mempermalukannya.


"Karena kalian sudah telanjur masuk kemari dan mengotori karpet merahku, kebetulan sekali!" Paman Darmawan berkacak pinggang, menatap kami dengan tatapan paling meremehkan. Ia menunjuk ke arah sepatunya yang mengilap. 


"Petugas kebersihanku sedang sibuk. Kemarilah, Deon. Berlutut dan bersihkan sepatuku dengan jas sewaanmu itu. Kalau hasilnya bersih, aku akan menyuruh koki membungkuskan makanan untuk kalian bawa pulang ke ruko reyot itu. Bagaimana?"


Suasana ballroom semakin riuh oleh tawa ejekan. Aku mengepalkan tangan, nyaris kehilangan kesabaran melihat pria paruh baya itu menghina suamiku di depan umum. 


Namun, Mas Deon justru tertawa pelan. Tawa yang sangat dingin dan menusuk.


"Membersihkan sepatumu?" Mas Deon mengulang kalimat itu dengan nada rendah yang menggema. 


"Aku khawatir, sebentar lagi kau bahkan tidak akan punya sepatu untuk dipakai, Darmawan."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suamiku Selalu Menghilang Tengah Malam. Saat Dia Pulang, Dia Membawa Uang Gepokan. Beberapa Hari Setelahnya, Anakku Meninggal. Jangan-Jangan Suamiku....

  "Dua ratus juta. Cukup untuk modal toko baru kita 'kan, Dek? Kenapa kamu malah menangis terus? Relakan saja, toh kita masih bisa ...