"Hamil empat bulan?! Jangan mencoba merusak akal sehatku, Jannah! Aku dan Restu baru mulai berhubungan di belakangmu tiga bulan yang lalu! Katakan padaku, bayi siapa yang sedang dikandung perempuan penipu ini?!"
Teriakan Hakim menggelegar hingga urat-urat di lehernya seakan mau putus.
Matanya yang merah menatap perut Restu dengan kilat kengerian dan amarah yang tak terbendung.
Kedua tangannya yang terborgol berusaha menggapai kerah baju wanita itu, namun dua penyidik dengan sigap menekan bahunya kembali ke kursi.
Hakim meronta-ronta seperti orang gila. Kesombongannya hancur, harga dirinya diinjak-injak, dan kini kelaki-lakiannya ditampar telak oleh kenyataan.
Restu, yang menyadari rahasia terbesarnya sudah terbongkar, memundurkan kursinya dengan wajah pias. Namun, bukannya meminta maaf, sifat aslinya sebagai wanita oportunis justru meledak keluar.
"Iya! Ini memang bukan anakmu! Terus kenapa?!" pekik Restu tak kalah histeris, menatap Hakim dengan tatapan penuh kebencian.
"Kamu pikir aku sungguhan cinta padamu, hah?! Laki-laki egois yang bisanya cuma menyombongkan harta istri sahnya! Aku cuma butuh uangmu untuk biaya periksa kandunganku dan gaya hidupku! Kamu itu tidak lebih dari sekadar mesin ATM berjalanku yang bodoh, Hakim!"
Hakim terdiam kaku. Mulutnya terbuka, napasnya tersengal, tapi tak ada satu patah kata pun yang keluar.
Tamparan tak kasat mata dari Restu membuat seluruh pertahanannya runtuh.
Pria yang dulu merasa menjadi raja karena berhasil menaklukkan dua wanita, kini menyadari bahwa dialah badut sesungguhnya dalam pertunjukan ini.
Aku berdiri dengan anggun, menyapu debu imajiner di lengan blazer-ku. Menonton mereka saling mencabik sudah cukup menghiburku siang ini.
"Selamat menikmati sisa hari kalian berdua," ucapku dengan senyum tipis, lalu berbalik melangkah keluar dari ruang interogasi.
Suara isak tangis pilu Hakim yang menyesali kebodohannya mengiringi langkah kakiku. Sebuah melodi yang sangat indah.
***
Setibanya di kantor, Pak Dirman sudah menungguku di depan pintu ruangan Direktur Utama dengan laporan di tangannya.
"Bagaimana progres karyawan kebersihan baru kita, Pak Dirman?" tanyaku santai sambil duduk di kursi kebesaranku.
"Ibu mertua Anda sempat pingsan di lantai empat puluh setelah dipaksa menguras toilet eksekutif oleh kepala housekeeping, Bu," lapor Pak Dirman tanpa ekspresi.
"Beliau menangis dan memohon-mohon minta diberi makan karena sedari pagi belum sarapan."
Aku menyesap teh hangatku perlahan.
"Berikan dia segelas air putih dan satu potong roti tawar sisa kemarin. Setelah dia sadar, pastikan dia kembali memegang sikat lantai. Dia tidak boleh pulang sebelum seluruh lobi lantai dasar sampai lantai delapan puluh berkilau. Kalau dia menolak, ingatkan dia soal hutang lima belas miliar putranya yang harus dia lunasi."
"Baik, Bu Jannah. Laksanakan."
Dendamku pada ibu mertua yang selama tiga tahun ini menginjak-injak harga diriku, menghinaku kusam, dan memperlakukanku seperti pembantu di rumahku sendiri, perlahan mulai terbayar lunas.
Biar wanita tua itu merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi debu di bawah telapak kaki orang yang dulu ia rendahkan.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari orang suruhanku yang bertugas menyelidiki latar belakang Restu.
Pesan itu berisi sebuah foto tangkapan layar dari kamera CCTV rumah sakit bersalin sebulan yang lalu.
Di foto itu, Restu tampak bergandengan tangan mesra dengan seorang pria saat keluar dari ruang USG.
Aku tersenyum lebar. Semua ini ternyata jauh lebih lucu dari yang kuduga.
Tanpa membuang waktu, aku memerintahkan asistenku untuk mencetak foto tersebut dan mengirimkannya langsung ke dalam sel tahanan Hakim hari ini juga, lengkap dengan sebuah pesan singkat dariku yang akan menjadi mimpi buruk terburuk bagi mantan suamiku itu sebelum ia memejamkan mata di balik jeruji besi malam ini.
Di dalam sel tahanan yang dingin dan bau pesing, Hakim meringkuk memeluk lututnya di sudut ruangan. Ia baru saja menerima sebuah amplop cokelat dari sipir jaga.
Dengan tangan bergetar dan air mata yang belum mengering, ia membuka amplop itu.
Matanya terbelalak sempurna melihat foto Restu yang sedang tersenyum bahagia sambil mengelus perutnya, bersandar mesra di bahu seorang pria yang sangat Hakim kenal. Di balik foto itu, terdapat tulisan tanganku dengan tinta merah menyala.
"Menangislah sekeras yang kamu mau, Mas. Tapi lihatlah baik-baik foto pria yang menemani Restu mengecek kandungan ini. Lucu sekali, ya? Kamu rela merampok perusahaanku, membiarkan ibumu jadi babu, dan membusuk di penjara, hanya untuk membiayai anak dari Rendi, sahabat karibmu sendiri yang tadi malam menolak meminjamimu uang."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar