Minggu, 26 April 2026

(7) Mertua Miskinku Mewariskan Ruko Kecil yang Sudah Mau Roboh. Kami Kira Ruko itu Tak Ada Isinya. Saat Mau Pindah, Isinya Ternyata adalah...

 


"Bersujudlah dan cium telapak kaki istriku sekarang juga, Siska. Lakukan dalam hitungan ketiga, atau aku pastikan bahkan tempat pembuangan sampah pun akan menolak raga kalian berdua malam ini!"


Suara Mas Deon menggelegar, dingin dan tanpa ampun, menyapu sisa-sisa debu reruntuhan di udara siang itu.


Siska yang tadinya masih meraung meratapi nasib mantan tunangannya, kini mendongak dengan wajah pias. 


Tubuhnya bergetar sehebat daun kering yang diterpa badai. Matanya yang biasanya menatap kami penuh ejekan, kini hanya memancarkan teror yang nyata. 


Ia menoleh ke arah ibunya yang masih terkapar pingsan di atas rumput, lalu menatap puluhan pengawal berjas hitam yang mengepung mereka dengan wajah datar menakutkan.


Tidak ada jalan keluar. Kesombongan wanita itu telah mati dihancurkan oleh kesombongannya sendiri.


Dengan air mata yang bercampur maskara luntur, Siska merangkak di atas rumput. Lututnya yang terbiasa bersentuhan dengan lantai marmer kini tergores batu dan debu. 


Ia perlahan merayap mendekatiku, menundukkan kepalanya yang dulu selalu mendongak angkuh, bersiap menyentuhkan bibirnya ke ujung sepatu hak tinggiku.


Namun, tepat sebelum bibirnya menyentuh ujung sepatuku, aku melangkah mundur.


"Jangan sentuh sepatuku, Siska," ucapku tenang, menatapnya dari atas ke bawah tanpa sedikit pun rasa kasihan. 


"Harga sepatuku ini jauh lebih mahal dari harga diri kalian berdua yang sudah hancur berkeping-keping. Debu di sepatuku tidak pantas dikotori oleh air matamu."


Siska mematung. Penolakan itu justru menjadi tamparan yang jauh lebih keras dan memalukan daripada membiarkannya bersujud. 


Ia menangis sejadi-jadinya, meremas rumput dengan tangan kosong, meratapi kehancuran total yang menimpa hidupnya hanya dalam waktu kurang dari satu jam.


Mas Deon tersenyum puas. Ia merangkul pinggangku posesif, tak lagi sudi membuang waktu melihat dua manusia yang kini resmi menjadi gelandangan tersebut. 


Kami tidak perlu mengotori tangan kami dengan kekerasan fisik, karena menghancurkan harta dan harga diri mereka adalah hukuman yang paling menyiksa bagi manusia serakah.


"Biarkan mereka meratap, Albert. Pastikan tidak ada satu pun hotel, kontrakan, atau kerabat yang berani menampung mereka," perintah Mas Deon seraya menuntunku masuk ke dalam mobil mewah yang sudah terbuka.



"Sesuai perintah Anda, Tuan Muda," Albert menunduk hormat.


Pintu mobil ditutup, mengisolasi kami dari suara tangisan histeris di luar sana. 


Konvoi mobil mewah kami perlahan bergerak meninggalkan pekarangan yang kini tak ubahnya seperti area proyek yang terbengkalai. 


Reruntuhan rumah mewah itu menjadi monumen saksi bisu dari kejatuhan orang-orang yang tamak.


Di dalam kabin yang sejuk dan wangi, aku menyandarkan kepalaku di dada bidang Mas Deon. Napasku yang sedari tadi tertahan akhirnya berembus lega. 


Terbayang kembali masa-masa kelam saat kami harus makan nasi sisa kemarin, sementara Tante Hilda dan Siska memamerkan tas-tas baru mereka. Semua penderitaan itu kini tuntas terbayar.


"Kamu hebat, Sayang. Ibu pasti tersenyum melihat ketegasanmu di atas sana," bisik Mas Deon, mengecup puncak kepalaku dengan penuh kasih sayang.


"Semua ini karena Mas Deon," balasku pelan, memejamkan mata menikmati kenyamanan ini. "Apakah ini sudah selesai, Mas? Apa kita bisa hidup tenang sekarang?"


Mas Deon terdiam sejenak. Tangannya yang sedang mengusap lenganku tiba-tiba berhenti. Udara di dalam mobil mendadak terasa sedikit lebih tegang.


"Tuan Muda, kami baru saja berhasil meretas sisa data dari ponsel Nyonya Hilda sebelum benda itu hancur," lapor Albert dari kursi depan, memecah keheningan kabin melalui layar interkom. 


"Ternyata, Nyonya Hilda hanyalah pion. Ada dalang utama yang menyokongnya dari belakang dan menyuruhnya membuat Anda dan Nyonya Vina hidup menderita di jalanan selama ini."


Aku tersentak, seketika menegakkan tubuh. Mas Deon kembali mengusap rambutku dengan lembut, berusaha menenangkanku, namun sorot matanya dari pantulan kaca spion kini menajam.


"Sebutkan nama pengkhianat itu, Albert."


"Paman kandung Anda sendiri, Tuan. Dan malam ini, beliau sedang menggelar pesta besar-besaran di ballroom hotel bintang lima miliknya untuk merayakan kejatuhan Anda, karena beliau mengira Anda masih kelaparan di ruko reyot itu."


Sebuah seringai tipis perlahan tercetak di sudut bibir Mas Deon. Ketenangannya justru memancarkan aura dominasi yang luar biasa.


"Bagus. Beli kepemilikan hotel bintang lima itu secara tunai dalam waktu lima belas menit, Albert. Kita akan datang ke pesta kemewahannya malam ini, dan memastikan pamanku yang terhormat itu turun kasta menjadi tukang pel lantai untuk tamu-tamunya sendiri."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

  "Bawa pergi piring ini, Putra! Jangan paksa Ibu menelan masakan yang rasanya sama sekali tidak layak disajikan di rumah ini!" PR...