Minggu, 26 April 2026

(4) Kulempari Istriku dengan Batu dan Kuteriakkan dia Gila, karena Tak Mau Membantu Acara Keluargaku. Aku Malu punya Istri Seperti Dia. Tapi saat Aku Pulang, Kemana Dia? Siapa Istriku Sebenarnya...

 


"Mas Baskara gila?! Menampungmu di sini bersama ibu dan adikmu yang banyak gaya ini? Cih! Aku ini butuh laki-laki berdompet tebal, Mas, bukan gembel pesakitan yang baru saja ditendang dari rumahnya sendiri!"


Suara melengking Viona menggema di lobi apartemen mewah itu, membuat beberapa penghuni lain menoleh dengan tatapan jijik. 


Baskara mematung. Tangan yang sedari tadi hendak menggapai lengan Viona kini menggantung kaku di udara. 


Di belakangnya, sang ibu dan Ziva terduduk lemas di lantai marmer lobi, hanya ditemani tiga kantong plastik hitam berisi baju bekas yang sempat mereka selamatkan saat pengawal Reyhan menyeret mereka keluar rumah.


"V-Viona Sayang, jaga ucapanmu. Ini cuma sementara," suara Baskara bergetar, memelas dan putus asa. 


"Kinan hanya sedang bermain gila. Aku akan menyewa pengacara hebat untuk menuntutnya, dan kita akan merebut semuanya kembali!"


"Menuntut pakai apa, hah?!" Viona menepis kasar tangan Baskara hingga pria itu terhuyung. 


"Bayar taksi ke sini saja kau harus mengemis pada satpam! Kau pikir aku tidak menonton video viralmu itu? Seluruh Indonesia sudah tahu kalau kau cuma benalu yang hidup dari uang istrimu! Jangan pernah berani memanggilku 'sayang' lagi, dasar laki-laki miskin memalukan!"


"Jaga mulutmu, perempuan murahan!" Ibu Baskara yang tak terima langsung bangkit, menunjuk tepat ke wajah Viona dengan jari telunjuknya yang gemetar. 


"Gara-gara kau anakku jadi seperti ini! Beraninya kau menghina Baskara setelah semua barang mewah yang dia belikan untukmu?!"


Viona tertawa keras, tawa penuh ejekan yang sangat menyayat telinga. 


"Barang mewah yang dibeli pakai uang istri sahnya? Maaf saja, Nyonya Tua, aku tidak sudi! Lagipula, laki-laki bodoh ini yang mengejarku. Sekarang setelah kalian jadi gelandangan, jangan harap bisa menumpang hidup di apartemen elitku!"


Viona melambaikan tangannya ke arah meja resepsionis. 


"Pak Satpam! Tolong usir tiga gembel ini dari lobi, mereka mengganggu pemandangan dan membuat udaranya jadi bau tanah!"


Dua petugas keamanan bertubuh besar segera mendekat, mencekal lengan Baskara dan ibunya dengan kasar. 


Baskara memberontak, air mata penghinaan menetes dari sudut matanya. Dia, Baskara, pria yang baru semalam merasa seperti raja dunia, kini diseret layaknya tumpukan sampah oleh wanita yang paling ia agungkan.


Namun, sebelum petugas keamanan itu sempat melempar Baskara ke luar pintu kaca, sebuah mobil mewah hitam mengkilap berhenti tepat di pelataran lobi VIP.


Semua pergerakan terhenti. Viona bahkan menahan napas melihat mobil limited edition yang harganya tak masuk akal itu. 


Sang sopir turun lebih dulu, berlari memutar dan membukakan pintu penumpang. Reyhan, pria berjas rapi yang mengusir Baskara dari rumah, melangkah keluar. 


Dengan sikap sangat hormat, Reyhan mengulurkan tangannya ke dalam mobil.


Sebuah sepatu hak tinggi berwarna merah maroon menyentuh aspal, disusul oleh kemunculan seorang wanita dengan dress elegan membalut tubuhnya. Riasan wajahnya sempurna, memancarkan aura mahal, dingin, dan tak tersentuh.


Baskara berhenti bernapas. Jantungnya seolah ditikam ribuan jarum. Ibunya membelalakkan mata hingga nyaris pingsan, sementara Ziva hanya bisa menutup mulutnya yang menganga.


Itu Kinan.


Bukan Kinan yang dekil, menunduk, dan selalu mengenakan daster pudar. 


Ini adalah Kinanti Larasati yang sesungguhnya. Wanita itu melangkah masuk ke dalam lobi dengan anggun, diiringi beberapa pengawal di belakangnya. 


Tatapannya lurus, tajam, dan langsung menusuk tepat di ulu hati Baskara.


Kinan berhenti hanya beberapa jangkah dari kerumunan itu. Dia melirik Baskara yang berantakan, lalu menatap Viona yang kini pucat pasi melihat kecantikan luar biasa sang istri sah. 


Senyum sinis terukir di bibir Kinan, indah namun sangat mematikan.


"Seret mereka bertiga keluar dari pelataranku, Pak Satpam. Ah, dan khusus untukmu Viona, segera kemasi barang-barangmu dari unit nomor 402, karena pelakor rendahan sepertimu tidak pantas menyewa di gedung apartemen milik Larasati Group."


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(4) Kulempari Istriku dengan Batu dan Kuteriakkan dia Gila, karena Tak Mau Membantu Acara Keluargaku. Aku Malu punya Istri Seperti Dia. Tapi saat Aku Pulang, Kemana Dia? Siapa Istriku Sebenarnya...

  "Mas Baskara gila?! Menampungmu di sini bersama ibu dan adikmu yang banyak gaya ini? Cih! Aku ini butuh laki-laki berdompet tebal, Ma...