"Bawa pergi piring ini, Putra! Jangan paksa Ibu menelan masakan yang rasanya sama sekali tidak layak disajikan di rumah ini!"
PRANG!
Bantingan sendok dan garpu yang beradu keras dengan piring keramik membuat keheningan ruang makan pagi itu pecah seketika.
Aku mematung di kursi, sementara di seberang meja, Fitri, istri yang baru kunikahi enam bulan lalu, langsung menunduk dalam.
Kulihat jemarinya yang masih berbalut plester luka kini saling meremas kuat di atas pangkuan. Bahunya bergetar halus, menahan isak tangis yang mati-matian ia sembunyikan.
Lagi-lagi pemandangan ini terulang. Sayur lodeh dan ayam goreng yang sudah disiapkan Fitri sejak jam empat subuh dengan penuh peluh, ditolak mentah-mentah.
"Ibu, ini sudah kelewatan," ujarku pelan, berusaha menekan nada bicaraku agar tidak membentak wanita yang melahirkanku itu.
"Aku barusan makan, dan rasanya enak sekali, Bu. Bumbunya pas, ayamnya juga empuk. Apanya yang tidak layak?"
Ibu menatapku sinis, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Oh, jadi sekarang kamu mau mengajari ibumu menilai makanan? Lidahmu itu sudah dibutakan oleh cintamu pada perempuan ini, Putra! Makanan keasinan begini kamu bilang enak? Silakan saja kamu habiskan sendiri. Ibu lebih baik tidak makan seharian daripada harus menelan masakan istrimu!"
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Ibu beranjak dari kursi dan melenggang pergi meninggalkan ruang makan.
Aku menghela napas kasar, lalu segera berpindah duduk ke samping Fitri. Kuusap punggung istriku dengan lembut.
Hancur hatiku melihat bulir bening akhirnya lolos membasahi pipinya.
Ini bukan pertama kalinya. Entah mengapa, selalu saja ada alasan bagi Ibu untuk membenci masakan Fitri.
Terlalu asin, terlalu manis, bumbunya kurang meresap, padahal sungguh, masakan istriku selalu terasa istimewa di lidahku.
"Mas, apa masakanku seburuk itu?" lirih Fitri, menatap mataku dengan tatapan terluka yang membuat dadaku sesak.
"Aku sudah ikuti semua resep kesukaan Ibu yang Mas catat, tapi Ibu selalu marah."
"Ssst, jangan menangis, Sayang. Masakanmu enak, sungguh. Mungkin lidah Ibu sedang tidak enak badan," hiburku, mengusap air matanya, meski di dalam hati aku pun mulai merasa ada yang janggal dengan sikap Ibu.
Namun, rasa janggal itu berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa tepat pada sore harinya.
Sepulang dari kantor, aku sengaja mampir ke toko kue langganan untuk membelikan bolu kesukaan Fitri, berharap bisa mengembalikan senyumnya yang hilang sejak pagi.
Saat langkahku baru mencapai pagar rumah, samar-samar kudengar suara Ibu yang sedang asyik mengobrol dengan Bu Tejo dan beberapa ibu-ibu kompleks di teras samping.
Langkahku terhenti di balik pilar garasi saat namaku dan Fitri disebut-sebut.
"Aduh, Jeng. Pusing kepala saya mikirin nasib Putra. Punya istri kok ya ampun, malasnya kebangetan!" keluh Ibu dengan nada memelas yang terdengar sangat meyakinkan.
"Loh, masa sih, Bu Ningsih? Perasaan Mbak Fitri itu kelihatannya pendiam dan kalem loh," sahut Bu Tejo heran.
"Kalem di luar, Jeng! Aslinya? Boro-boro mau masakin suami, nyentuh panci di dapur saja dia tidak sudi! Kerjanya tiap hari cuma rebahan di kamar, dandan, main HP. Terpaksa saya yang sudah tua renta ini yang harus turun ke dapur tiap subuh masak buat Putra dan dia. Kadang saya sampai menangis sendiri di dapur, Jeng."
Darahku mendidih seketika. Kotak kue di tanganku nyaris penyok karena cengkeramanku yang menguat.
Ya Tuhan, sandiwara macam apa ini?
