Minggu, 26 April 2026

(4) Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...

 

"Kamu menjebakku, Istri Durhaka?! Kamu sengaja menyodorkan kertas sialan ini saat aku hampir mati dipukuli debt collector tiga tahun yang lalu?!" raung Mas Retno. 


Dengan wajah memerah padam bak kepiting rebus, ia menghempaskan map cokelat itu ke udara hingga lembaran-lembaran mutasi rekening dan perjanjian pisah harta kami berhamburan mengotori lantai.


Aku tak bergeming sedikit pun. Kusedekapkan kedua tanganku di dada, menatap tumpukan kertas di lantai itu seolah melihat sampah.


"Menjebak katamu?" Aku tersenyum miring. 


"Aku menyelamatkan nyawamu malam itu, Mas. Aku membayarkan puluhan juta utang judimu dengan syarat kau tak akan pernah bisa menyentuh aset pribadiku. Salahmu sendiri terlalu rakus pada uang tunai sampai tak sudi membaca apa yang kau cap jempol!"


"Retno! Apa maksud semua ini?!" Ibu mertuaku tiba-tiba menjerit histeris. Ia memunguti kertas-kertas itu dengan tangan gemetar, wajah keriputnya pias tak berdarah. 


"Jadi rumah ini murni milik Refi? Terus ... terus janji kamu yang mau menjadikan sertifikat rumah ini sebagai tambahan mahar untuk istrimu yang baru, itu bagaimana, Nak?!"


Deg.


Keheningan seketika menyergap ruang tamu. Aku menaikkan sebelah alis, menikmati pertunjukan gratis yang semakin menarik ini. 


Oh, jadi suamiku yang terhormat ini tidak hanya merampok tabunganku untuk resepsi, tapi juga menggadaikan rumahku untuk mahar? Luar biasa.


Perempuan berkebaya putih yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung Mas Retno perlahan melangkah maju. Matanya yang bulat kini membelalak ngeri, menatap Mas Retno dan Ibu mertuaku bergantian.


"Maksud Ibu apa?!" jerit istri baru itu dengan suara melengking yang memekakkan telinga. 


"Mas Retno bilang rumah ini atas namanya dan bakal langsung dibalik nama jadi namaku setelah resepsi! Mas, kamu bohongin aku?!"


Mas Retno gelagapan. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahinya. 


"S-sayang, dengerin penjelasan Mas dulu. Ini semua cuma salah paham. Istri gilaku ini yang sengaja memalsukan semuanya!"


"Tidak ada yang palsu di atas materai dan cap notaris, Mas," potongku cepat, melangkah maju dengan aura sedingin es. 


Kutarik napas panjang, meresapi kemenanganku di atas kehancuran ambisi mereka. 


"Waktu kalian tepat tiga puluh menit. Kemasi semua baju dan barang rongsokan kalian, atau aku yang akan membakarnya di halaman depan. Dan ingat, jangan bawa satu pun barang yang kubeli pakai uangku, atau kalian akan berurusan dengan polisi atas tuduhan pencurian!"


Ibu mertuaku langsung lemas dan terduduk di lantai, meratapi nasibnya yang harus kembali ke kampung. 


Sementara Mas Retno, dengan sisa-sisa harga diri yang sudah terinjak-injak, meraih koper besarnya dengan kasar. Ia menatapku dengan sorot mata penuh kebencian.


"Ayo kita pergi dari neraka ini, Sayang!" Mas Retno menarik paksa tangan istri barunya. 


"Biar saja perempuan mandul dan sombong ini mati membusuk sendirian. Aku janji akan buktikan kalau aku bisa membelikanmu istana yang jauh lebih mewah dari gubuk jelek ini!"


Namun, sebuah hempasan keras membuat langkah Mas Retno terhenti. Istri barunya baru saja menepis tangannya dengan kasar. 


Tatapan manja perempuan itu kini menguap tak bersisa, digantikan oleh kilat amarah dan rasa jijik yang luar biasa.


"Membelikan istana dari mana?!" teriak istri barunya tepat di depan wajah Mas Retno yang ternganga. 


"Mobil cicilan, resepsi ngutang, dan ternyata sekarang kamu gelandangan miskin?! Ceraikan aku detik ini juga, Laki-laki Kere!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(4) Kulempari Istriku dengan Batu dan Kuteriakkan dia Gila, karena Tak Mau Membantu Acara Keluargaku. Aku Malu punya Istri Seperti Dia. Tapi saat Aku Pulang, Kemana Dia? Siapa Istriku Sebenarnya...

  "Mas Baskara gila?! Menampungmu di sini bersama ibu dan adikmu yang banyak gaya ini? Cih! Aku ini butuh laki-laki berdompet tebal, Ma...