Senin, 27 April 2026

(4) Kukurung Istriku di Dalam Mobil Saat Mau Menikah dengan Selingkuhanku. Tapi Betapa Kgetny Aku saat Istriku Muncul dengan....

 


"Dua ratus miliar?! Jangan bercanda! Perempuan yang kerjanya cuma ngabisin beras di rumah itu mana punya uang sebanyak itu, Galen! Dia pasti nyewa aktor buat nakut-nakutin kita, kan?!"


Jeritan melengking Ibu mengalahkan suara deru hujan malam itu. Tangan keriputnya menunjuk-nunjuk layar tablet yang dipegang oleh pria berjas hitam di hadapan kami, sementara matanya melotot tak percaya.


Salah satu pengawal Zea itu hanya mendengus geli, menarik kembali tabletnya dengan gerakan cepat. 


"Nona Muda Adhitama tidak butuh aktor sewaan untuk menyingkirkan benalu seperti kalian. Nikmati malam pertama kalian di luar sana."


Tanpa basa-basi lagi, ketiga pria bertubuh tegap itu membalikkan badan, masuk ke dalam lobi apartemen yang hangat, dan mengunci pintu kaca dari dalam. 


Meninggalkan aku, Ibu, dan Sinta yang menggigil kedinginan di pelataran yang banjir.


"Galen! Lakukan sesuatu! Baju Sinta basah semua, ini keluaran brand terkenal, Mas!" rengek Sinta sambil menghentakkan kaki, tak peduli sepatu hak tingginya yang berlumpur. 


"Kita sewa hotel sekarang! Aku nggak mau tidur di luar!"


"Pakai uang apa, Sinta?!" bentakku, rasa frustrasi akhirnya meledak. Aku mengusap wajahku yang basah oleh air hujan dengan kasar. 


"Semua rekening Mas diblokir. Kartu kredit ditarik. Uang di dompet Mas cuma sisa lima puluh ribu!"


Ibu langsung terduduk lemas di genangan air, memegangi dadanya yang naik turun. Wajahnya yang tadi penuh amarah kini berubah pucat pasi. Realita mulai menghantam kewarasan kami. 


Dalam sekejap mata, dari keluarga terpandang yang tinggal di apartemen miliaran, kami terbuang menjadi gelandangan sungguhan. 


Malam itu, dengan sisa uang lima puluh ribu, aku terpaksa menyeret Ibu dan Sinta berteduh di sebuah emperan toko yang sudah tutup, duduk meringkuk kedinginan di atas ubin semen yang sedingin es.


***


Sementara itu, di sebuah , penthouse super mewah di lantai tertinggi gedung pencakar langit Adhitama, Zea berdiri anggun di depan jendela kaca raksasa, menatap gemerlap lampu ibu kota di bawah kakinya. 


Gaun merahnya yang menawan berkibar pelan terkena hembusan pendingin ruangan. Tidak ada setetes pun air mata di wajah cantiknya. 


Selama dua tahun ia menyembunyikan identitas, berpura-pura menjadi wanita miskin yang penurut demi menuruti wasiat mendiang kakeknya untuk mencari ketulusan hati, malam ini sandiwara melelahkan itu akhirnya usai.


Langkah kaki mantap terdengar mendekat dari belakang. Seorang pria jangkung dengan setelan jas abu-abu custom-made berhenti tepat di samping Zea. 


Wajahnya dipahat sempurna bak dewa Yunani, dengan sorot mata tajam namun seketika melembut saat menatap wanita di sebelahnya. 


Dia adalah Arkan, tangan kanan paling dipercaya di Adhitama Group, sekaligus pria yang diam-diam memendam rasa pada Zea sejak mereka remaja.


Arkan menyampirkan sebuah jas hangat ke bahu Zea yang terbuka, sentuhannya penuh kehati-hatian layaknya menyentuh porselen berharga.


"Misi penyamaranmu sudah selesai, Zea," ucap Arkan dengan suara baritonnya yang berat dan lembut. 


"Berapa lama lagi kau akan membiarkan bayang-bayang pria itu mengganggu pikiranmu? Apa sekarang aku sudah diizinkan untuk masuk dan menggantikan tempatnya?"


Zea memutar tubuhnya perlahan, membiarkan kehangatan jas Arkan menyelimuti bahunya sebelum menoleh pada pria tampan yang selalu setia melindunginya itu. 


Sebuah senyum miring, penuh teka-teki, terukir di bibirnya yang merah.


"Biarkan dia menyesali kebodohannya di jalanan malam ini, Arkan. Karena besok pagi, aku butuh Mas Galen melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa posisi yang dia buang sia-sia, kini sudah diisi oleh pria yang jauh lebih sempurna." 


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar