Selasa, 28 April 2026

(13) Selingkuhan Suamiku Mempermalukanku di Arisan. Dia Tidak Tahu Saja Kartu Kredit yang Dipakai Suamiku adalah Milikku. Akan Kubuat Mereka Menyesal!

 


"Terima kasih sudah membiayai susu hamil yang mahal dan membelikan tas-tas branded untuk ibu dari anakku, Bro. Sebagai sahabat yang tahu balas budi, aku janji akan rutin mengirimkan foto USG bayi kami ke sel tahananmu ini sampai dia lahir nanti."


Suara tawa Rendi yang renyah dan penuh kemenangan menggema di ruang jenguk kepolisian pagi itu. 


Di balik kaca pembatas, pria yang selama bertahun-tahun dianggap Hakim sebagai saudara kandungnya sendiri itu duduk menyilangkan kaki dengan santai, memamerkan jam tangan mewah di pergelangannya, jam tangan yang Hakim pinjamkan padanya bulan lalu dan belum dikembalikan.


Mata Hakim melotot nyaris keluar dari rongganya. Wajahnya yang pucat dan tirus akibat kurang tidur kini memerah padam layaknya kepiting rebus. 


Tangan Hakim yang terborgol mencengkeram gagang telepon interkom dengan gemetar hebat.


"Rendi, kurang ajar kau! Aku selalu membantumu saat kamu susah! Tega-teganya kamu menusukku dari belakang?!" raung Hakim dengan suara serak, air mata keputusasaan kembali mengalir di pipinya yang kotor.


"Menusuk dari belakang? Astaga, Hakim, kamu benar-benar pria paling naif sedunia." 


Rendi mendecak pelan, menggelengkan kepalanya seolah menatap orang bodoh. "


"Restu itu tunanganku, Hakim. Kami sudah merencanakan pernikahan sejak tahun lalu. Tapi karena kami butuh modal besar, Restu sengaja mendekatimu. Lagipula, siapa suruh kamu begitu gila hormat dan rajin pamer punya istri kaya raya yang perusahaannya bisa dikuras?"


Napas Hakim berhenti sejenak. Jantungnya seolah diremas oleh tangan tak kasat mata. 


Fakta bahwa ia bukanlah penakluk wanita, melainkan sekadar mangsa bodoh dari sepasang penipu, benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.


"Satu lagi, Hakim." Rendi mencondongkan wajahnya ke kaca pembatas, tersenyum mengejek. 


"Restu bersedia bersaksi memberatkanmu besok. Sebagai imbalannya, istrimu yang luar biasa cerdas itu berjanji tidak akan memperkarakan Restu lebih panjang. Istrimu benar-benar tahu cara menyiksa orang. Selamat menikmati sisa usiamu di penjara, Bro."


Mendengar itu, pertahanan Hakim runtuh seketika. Dengan teriakan binatang buas yang terluka parah, Hakim membanting gagang telepon, melompat ke atas meja, dan memukul kaca pembatas itu dengan kedua tangannya yang terborgol hingga buku-buku jarinya berdarah. 


Dua orang sipir langsung berlari masuk, lalu menyeret pria yang terus meronta dan menangis histeris itu kembali ke sel isolasi.


**"


Di saat yang sama, di lobi utama Grup Wiryawan yang megah, penderitaan tak kalah menyakitkan sedang dialami oleh wanita yang melahirkan Hakim.


Ibu mertua sedang mengepel area dekat pintu masuk kaca dengan tubuh gemetar menahan lapar dan encok di punggungnya. 


Seragam cleaning service-nya basah oleh keringat. Tangannya yang lecet-lecet mencengkeram gagang pel dengan sisa tenaga.


Tiba-tiba, pintu kaca terbuka otomatis. Sekelompok wanita paruh baya dengan pakaian modis, tas branded, dan perhiasan mencolok melangkah masuk ke lobi. 


Mereka adalah Tante Sarah dan rombongan ibu-ibu arisan elite yang sengaja kuundang hari ini dengan dalih rapat sponsor untuk acara amal yayasan mereka.


Tante Sarah melangkah paling depan. Ujung sepatu hak tingginya tanpa sengaja menginjak lantai yang baru saja dipel oleh ibu mertua.


"Heh, Babu! Kalau ngepel yang benar dong, licin tahu! Nanti kalau tas Hermes saya lecet jatuh bagaimana?!" omel Tante Sarah dengan nada tinggi, menatap jijik pada petugas kebersihan yang menunduk di dekat kakinya.


Ibu mertua membeku. Suara itu, ia sangat mengenal suara Tante Sarah. 


Dengan panik, wanita tua itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik topi seragamnya.


Namun terlambat. Tante Sarah yang penasaran menunduk, lalu memekik kaget hingga menutupi mulutnya dengan kedua tangan.


"Ya ampun! Jeng-jeng, coba lihat ini siapa?!" seru Tante Sarah heboh, menarik perhatian seluruh ibu-ibu arisan di belakangnya. 


"Ini kan Ibunya Hakim! Mertuanya Jannah yang kemarin sombong banget mamerin menantu barunya si Restu itu! Ya ampun, kok sekarang gembel begini jadi tukang pel di kantor Jannah?!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(5) Kukurung Istriku di Dalam Mobil Saat Mau Menikah dengan Selingkuhanku. Tapi Betapa Kgetny Aku saat Istriku Muncul dengan....

  "Tarik kembali tangan kotormu dari kerah bajuku, Galen! Kau pikir kau masih manajer di sini? Kau itu cuma gelandangan yang bahkan tak...