Setiap subuh aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Fitri berkutat di dapur, mengiris bawang sampai matanya perih, tangannya terkena cipratan minyak, hanya demi menyiapkan sarapan untuk kami.
Lalu Ibu membuangnya dengan alasan tidak enak. Tapi di depan orang luar, Ibu memutarbalikkan fakta dengan sangat kejam, mencetak reputasi istriku sebagai menantu durhaka yang pemalas!
Apa sebenarnya tujuan Ibu? Mengapa Ibu sangat membenci Fitri hingga tega memfitnahnya seperti itu?
***
Bab 2
Malam harinya, rasa penasaran, marah, dan curiga yang bercampur aduk membuatku tak bisa memejamkan mata. Jam di ponselku menunjukkan pukul satu dini hari.
Aku menoleh ke samping, menatap wajah lelah Fitri yang terlelap pulas. Guratan kelelahan tercetak jelas di wajah cantiknya.
Karena tenggorokan terasa kering, aku bangkit perlahan dan melangkah keluar kamar menuju dapur.
Rumah sudah sangat sepi dan gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu taman belakang yang menembus kaca dapur.
Namun, langkahku terhenti di ujung lorong. Ada bayangan seseorang di dapur.
Itu Ibu.
Ibu berdiri membelakangiku. Di depannya, terdapat panci berisi kuah kaldu sapi, persiapan bahan masakan yang sengaja dibuat Fitri malam tadi agar besok pagi ia bisa lebih cepat memasak soto kesukaan Ibu.
Aku menyipitkan mata, menahan napas saat melihat tangan Ibu bergerak menuangkan sesuatu dalam jumlah banyak dari sebuah toples ke dalam panci kaldu buatan Fitri. Garam.
Beliau menuangkan garam sebanyak itu ke dalam masakan menantunya sendiri.
Jadi, selama ini Ibu sengaja merusak rasa masakan Fitri sebelum disajikan?!
Kakiku baru saja akan melangkah maju untuk menegurnya, namun gerakanku terhenti saat melihat Ibu menjepit ponsel di telinga dan bahunya. Ia sedang menelepon seseorang di tengah malam buta begini.
Di tengah kesunyian malam yang mencekam, suara bisikan Ibu terdengar begitu jelas dan meremangkan bulu kudukku.
"Sabar sedikit lagi. Ibu pastikan besok pagi Putra akan semakin muak melihat wajahnya dan segera menceraikan perempuan miskin itu. Setelah itu, posisi nyonya di rumah ini akan mutlak menjadi milikmu."
***
"Pastikan hasil tes kehamilannya terlihat meyakinkan. Begitu Putra melihat bukti dua garis biru itu, dia pasti akan langsung membuang Fitri yang mandul itu demi merawat anak kandungnya darimu."
Tubuhku mematung seketika di ujung lorong yang gelap. Darahku seakan berhenti mengalir mendengar bisikan Ibu dari arah dapur.
Hamil? Tes kehamilan palsu? Membuang Fitri?
Jantungku berpacu gila-gilaan. Aku meremas ujung piyama dengan tangan gemetar, berusaha menahan diri agar tidak langsung menerobos masuk dan mengamuk detik itu juga. Nafasku memburu.
Skenario gila macam apa yang sedang Ibu susun bersama orang di seberang telepon itu?
Sejak kapan istriku yang baru dinikahi enam bulan divonis mandul? Dan yang paling membuatku muak, anak kandung dari siapa yang mereka maksud?
Sumpah demi Tuhan, seujung kuku pun aku tak pernah menyentuh wanita lain selain istriku yang sah!
Kudengar suara langkah kaki Ibu mendekat ke arah lorong. Aku segera berbalik dan mengendap-endap kembali ke kamar dengan dada bergemuruh hebat.
Di atas ranjang, kulihat Fitri masih tertidur pulas. Wajahnya yang damai menyiratkan kelelahan yang luar biasa. Kuusap pelan pipinya yang tirus.
Selama ini Fitri selalu memendam sendiri kesedihannya setiap kali Ibu menyindir soal momongan, dan kini, Ibu tega menggunakan titik terlemah Fitri itu sebagai senjata untuk menghancurkannya.
Tunggu saja, Bu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti istriku, batinku menggeram tertahan.
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar