Senin, 27 April 2026

(9) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Uang ganti rugi puluhan miliar itu mungkin sangat menggiurkan bagi kalian berdua. Tapi bagiku, melihat kalian bertekuk lutut mengemis di atas tanah tempatku dan Bintang dulu kelaparan, jauh lebih bernilai dari nominal mana pun di atas kertas itu."


Suara Sari mengalun lembut, namun ketegasannya seakan membekukan seisi ruang tamu. 


Pak RT dan dua perwakilan pihak pengembang saling berpandangan dengan canggung, tak berani ikut campur dalam ketegangan keluarga konglomerat di hadapan mereka.


Mbak Rini yang tadinya menatap dokumen penawaran dengan mata berbinar serakah, kini menunduk dalam-dalam. Wajahnya memerah padam menahan amarah dan rasa malu yang luar biasa. 


Seragam abu-abu yang membalut tubuhnya seolah menjadi saksi bisu betapa ia tak lagi memiliki kekuatan apa pun untuk mendebat Nyonya Besar di rumah ini.


Ibuku bahkan tak sanggup berkata-kata. Ia hanya meremas ujung celemeknya dengan tangan gemetar, menyadari bahwa peluang emas untuk kembali menguasai harta Danu telah tertutup rapat, digembok langsung oleh wanita yang dulu selalu ia hina sebagai pembawa sial.


"Jadi, bagaimana keputusannya, Nyonya Sari?" tanya perwakilan pengembang memecah keheningan, suaranya sangat sopan dan berhati-hati.


Sari menoleh ke arahku, seolah meminta persetujuan. 


Aku hanya tersenyum hangat, menatap lurus ke dalam matanya yang kini memancarkan kepercayaan diri. Kulingkarkan lenganku di pinggangnya, memberinya kekuatan penuh.


"Lakukan apa pun yang kamu mau, Sayang. Itu hak penuhmu," bisikku tepat di telinganya, memastikan ibu dan kakakku mendengarnya. 


Sari mengangguk mantap. Ia kembali menatap para tamu. 


"Saya setuju untuk melepaskan lahan itu. Silakan proses surat-suratnya melalui asisten suami saya, dan pastikan seluruh dana pembayarannya ditransfer ke rekening yayasan panti asuhan yang nanti akan saya tunjuk. Saya tidak butuh uang itu untuk diri saya sendiri."


Mata Mbak Rini terbelalak ngeri. 


"Y-yayasan?! Sari, kamu gila?! Itu uang puluhan miliar! Kamu mau membuangnya begitu saja sementara keluargamu sendiri sedang terjerat utang?!"


Sari menatap Mbak Rini dengan sorot mata sedingin es. 


"Keluarga? Seingatku, keluargaku hanyalah Mas Danu dan Bintang. Sisanya, hanyalah orang-orang yang berutang kepadaku dan harus membersihkan toiletku setiap pagi."


Telak. Mbak Rini seketika bungkam. Mulutnya terbuka, namun tak ada satu pun suara protes yang berani keluar, terutama saat Galen, asisten pribadiku, berdehem pelan sambil melirik arlojinya, sebuah peringatan halus bahwa jam kerja membersihkan rumah belum selesai.


Setelah urusan dengan pengembang selesai dan para tamu pulang, aku menarik Sari ke pelukanku. 


Di sudut ruangan, Bintang sedang asyik tertawa menyusun balok lego barunya. Rasa damai perlahan memenuhi rongga dadaku. 


Enam tahun penuh siksaan rindu dan kerja keras kini terbayar lunas saat melihat bidadariku kembali tersenyum tanpa beban.


"Kamu hebat," bisikku, mengecup puncak kepalanya lama. "Mulai sekarang, jangan pernah tundukkan kepalamu untuk siapa pun."


Sari membalas pelukanku dengan erat, menyandarkan kepalanya di dadaku. 


"Terima kasih, Mas. Kalau bukan karena kamu ..."


Belum sempat Sari menyelesaikan kalimat manisnya, langkah sepatu pantofel yang beradu cepat dengan lantai pualam menginterupsi kami. 


Galen berjalan mendekat dengan raut wajah yang tak biasa. Ia membawa sebuah tablet yang menampilkan deretan grafik keuangan rumit.


"Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan Danu," ucap Galen dengan nada suara yang direndahkan, melirik sekilas ke arah Mbak Rini yang sedang mengepel lantai di dekat tangga.


"Ada apa, Galen?" tanyaku.

Galen menggeser layar tabletnya, lalu menatapku dan Sari bergantian dengan tatapan tajam.


"Tim audit kita baru saja berhasil melacak aliran sisa dana lima miliar milik Nyonya Rini. Ternyata selama ini ia tidak hanya berfoya-foya sendirian, melainkan membelikan apartemen mewah dan mobil sport untuk seorang pria pengangguran, yang tak lain adalah mantan tunangan Nyonya Sari."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar